close

Kecenderungan dan Kemungkinan Pasca-Bandung Zine Fest 2016

7
BZF 2016
BZF 2016

Tulisan ini tidak akan membahas konsep, gagasan, dan substansi penulisan dalam suatu (produk) zines yang berwujud ‘sistematika penulisan’, ‘kualitas penulisan’, ‘relevansi tulisan’, dan  lain-lain, namun tulisan ini akan lebih mencermati kecenderungan dan pengemasan mayoritas (produk) zines yang menjadi poin utama sekaligus representasi festival ini.

Setelah melalui proses perencanaan dan persiapan ―ditambah perdebatan yang sempat disinggung di Disorder Zine dan Warning Magazine― akhirnya Bandung Zine Fest (selanjutnya disingkat BZF) kembali dihelat pada 27 Agustus 2016 di Spasial, Bandung.

Memang terdapat beberapa poin yang mungkin perlu dicermati oleh pihak panitia, kreator zines, hingga indivdu maupun komunitas yang memiliki kepetingan serta irisan dengan festival ini, namun ―meskipun lambat― sepintas BZF tahun ini telah mengalami perkembangan.

Perkembangan tersebut dapat dibaca dengan adanya proses kurasi. Beberapa orang berpendapat bahwa proses kurasi akan menyebabkan kesan BZF sebagai ‘kompetisi’ maupun ’festival yang menggunakan indikator ukuran’. Memang semua orang atau kelompok berhak memproduksi zines atau initiative media-nya sendiri, namun saya kira ada kalanya ‘ukuran’ menjadi penting apabila kita berbicara dalam konteks medan festival. Entah dalam indikator ‘produktifitas’, ‘konsistensi’, ‘maupun ‘kemasan’.

Saya menangkap festival tahun ini ―melalui pembacaan terhadap sebagian besar produk zines yang dipamerkan oleh beragam partisipan― dapat dikatakan mampu melampaui ‘nilai-nilai’ dari zines itu sendiri[1]. Salah satunya dapat dibaca dari maraknya penggunaan elemen visual ―dibandingkan elemen teks―maupun elemen warna yang mendominasi produk zines dalam BZF tahun ini. Begitu juga dengan maraknya penggunaan media kertas art paper yang ‘turut berkontribusi’ dalam proses ‘pelampauan nilai-nilai’ tersebut.

Maraknya penggunan elemen visual berwarna dalam BZF tahun ini mungkin berkait-kelindan dengan kecenderungan anak muda terkini yang gemar ‘bermain-main’ dengan ‘bahasa’ visual yang kerap kita temui dalam medan media sosial, baik facebook, twitter, pinterest hingga (terutama) instagram. Memang dari beberapa orang yang saya jumpai, cukup banyak yang ‘merindukan’ zines yang memproduksi beragam gagasan dalam wujud teks, baik dalam taraf personal, komunal, maupun politis. Mungkin ini memang zamannya.

BZF 2016
BZF 2016
BZF 2016
BZF 2016

Tentu kecenderungan tersebut bukanlah hal yang perlu diratapi bahkan ditangisi. Imajinasi masyarakat (terutama anak muda) dapat dikatakan memiliki kecenderungan yang dinamis dan selalu berubah dalam merespon zamannya. Mungkin ‘bahasa visual’ merupakan representasi ‘bahasa hari ini’ bagi anak muda dalam merespon zamannya. Pun, bagi anda yang menggemari ‘gagasan politis’ atau gagasan yang mampu ‘menangkap kenyataan’, mungkin dapat menemukan ‘keinginan anda’ dalam beberapa zines (yang diklaim) ‘semarak akan elemen visual’. Saya sendiri belum sempat membaca keseluruhan zines yang dibeli dari festival itu. Masih ada kemungkinan bukan?

