close

Kepandaian Pandai Besi Menebar Energi

pb2
pb1

Setelah menyambangi kota Bengawan pada tanggal 20 September lalu, kelompok pemusik reflektif-pop-instrumental, Pandai Besi melanjutkan perjalanan musikalnya ke Yogyakarta. Gelaran kali ini berlokasi di Ouval Research Yogyakarta sekitar Demangan. Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter bertajuk Siar, Daur, Baur─sebuah dokumentasi proses kreatif Pandai Besi saat melakukan rekaman di studio legendaris, Lokananta. Kemudian pada pukul 19.00 dilanjutkan dengan konser Pandai Besi di halaman depan Ouval Research. Venue yang tak terlalu megah dan tak juga mewah ini justru mampu membuat khidmat para penonton yang berjibun.

Konser ini dibuka oleh penampilan dari dua orang lelaki pemalu yang telah sepakat menamakan dirinya sebagai Rabu. Tak hanya pemainnya, musik yang mereka mainkan juga keluar dari petikan-petikan gitar sederhana semacam balada gelap yang terdengar malu-malu, mendayu hingga menjadi syahdu. Lagu-lagu seperti “Dru”, ‘Semayam”, ‘Baung”, “Dalam Tidur” sampai “Telaga Kasih” berhasil membuat bergidik para pemuda pemudi yang sedang menyimak dengan asyik.

Kemudian tibalah waktunya sang tamu utama menyajikan musik yang sudah barang tentu merupakan gubahan atas lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Pada penampilannya kali ini, Pandai Besi tidak diperkuat oleh punggawa utamanya, Cholil Mahmud, dikarenakan sedang menempuh studi di Amerika bersama istrinya. Memang Cholil ini merupakan salah satu musisi lokal yang patut ditauladani, baik secara musikal maupun personal. Lagu “Jalang” mendapat urutan nomor wahid dalam setlist, sedangkan Monica Hapsari mengambil alih posisi Cholil sebagai vokal utama ditemani Natasha Abigail sebagai vokal latar.

Tembang “Melankolia”, “Hujan Jangan Marah”, “Debu-Debu Berterbangan” akrab menyapa penonton. Tak heran jika para penonton menikmati Pandai Besi dengan khusyuk sembari menutup mata─menyelami kata demi kata, tenggelam dalam alunan yang kaya nada. Meski harus diakui untuk menikmati lagu “Di Udara” versi Pandai Besi kita harus rela sedikit kehilangan nuansa hentakan kaki seperti yang dibawakan oleh Efek Rumah Kaca.

Berlanjut pada lagu “Jangan Bakar Buku”, “Laki-Laki Pemalu”, “Desember” hingga malam ditutup dengan keriaan lagu “Menjadi Indonesia”. Penonton berjingkrak sambil bertepuk tangan seakan merayakan kembali optimisme Indonesia dimasa kini dan masa depan. Dengan serentak penonton mengucap lekas bangun dari tidur berkepanjangan / cuci muka biar terlihat segar masih ada cara menjadi besar / menjelma dan menjadi Indonesia. Konser ini menjadi bukti bahwa absennya Cholil dan Irma tak membuat karya Pandai Besi hanya tersimpan rapi dalam lemari. Melainkan ini sebuah kepandaian Pandai Besi dalam menebar energi agar tidak stagnasi. [G.Wibisono]

 

Event by                      : Ouval Research

Date                                : 21 September 2014

Venue                             : Halaman Ouval Research Yogyakarta

Man of The Match    : Saat Pandai Besi menyanyikan Menjadi Indonesia

Rating                             : !!!

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.