close

Keintiman Itu Bernama Japanese Whisper III

459541450_640

Keintiman Itu Bernama Japanese Whisper III
Keringnya pagelaran musik akhir-akhir ini mampu diguyur deras oleh kehadiran Japanese Whisper III, 7 Februari 2014. Bertempat di auditorium IFI-LIP, Sagan, kehadiran Waza, Answer Sheet, dan duo-pop asal Jepang Koncos mampu memberikan aksi yang susah untuk dilupakan. Sebagai sekuel ketiga dari Japanese Whisper sebelumnya, tahun ini menjadi tahunnya Koncos untuk tampil di depan publik Indonesia.

Ruangan yang tidak begitu luas sering menjadi permasalahan dalam sebuah event. Namun tidak begitu dengan Japanese Whisper III ini. Ruangan seluas tiga perempat lapangan futsal dan ketiadaan barikade menjadi komposisi utama terciptanya keintiman sebuah pagelaran malam itu. Dimulai pukul 19.20 setelah close gate, Waza langsung menghajar telinga penonton.

Penampilan Misty di vocal, Damon di bass, dan Jinan di drum ditambah perpaduan suara merdu grand piano dan distorsi lembut dari gitaris membuat nomor-nomor seperti “Tanpa Final” disambung dengan”Bayangan Cahaya”, serta single mereka, “Satu Sayap” menjadi menu utama dari mereka. Beat dari saxophone dan trombone tak lupa turut serta membuat lagu tradisional macam “Cublak-Cublak Suweng” medley “Padang Bulan” terdengar begitu istimewa.

Aksi atraktif Misty di atas panggung yang tidak mengenakan alas kaki menjadi perhatian tersendiri bagi penonton. Penampilan mereka ditutup dengan lagu “Naungan Pelangi” yang sekaligus menjadi tanda undur diri mereka dari atas panggung. Sayup-sayup nama Misty diteriakkan oleh penggemarnya dari penjuru ruang.

Persiapan yang cukup lama dengan adanya pemindahan alat dan instrumen musik di atas panggung menjadi sebuah kesalahan besar. Hampir 15 menit terbuang. Tapi kekecewaan penonton mampu terbuang ketika Answer Sheet naik ke atas panggung, menyetel amunisinya dan memainkan beberapa lagu dari album barunya. Wafiq Giotama (vokal dan ukulele) Suryo Baskoro (gitar), dan Abdullah (Bass) tampaknya cukup pintar untuk menguasai ritme keintiman yang sebelumnya telah terbentuk.

Beberapa kali mereka terlihat bersendau gurau sembari Wafiq mempersiapkan permainan loop stationnya. Permainan cantik dari efek live-looping ini membuat variasi suara ukulele dan suara tambourine semakin nikmat untuk didengarkan. Answer Sheet kembali menyuguhkan penampilan terbaik ketika lagu Tenshi no Shippo’ milik AKB48  dibawakan. Hingga akhirnya beberapa kali sendau gurau mereka mencairkan suasana, lagu ‘A Love Beach, Sadranan’ mereka bawakan untuk mengakhiri slot lagu, dengan nada yang mendayu namun asik didengarkan. Suasana khas musik pantai mampu tersaji malam itu.

Sempat vakum karena lambannya penataan alat di panggung, kiranya tak jadi masalah selepas Koncos mulai mengokupasi panggung. Penonton agaknya masih asing dengan band asal Hokkaido, Fukushima ini. Walaupun ini kali pertama bagi mereka tampil di depan publik Yogyakarta, tak tampak sedikit pun kecanggungan dari mereka. Terdiri dari Taichi Furukawa (piano, bass drum, vokal) dan Sato Hiroshi (gitar-vokal) dibantu oleh Chabe (conga, perkusi, vokal) dapat memainkan musik yang begitu kaya dengan personil dan instrumen yang begitu minimalis.

Interaksi dimulai ketika Taichi mengucapkan salam pembukaan dalam bahasa Indonesia. “.. kami Koncos, konco soko Jepang”, lantas disambut tawa dari penonton. Begitu pula dengan perkenalan yang disampaikan oleh Chabe. “Saya Chabe, saya tidak pedas”, yang kemudian diikuti pula dengan tawa. Terlihat klise, tapi hasilnya interaksi itu mampu memicu kedekatan antara artis dan penonton. Tak lupa pula mereka meminta penonton untuk berdiri yang sedari awal pertunjukkan tadi duduk manis. Hasilnya bisa ditebak, gigs terlihat semakin liar dan meriah.

Keterbatasan bahasa tidak menjadi kendala malam itu, musik sebagai bahasa universal mampu menyatukan komponen pertunjukkan. Koncos tidak banyak berbicara dan hanya sesekali mengucapkan terima kasih ditambah kalimat dalam bahasa Jepang. Lirik lagu macam ‘Musukarinrin’ yang didendangkan dengan bahasa Jepang hanya mampu membuat penonton untuk bergumam menirukan nada musik. Namun begitu permainan ritmik conga dan perkusi dari Chabe, dipadu dengan petikan Sato, serta ditambah dentingan grand piano daro Taichi mampu membuat musik mereka sangat berwarna. Terdengar sedikit Eropa, Latin, dan alternative modern, namun tidak sedikitpun meninggalkan aksen Jepang. Beberapa lagu dengan cerdas mampu mereka ubah liriknya. Hasilnya sempurna. Penonton dibuat ikut bernyanyi bersama mereka, walaupun hanya “lalala” atau “nananana” saja. Ketika mereka merampungkan setlist, wajah Taichi begitu puas dan terlihat terharu ketika penonton meminta encore. Permintaan pun dipenuhi sekaligus menutup acara itu. [Yesa Utomo]

Event by: Common People Yogyakarta

Date: 7 Februari 2014

Venue: Auditorium IFI-LIP

WARN!NG level:•••1/2

Man of The Match: Keintiman yang timbul selama gigs berlangsung

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response