close

Kelompok Penerbang Roket: Ambisius Tanpa Banyak Polesan

Kelompok-Penerbang-Roket-4
KPR
KPR

Ada satu waktu ketika effect-effect digital belum populer dan amplifier dimaksimalkan penggunaannya. Satu masa ketika musik rock tampil begitu polos, dengan riff gitar, betotat bass dan gebukan drum yang menunjukkan ketelanjangan yang begitu membakar adrenalin menuju kenikmatan bermusik yang absah. Di Indonesia, era ini bisa dibilang muncul di era 70-80an, ketika Pandjaitan Bersaudara, AKA atau God Bless merajai dunia musik. Tahun ini, setelah hampir empat dekade yang penuh dengan jejalan inovasi perias musik, sebuah trio ugal-ugalan dari Jakarta menghidupkan lagi kegarangan rock lawas tersebut di panggung. Mereka adalah Kelompok Penerbang Roket.

Seperti namanya, dua tahun terakhir ini trio yang digawangi John Paul Patton (Coki), Rey Marshall, dan Viki Vikranta melejit ke angkasa. Beramunisikan musik rock dengan suara vintage gahar, mereka menghujani kancah permusikan dengan tiga album beringas dalam waktu 2 tahun saja. Teriakan Bocah (2015) si pemicu moshing brutal di setiap nadanya, Haai (2015) yang menghidupkan lagi wibawa Panbers, dan Jimi Hendrikoes (2016) yang menggoda dengan bumbu dangdutnya. Produktivitas yang memang ekstra. Tahun ini kabarnya KPR pun tengah mempersiapkan album selanjutnya. “Mini album. Tapi diralat rilisnya, jadinya awal tahun depan. Karena mau kita permak dulu,” ujar Viki mengklarifikasi. “Mini album baru itu isinya nanti ada lima lagu, nyambung semua. Pasti bosen deh dengarnya,” seloroh Rey sambil mengetukkan ujung rokok ke asbak di depannya, mungkin sudah batang ketiga.

Sore di penghujung September itu, WARN!NG menemui KPR di sebuah hotel di Jalan Gejayan. Dua jam sebelum penampilan perdana mereka di Yogyakarta, mereka bercerita banyak soal ambisi bermusik mereka, perkara identitas, sampai strategi band terkait dengan keberadaan media. Menerapkan laku rockstar, KPR memang dikenal dengan aksi yang cukup liar di panggung. Kombinasi musik rock, alkohol dan laku ‘semau gue’  bukan kebiasaan yang bermasalah, justru makin mengukuhkan citra KPR sebagai rockstar. Pun saat Rey Marshall, sang gitaris harus masuk rehabilitasi terkait dengan penggunaan obat-obatan. “Disana (rehabilitasi) diajarkan untuk tidak kembali ke lingkungan lama. Tapi menurut gue nggak bener kalau gue disuruh nggak balik ke dunia musik gue. Ini ajaran sesat pasti, jadi bodo amat mereka mau bilang apa. Gue balik, gue main musik lagi,” cerita Rey.

Di sebelahnya, Coki dan Viki pun mengamini hal tersebut. Alih-alih mencari gitaris pengganti atau merampungkan bandnya, mereka berdua menunggu Rey kembali untuk mewujudkan ambisi mereka bersama.  Dengan produktivitas dan relasi yang solid antar personilnya, KPR nampaknya masih akan jadi ancaman untuk ditaklukkan. Simak wawancara WARN!NG dengan KPR di bawah ini.

Interview by: Titah Asmaning

Photo By: Septyonaka Triwahyudi

Di mini album baru nanti kabarnya kalian akan mulai eksplorasi musik space-rock?

Rey: Sebenarnya musik spacerock kan juga genre lawas juga.

Viki: Iya. Jadi semacam bagian dari musik rock lawas yang belum kita mainin aja mungkin di album-album awal. Di album ini baru dapet kesempatan eksplorasi.

