close

[Album Review] Kaos Kutang – Let’s Live without Major

10473613_727122564035367_3035765998204115992_n

Kaos Kutang – Lets Live without Major

Freakchords

Watchful Shot: Lets Live Without Major

[yasr_overall_rating size=”small”]

10473613_727122564035367_3035765998204115992_n

Kaos Kutang hadir lagi lewat album penuh keenamnya yang dirilis lewat label mereka sendiri. Lets Live Without Major menjadi bukti bagaimana sebuah band punk rock tetap bisa survive secara mandiri. Seperti biasa, Kaos Kutang tetap memainkan punk rock yang catchy dengan aroma hibrida Anti-Flag dan Nofx. Dan ya, tidak ada yang aneh jika hanya mendengarkan musiknya, namun membaca judul-judul lagunya saja akan meruntuhkan rasa kagum terhadap band paling produktif dari Kalimantan ini. Sayang sekali.

Band asal Samarinda ini sukses menyajikan penyakit terburuk yang pernah dialami umat manusia, yakni homophobia lengkap dengan fasisme. Simak judul “Fat Mike Sucks, Jewish Suck”.  ayolah, kalaupun Fat Mike sucks, apakah dia merepresentasikan seluruh Yahudi? Sungguh naif dan cupet sekali. ‘Dear our god, destroy jewish clan’ pada nomor “Strike Down Zionis” juga tak kalah menyebalkan, mengingatkan kembali  pada lagu “Fuck The Jews” di album kedua mereka. Kala itu saya masih husnudzon bahwa Kaos Kutang masih bingung membedakan zionis dan jews, namun album ini membuktikan dengan jelas bahwa Kaos Kutang adalah band fasis.

Hukum-hukum yang dikenal di Arab coba mereka kampanyekan lewat “Cut Their Hands Off”, bahwa seluruh pencuri harus dipotong tangannya, tanpa terkecuali. Berhati-hatilah para shoplifter! Di lagu ini mereka juga menentang penjara, bukan karena penjara itu sucks, tapi karena bagi mereka penjara masih memberikan makan gratis dan udara segar. Oh sepertinya lagu ini dibuat tanpa observasi sama sekali.

Setelah mendukung polisi atau otoritas untuk memotong tangan semua pencuri, Kaos Kutang memohon kepada negara untuk menutup prostitusi lewat “Shut Down The Prostitution”. Kebencian semakin digaungkan lewat “Keep Our Kids Away From Homosexual”, dimana berbunyi bait ‘educated our kids, explain to them that is abnormal’, sebagai satu lagi bentuk pola pikir sempit dari band yang sudah tidak lagi muda. Nomor “Rapist Must Die” menjadi satu-satunya protes yang masuk akal sehat.

Jika bisa dipisah dari lagu-lagu penebar kebencian, nomor-nomor seperti “Keep Pushing Forward”, “Friends of Our Lifes” dan “Lets Live Without Major” sebenarnya memenuhi alasan untuk menyatakan ini album yang keren. Sungguh disayangkan, melihat band–yang memainkan musik punk–paling produktif di Kalimantan ini menyuarakan hal-hal yang sangat tidak punk, menebar kebencian lengkap dengan alasan-alasan dangkal. Jika kita ingat tulisan di cover debut album mereka yang bertajuk  Take 1, 2 Or 3 of My Pills Cause You Wont Like em, di mana terdapat tulisan Kaos Kutang sucks,  terasa lebih cocok menjadi judul album keenam ini. Sori [Tomi Wibisono]

Tags : album reviewkaos kutang
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response