Berbicara kemungkinan, saya jadi teringat pada diskusi “Geliat Media Alternatif Di Tengah Era Konvergensi Media”[2], salah satu pembicara mempertanyakan zines sebagai produk atau proses budaya. Tentu, apabila kita melihat zines sebagai produk budaya, mungkin zines akan ‘berhenti’ menjadi produk (media) belaka, lengkap dengan proses dan konteks historis yang mempengaruhi kemunculan produk yang kemudian diistilahkan sebagai zines[3]. Namun, apabila kita melihat zines sebagai proses budaya, saya kira penting untuk meredefinisi zines itu sendiri, entah melalui pembacaan-ulang terhadap proses historis dan budaya dalam konteks Indonesia atau mungkin sebagai siasat kebudayaan bagi ‘publik non-alternatif/non-subkultur’ untuk memproduksi medianya sendiri. Tentu banyak di antara kita yang (kadang-kadang) kesulitan apabila harus menjelaskan secara sederhana“Apa itu zines?” ke publik yang dapat dikatakan tidak familiar dengan istilah zines? Atau dengan pertanyaan mendasar seperti ini: “Apa sih bedanya zines dengan majalah, bulletin, pamflet fotokopian?” hingga “Lantas apa bedanya dengan blog?” Terlebih lagi apabila kita berefleksi pada gejala ‘pelampauan nilai-nilai’ zines di BZF 2016 dalam wujud ‘dominasi elemen visual’.

Pun, pada era kovergensi media ini, semua orang—baik individu maupun kelompok—dapat dikatakan mampu memproduksi dan mengkonsumsi beragam media, baik blog, website, maupun beragam kanal media sosial lainnya. Mungkin dengan redefinsi penamaan zines akan sedikit membantu publik yang lebih luas untuk sekedar katakanlah tertarik atau turut mempengaruhi proses budaya ini. Tentu akan lebih menarik bukan apabila festival ini disambangi oleh publik dengan cakupan yang lebih luas? Terbayang apabila terdapat media yang diproduksi oleh (katakanlah) pria berusia 40-tahunan yang bercerita tentang keluarganya, genealogi keluarganya, atau mungkin pertukaran gagasan yang terjadi keluarga besarnya. Atau anak muda yang lebih familiar dengan aktivitas ‘geng motor’ yang bercerita tentang aktivitas balap liarnya hingga pertarungan lahan ‘geng motor’-nya. Menarik bukan? Ah… namanya juga angan-angan.

BZF 2016
BZF 2016

Beragam momen historis tersebut mungkin perlu dicermati dan dapat dijadikan landasan dalam pembentukan wacana untuk perhelatan BZF berikutnya. Mungkin diskursus tersebut perlu dilakukan secara bertahap, entah dalam wujud presentasi, diskusi, simposium, maupun pertukaran gagasan di zines maupun wujud konvergensi media lainnya.

Tentu saja, kerja budaya bukanlah pekerjaan yang mudah.

Kamar Loteng, Cimahi, 9 September 2016

Teks oleh: Audry Rizki Prayoga

Foto oleh: Reno Surya [WARN!NG]

 

 

[1]Maksud dari ‘nilai-nilai zines’ itu sendiri yaitu ‘nilai-nilai yang bersifat pemfosilan’ dalam wujud ‘fotokopi hitam putih’, didistribusikan melalui ‘tangan-ke-tangan’, hingga penggunaan citra dan simbolyang hanya dapat dipahami oleh komunitasnya sendiri. Kecenderungan itu dapat dicermati dari mayoritas produk zines yang dipamerkan dalam perhelatan BZF sebelumya, beberapa lapakan zines di sejumlah gigs, lapakan komunitas di pameran seni tingkat perguruan tinggi, hingga kegiatan budaya lainnya.

[2]Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian pra-eventBandung Zine Fest 2016 yang diadakan di Kineruku, pada 20 Agustus 2016 yang lalu.

[3]Proses dan konteks historis yang mempengaruhi kemunculan isitilah zines (sebagai produk media), pertama kali muncul melalui komunitas fiksi ilmiah pada 1950-an dan menjadi produk media yang populer melalui perkembangan teknologi mesin fotokopi dan subkultur punkdi Amerika Serikat dan Britania Raya pada 1970-an. Di Indonesia sendiri, zines mulai diakses dan diproduksi melalui subkultur punk yang mulai muncul pada 1990-an di kota-kota besar di Indonesia. Di satu sisi, saya juga sedang mencoba untuk mengurai tegangan antara zines (melalui proses dan konteks historis subkultur barat di Indonesia) dengan tradisi initiative media dalam konteks Indonesia. Lebih lengkapnya lihat Duncombe, 2008; Tim Ayo Bikin Zine, 2006; Juliastuti dan Camelia, 2006; dan Prayoga, 2016.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response