Coki: Musik Rock lama kan banyak itu warnanya, ini salah satu yang terpendam lah. Sisi lainnya. kita pengen ekspresiin semuanya.

Di album Jimi Hendrikoes kalian juga mencoba main musik dangdut.

Coki: Itu karena kita emang suka dangdut.

Rey: Indonesia banget lah dangdut itu.

Viki: Kita mau jadi scientist dalam bidang musik aja sih, mau mencoba membuat sesuatu yang baru terus supaya lebih keren.

Kalau respon ke album Jimi Hendrikoes yang memakai format kaset itu gimana?

Coki: Keputusan itu sebenarnya karena era-era dangdut di waktu kita kecil itu pakai kaset juga. Sampai sekarangpun masih ada tuh lewat di depan rumah, tukang gerobak jualan kaset dangdut. Kayak esensinya lebih kena aja kalau pake kaset dengan musik dangdut. Untuk feedback album itu bagus sih, kita kemarin rilis 300 biji sehari habis.

Sosok Jimi di Jimi Hendrikoes siapa yang menciptakan?

Viki: Itu obrolan kita pas lagi latihan aja.

Coki: Jadi itu dulu pas latihan si Viki suka ngomong  “ada Jimi ni..”, Jimi Hendrix  maksudnya , terus ditambahi –Koes biar jadi lebih jawa Jimi Hendrix-nya. Terus sempat ada aransemen dangdut, terus ngobrol-ngobrol, terus yaudah dijadiin Jimi sebagai sosok di Jimi Hendrikoes.

Rey: Dan itu tuh aransemen yang paling susah kali ya untuk kami. Untuk dapat esensi dangdutnya itu lho. Mungkin kalau vokalis gampang, cuman kita soul dangdutnya harus dapet.

Viki: Itu sempat kami underestimate, ternyata susah. Itu rekaman cukup berat.

Di beberapa media lain aku baca selama ini kalian memainkan rock lawas untuk mengukuhkan identitas keindonesiaan, seberapa penting identitas untuk kalian?

Rey: Wah penting banget tuh. Sekarang misalnya kalau lo kena razia, kalau lo nggak punya KTP kan ditangkap. Disini KTP kan kartu identitas lo, ya sesimpel itu aja.

Viki: Identitas itu ya gambaran besar dari diri lo, dan kalau dilihat sekarang itu Indonesia lagi krisis identitas.

Rey: Iya Bali aja, orang nggak tahu itu di Indonesia.

Coki: Untuk menjadi besar orang itu perlu diingat, dan apa yang bisa mengingatkan dia ya identitas. Ya itu aja simpel. Kita mau orang di seluruh dunia, orang ngelihat KPR tuh “Oh ini Indonesia”, sebagai identitas negaranya, nanti.

Rey: Orang tahu Indonesia apa? KPR, bukan Bali lagi.

Orang tahu Indonesia apa? KPR, bukan Bali lagi.

Untuk musik, sebelum KPR kalian kan dulu udah ada band sendiri-sendiri. Tapi begitu di KPR kalian fokus main rock lawas. Apakah ini konsep yang diciptakan buat KPR atau udah dari dulu mendengarkan rock lawas?

Viki: Malah akhirnya kebentuknya KPR ini pas kita bertiga diketemuin sama manajer kita si Rizma. Ini dia nggak datang (ke lokasi interviu) lagi honeymoon. Dia melihat kita bertiga punya karakter dan selera musik yang sama, which is itu ya musik-musik rock indonesia lawas.

Rey: Kalau kenapa kita dengerin rock lawas itu bukan karena kita hidup di zaman itu juga sih (terkikik). Mungkin orang tua kita, kalau gue pribadi dari orang tua, musik jaman 70’an ya zaman bokap-nyokap muda gitu.

