close

[Movie Review] The Tree Of Life

tree_of_life_ver4_xlg

Tree of Life Moviea

“Tuhan. Di mana Kau? Taukah Kau? Siapakah kami bagi-Mu? Jawab aku. Kami menangis untuk-Mu. Jiwaku. Anakku. Dengar kami.”

– The Tree of Life –

Bagi yang masih percaya bahwa film adalah salah satu bentuk seni yang agung, maka film ini adalah tontonan wajib! Yakinlah bahwa The Tree of Life bukanlah filmnya Brad Pitt, Sean Penn, ataupun Jessica Chastain. Alih-alih si sutradara, Terrence Malick-lah yang menjadi bintang dari film impresionis berdurasi 139 menit ini. Malick, yang juga menulis naskahnya, mampu membuat penonton memiliki intepretasinya masing-masing dalam adegan per adegan yang suka meloncat-loncat dan tidak sesuai lini masa.

Sang sutradara arthouse ini mencoba menceritakan sebuah kisah sederhana, tentang kehidupan sebuah keluarga menengah di Texas pada sekitar tahun 1950-an. Sebenarnya, kisah berfokus pada kegalauan si anak pertama dari keluarga itu, Jack O’Brien (Sean Penn) yang telah hidup mapan pada tahun 2000-an. Jack yang merasa terjebak pada arus modernitas masa kini kemudian mengenang kembali keluarganya, ayahnya (Brad Pitt), ibunya (Jessica Chastain), kedua adiknya, dan Tuhannya.

Pohon kehidupan

Kehidupan diawali dengan berita meninggalnya anak kedua dari keluarga O’Brien. Mengapa demikian? Sebab dengan kematian itu, sang ibu tidak sekedar mem-flash back tentang kehidupan anak keduanya di masa lalu. Lebih jauh dari itu, ia memikirkan tentang awal terbentuknya alam semesta, mulai dari awal adanya kehidupan di bumi hingga si anak kedua itu lahir ke dunia. Di sinilah, menurut saya, adalah part terindah dalam film ini. Selama kurang lebih 20 menit, penonton dimanjakan oleh visualisasi tingkat dewa. Bagianspecial effect dan sinematografi telah menunaikan tugasnya dengan brilian. Apalagi tambahan score gospel orkestra yang megah, semakin menambah kesan dramatis.

Bagian terfavorit ini mencoba menjawab pertanyaan dari quote di awal tulisan, diucapkan oleh nyonya O’Brien yang mengalami kesedihan luar biasa. Oleh Malick diterjemahkan pula secara luar biasa: terbentuknya alam semesta dari gumpalan debu kosmik dan kilatan cahaya di ruang hampa, letusan dahsyat gunung berapi, dimulainya kehidupan dari sel, ubur-ubur yang berenang anggun di laut, kehidupan zaman Jurassic-Cretaceous yang diwakili oleh dinosaurus bermulut bebek beserta predatornya dan dinosaurus laut berleher panjang yang terdampar di pantai akibat terluka, dilanjutkan dengan tumbukan meteor di bumi, kedetailan tinggi dalam pengeksploitasian landscape bumi, hingga pada akhirnya bermuara pada lahirnya ketiga anak O’Brien di dunia. Kelahiran ini seperti melengkapi ranting-ranting kecil di sebuah pohon bernama pohon kehidupan yang maha besar.

Susah dicerna

Selepas adegan tersebut, praktis The Tree of Life seperti kebanyakan film drama pada umumnya, namun sedikit berat dan susah dicerna akibat minim dialog dan adegan yang kadang-kadang tidak nyambung. Namun di sinilah nikmatnya menonton jenis film seperti ini. Penonton dapat melatih imajinasinya, menggunakan intepretasinya sendiri, thinking out of box, menebak-nebak ending film, dan menurut saya mampu melatih kita untuk menjadi penonton yang cerdas.

Secara keseluruhan, Terrence Malick berhasil mengungkapkan apa yang ada di pikirannya tentang konsepsi kehidupan ke dalam The Tree of Life, film pertamanya dalam enam tahun terakhir semenjak The New World(2005). Dengan caranya sendiri, Malick berhasil menciptakan sebuah karya yang membuat saya semakin percaya bahwa film adalah seni yang agung. [Warning / Sandi Mariatna]

Tags : movie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response