close

Karena Kita Serupa Keramik

JAW_Keramik Kejujuran Publik pic2

-rangkaian Jogja ArtWeeks (2015)-

jaw
jaw

Sebuah karya seni instalasi yang melibatkan 100 buah keramik rencananya akan dipamerkan di Jogja ArtWeeks (JAW) 2015 tanggal 9-27 Juni nanti. Saat ini, karya bertema ‘Kejujuran Publik’ tersebut masih berada dalam proses pembuatan, berpacu dengan sisa waktu menuju pameran yang kurang dari satu bulan.

Dyah Retno Fitriani, seniman di balik Kejujuran Publik, pada Selasa (12/5) berbaik hati menceritakan dan memperlihatkan proses pembuatannya. Kediamannya di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, menjadi tempat di mana karya tersebut dibangun. Salah satu makna utama dari karya ini, Dyah menjelaskan, adalah begitu esensialnya sebuah keseimbangan dan kejujuran dalam proses kehidupan manusia.

Menurut Bram Satya, seniman visual yang ikut menginisiasi JAW 2015, makna tersebut penting karena Dyah menggunakan material keramik sebagai unsur utama karyanya. “Bagaikan kehidupan proses membuat keramik itu panjang dan tidak instan,” tuturnya. Panjangnya proses itu terlihat dari bagaimana usaha Dyah melahirkan Kejujuran Publik.

Proses pembuatan karya diawali Dyah dengan menciptakan konsep. Setelah konsep selesai perempuan asal Medan ini membeli bahan utama keramik, yaitu tanah, di Unit Pelaksana Terpadu sentra kerajinan gerabah Kasongan (UPT Kasongan). Jenis tanah yang digunakan oleh Dyah dalam karyanya adalah tanah sukabumi. Karena dijual dalam bentuk bubuk, tanah masih harus diolah lagi supaya bisa digunakan. Caranya, dicampur dengan bahan seperti kaolin dan water glass.

Selagi menanti tanahnya siap, Dyah membuat cetakan keramik berbahan dasar gypsum. Ia harus membuat model cetakan sesuai konsep serta memastikan gypsum yang telah dicampur air benar-benar mengering dan siap digunakan. “Total ada enam cetakan yang aku buat,” ujarnya. Artinya, bakal ada enam bentuk keramik yang akan dihasilkan nantinya.

jaw
jaw

Setelah tanah dan cetakannya siap barulah proses pembentukan keramiknya dimulai menggunakan sistem cetak tuang. Tanah dimasukan oleh Dyah ke cetakan sampai ketebalan tertentu. Kemudian tanahnya dibuang lagi dan menyisakan tanah yang telah berbentuk sesuai desain cetakan. Tanah tersebut harus ditunggu agak mengering agar tidak robek ketika cetakan dibuka.

Keluar dari cetakan, tanah yang sudah berbentuk keramik kemudian didekorasinya dengan cara diukir atau ditambahkan hiasan. Setelah proses dekorasi selesai tanah harus dikeringkan selama satu minggu. Ketika kering barulah tanah dapat memasuki tahap pembakaran.

Pembakaran pertama atau pembakaran biskuit dilakukan di tungku dengan suhu 800oC. “Biasanya memakan waktu 7-9 jam,” jelas Dyah. Tanah yang telah mengeras setelah dibakar disebut sebagai biskuit. Proses pendinginan setelah pembakaran dilakukan dengan durasi yang kurang lebih sama dengan pembakaran agar biskuit tidak pecah ketika dikeluarkan dari tungku.

Agar keramik semakin kuat dan kedap air, Dyah melakukan pengglasiran terhadap biskuit. Proses pengglasiran dilakukan dengan menambahkan bahan glasir ke seluruh badan keramik. Kemudian tanah kembali dibakar selama 12-14 jam dengan suhu 1200oC. Setelah didinginkan keramik yang keluar dari tungku tersebut siap diaplikasikan menjadi instalasi.

Bramsatya menganalogikan panjangnya proses pembuatan tersebut dengan sederhana. Proses pembuatan konsep hingga pembakaran biskuit bagaikan proses manusia dari lahir hingga masuk SMA. Tahap glasir hingga pembakaran terakhir identik dengan masa perkuliahan. ”Seperti mahasiswa, keramik bisa berakhir tidak sesuai harapan tapi lebih menarik atau bisa menjadi seperti yang diharapan tapi tidak menarik”, tuturnya.

Proses panjang itulah yang juga membuat keramik mahal. “Ekspresinya hanya jadi sesuatu yang menempel karena prosesnya saja sudah sangat bernilai,” jelas Bram. Tidak hanya Dyah, ada 45 peserta JAW lain yang bisa dilihat perkembangan prosesnya melalui Twitter @JogArtWeeks, Facebook Jogja ArtWeeks, atau website http://www.jogartjournal.net/.

tulisan oleh: Farras Muhammad

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response