Coki: Dari kecil udah dengerin itu, jadi kebiasannya dengan sound-sound seperti itu

Viki: Dan kebetulan kita suka, yaudah sikat.

Kalian kan mengusung musik rock indo lawas, sedangkan pendengar musik kalian itu paling anak yang lahir tahun 90’an, gimana kalian yakin bahwa pendengar kalian akan relate dengan musik yang kalian bawa?

Rey: Ya kita mainnya di zaman ini, kita main di tahun 2014-2015. Ya itu terbuka buat didengerin siapa aja kok nggak harus yang lahir tahun 90’an

Coki: Musik 70’an bukan musik yang jelek loh. Kalau pertanyaan kayak gitu terkesan kalau musik lama itu susah. Maksudnya memainkan musik yang nggak lazim di era sekarang itu akan mendapat perhatian. Nggak cuma kita aja ya, kalau tiba-tiba misal WSATCC di era 2000an main musik 60’an, otomatis akan dapet perhatian di situ. Dan nggak harus yang lahir nggak di zamannya bisa melihat “oh ini baru deh buat gue”.

Rey: Kita nggak lahir di tahun segitu lho (tertawa).

Coki: Dan kita tetap nganggep itu asik.

KPR
KPR

Proses kalian bikin lagu gimana sih? Siapa yang lebih banyak nulis lirik dan musik?

Viki: Kalau masalah dominan masih si Coki, misal dia punya apa terus dibawa studio, kita nge-jam terus akhirnya jadi bareng.

Rey: Kayak bikin puzzle. Ini udah setengah jadi nih, ayo diselesaiin bareng-bareng.

Coki: Kadang-kadang kita suka nge-jam juga, nge-jam itu penting banget buat nyambungin si Viki arahnya kemana, Rey arahnya kemana. Biar nemu ikatan batinnya.

Apakah penulisan lirik, secara bahasa juga menggunakan pendekatan yang sama?

Rey: Kami mencoba sih ke arah situ, cuma kita lebih bebas aja sih kalau dalam penulisan lirik.

Coki: Kalau ter-influence pasti sih. Kalau yang kita lihat sih, kita lebih banyak ngambil esensi dari musik lama itu secara ide dan konsep mereka bikin lirik. Kalau yang gue lihat band rock lama itu bikin liriknya polos banget. Nggak terlalu mengharuskan  “ini harus cinta lho, kalau nggak cinta nggak laku lho”. Lirik-liriknya kalau gue perhatiin ya polos. Apapun bisa jadi lirik. Asbak pun bisa jadi lirik yang bagus, kayak gitu. Intinya menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, dari yang kita pelajari di SD itu misalnya.

Rey: Dari cara penulisan dulu sama sekarang aja kan udah beda pengejaan dan cara nulis kalimatnya, jadi nggak mungkin kita ikutin juga dari tahun segitu.

Untuk penulisan lirik, aku melihat gambaran Jakarta disana. Emang semua inspirasinya dari sana ya?

Rey: Nggak fokus ke situ sih, tapi kebetulan aja sih isunya tentang yang kita lagi alamin sehari-hari apa.

Coki: Nggak fokus juga sih. Ada beberapa lagu yang nggak tentang Jakarta. Fiksi lah, nggak realistis gitu.

Viki: Kita bukan yang terlalu terkonsep harus bikin lirik begini begitu sih. Apa adanya aja. Kayak contoh misalnya “Anjing Jalanan” pada kenyataannya di Jakarta traffic-nya ruwet, anjing banget! Atau ya bisa juga diterjemahan ya anjing di jalanan gimana sih kelakuannya.

Untuk album Teriakan Bocah sendiri, kalau nggak salah kalian nggak membuat tur promo khusus untuk itu. Kenapa?

Coki: Kita band indie gitu, semua jalan sendiri.

Rey: Mungkin ada cara lain lah selain tur. Kita punya cara-cara lain, nggak harus sesuai sama template kan. Kita harus launching nih, abis ini gimana banget atau apa. Cuma kita melakukan aktivitas-aktivitas lain aja untuk promoin ini, mungkin dengan video klip atau rilis single, seperti itu.

Coki: Atau kita bikin showcase sendiri. Kita sempet bikin tur sih ke Bali, tapi kecil. Dari bar ke bar. Eh bukan tur sih, jalan-jalan sambil main habis mantai (tertawa).

Kalau di media, termasuk media musik, ada anggapan bahwa di Indonesia media itu jakarta-sentris. Apapun yang dianggap besar di Jakarta akan besar juga di seluruh Indonesia. Kalian kan bisa dibilang band yang besar di Jakarta.  Apa kalian memang memanfaatkan ini sebagai strategi?

Coki: Nggak pernah kepikiran sih ke arah gitu. Cuma kalau gue liat,kalau paradigmanya gitu ya emang bener kalau band yang fokus di Jakarta akan lebih banyak dapet exposure. Kenapa? Ya karena ibu kota. Bukan karena kota lain jelek, ya ujung-ujungnya pusat media.

Rey: Karena mungkin kantor-kantor majalah juga kebanyakan base-nya di Jakarta.

Viki: Ya pusat hiburan dan entertaiment ya di Jakarta.

Coki: Kalau misal kita bertiga nih band dari Kupang misalnya, kita akan bela-belain ke Jakarta. Kalau dibalik, pusat hiburan di Yogya ya kita akan pindah kesini.

Kalau misal kita bertiga nih band dari Kupang misalnya, kita akan bela-belain ke Jakarta. Kalau dibalik, pusat hiburan di Yogya ya kita akan pindah kesini.

Tahun 2015 lalu kalian merilis Teriakan Bocah dan Haai, tahun ini Jimi Hendrikoes dan akan segera rilis mini album. Apa yang kalian kejar dari produktivitas yang sangat tinggi ini?

Rey: Sebelum kita umur-umurnya udah nggak produktif lagi. Jadi sebelum sampai kesitu ya kita hajar terus.

Coki: Ya kita memilih musik sebagai jalan hidup kita, kerjaanya ngapain sih kalau nggak bermusik. Kalau nggak bermusik kayaknya gimana gitu. Kayak aneh aja, demam kali?

Viki: Sama juga kebetulan kita bertiga anaknya gig. Maksudnya kita tipikal orang yang BM, banyak mau. Selalu berbuat sesuatu terus, nggak bisa diem. Kalau udah diem malah bingung kita harus ngapain.  Dan orang-orang yang sukses itu orang-orang yang seperti itu sih.

Emang menurut kalian, band rock Indonesia saat ini gimana?

Coki: Cinta cinta cinta.

Viki: Sedih sih karena balik lagi ke yang pertama tadi, krisis identitas. Itu menyedihkan buat kita seniman saat kita mau membuat sesuatu karya tapi kita harus berkompromi dengan sesuatu yang di luar. Misal pasar. Itu sesuatu hal yang ironis aja.

Rey: Menurut gue kalau orang main musik berkompromi, berarti dia nggak total nih. Tapi setengah setengah. Mau ngapain? Mau berkarya atau jualan? Nggak bisa dua duanya.

Viki: Padahal kan kata ERK juga pasar bisa diciptakan.

Coki: Kalau mau kaya jualan, buka warung aja atau tambak lele atau apa.

Ketika kalian mengkover lagu-lagu Panbers di Haai, pasti ada kemungkinan untuk dikomparasikan dengan mereka. Sejauh ini ada nggak sih respon yang mengarah kesitu?

Viki: Waktu itu pas kita rekaman Om Asido Pandjaitan-nya dateng mau nonton kita. Deg-degan banget ini kan si legendanya sendiri. Om Sido nih mau komen apa? Jangan-jangan.. “Anjing ini musik gue keren-keren lo bikin jelek” atau apa, tahunya doi seneng banget.

Coki: Itu momen pembuktian ini album layak atau nggak. Dan dia pernah cerita, sebelum kita (mengkover lagu Panbers) udah banyak band lain, dan band yang udah besar. Band industri besar minta ijin ke mereka untuk mengkover dan ditolak.

Rey: Soalnya mungkin itu-itu aja sih lagu Panbers, paling yang mau dicover apa “Gereja Tua?”

Viki: Dia sampai nanya kalian ini anak-anak muda kok tahu sih lagu yang ini?

Rey: Mungkin nggak ada ya yang meng-compare soalnya kita juga memainkan musik Panbers yang jarang dikenal orang, Panbers itu seperti apa.

Coki: Kalau orang mungkin lebih terbuka, ternyata Panbers nggak cuma “Gereja Tua”.

Viki: Masih ada “Mr. Bloon”, “Haai”, “Let’s Dance Together” dan semuanya keren banget.

KPR
KPR

Proses pemilihan lagu Panbers yang akan kalian cover gimana?

Coki: Waktu itu Rey lagi berhalangan, Viki fokus game. Intinya lagu-lagu Panbers ini kita dengerin bareng gitu kan, ada Rizma juga, ada David Tarigan. Disitu kita milih lagu Panbers yang terasa unik, ikonik, dan beda dari yang lain. Akhirnya dapetin lagu-lagu itu dari macem-macem album, dari tiga album yang berbeda kita ambil. Apa ya? Menarik aja sih dari lagunya, judul lagunya. Nilai plus aja, karakternya kuat.

Rey kan udah dua kali masuk rehab, dapat sesuatu yang mempengaruhi proses bermusik nggak?

Rey: Nggak sih, disana diajarkan untuk tidak kembali ke lingkungan lama. Tapi menurut gue nggak bener kalau gue disuruh nggak balik ke dunia musik gue. Ini ajaran sesat pasti, jadi bodo amat mereka mau bilang apa. Gue balik gue main musik lagi. Pas gue balik, gue nggak tahu gitaris KPR siapa. Pas gue nanya ke Rizma siapa gitaris KPR sekarang? Dia jawab “masih elu bego!” (tertawa).

Pas gue balik, gue nggak tahu gitaris KPR siapa. Pas gue nanya ke Rizma siapa gitaris KPR sekarang? Dia jawab “masih elu bego!”

Di Yogyakarta, band yang mengalami kasus serupa ada Serigala malam dan Begundal Clan, nah mereka perlu waktu mengembalikan mood bermusiknya. Kalau kalian gimana paska kembalinya Rey?

Viki: Mungkin saat sebelum memutuskan untuk membuat grup bernama Kelompok Penerbang Roket ini kita punya ambisi yang sama kuatnya sih. Si Coki punya ambisi mau jadi rockstar besar, Rey juga, gue juga. Dan kita bertiga bertemu. Dan emang kayaknya udah jodoh ya. Dan gue yakin si Coki dan Rey juga punya pikiran yang sama. Mungkin itu yang jadi dasar ketika kita lagi kena masalah seperti itu, yakin dan teguh aja (tertawa).

Dengan kelakuan kalian yang seperti ini, KPR bisa dibilang punya citra yang buruk. Nah di luar urusan musik, pernah nggak mendapat masalah dari citra ini?

Rey: Justru bukan dari urusan kayak gitu sih. Mungkin itu dari perilaku buruk kita yang lain aja, entah di panggung aja, nggak bisa selesai main atau gimana.

Ngomong-ngomong udah nyobain minuman Jogja belum?

Coki: Salak Pondok enak tuh. Ini kita nungguin (tertawa).

KPR
KPR

Sarapanmusik?

Viki: Bill Withers – “Lovely Day”

Rey: Led Zeppelin – “Rock n Roll”

Coki: Led Zeppelin – “Immigrant Song”

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response