close

Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan di Bus Antarkota (bagian 2)

hqdefault

4) Lebih indie dibanding musik indie manapun. Dan inilah yang pasti paling memikat para pengusung kesenian yang bebas dari para bakul (besar): jenis musik ini sangat mandiri; ia lebih indie, jauh lebih indie, dibanding kelompok yang selama ini mengklaim dirinya sebagai musik indie.

Menyandarkan nyaris keseluruhan kelangsungan hidup dan eksistensinya dari panggung (live), para musisi di genre ini niscaya adalah kelompok yang paling aman dari gejolak dan transisi yang terjadi di industri musik dan teknologi pemutarnya yang menggelisahkan itu. Jika musisi-musisi dari jenis musik lain di seluruh Indonesia blingsatan menghadapi pembajakan, pengunduhan, dan Youtube, maka para pengetik dan biduan dangdut koplo justru hidup dari situ. “Aku dibajak, maka aku ditanggap!”.

inul daratista
inul daratista

Tentu saja salah jika menyebut industri besar tak pernah menjamah jenis musik ini, dan bukannya mereka sama sekali gagal. Pada 2003, Ishadi SK dari TransTV memboyong Inul dari Gempol ke Jakarta, yang kemudian diikuti oleh SCTV yang memboyong Dewi Persik. (Di waktu yang lebih belakang, korporasi media yang sama pula yang mengkopi-paste musik riang itu, menayangkannya secara sangat berlebihan, sebelum dihentikan karena ketololan para pembawa acaranya.) Dalam beberapa episode saja, televisi-televisi itu bisa memperoleh keuntungan yang tak mungkin didapat Sodiq dan Monata-nya meskipun ia ngoplo tanpa henti sampai mati; dan mereka memberikan biduan macam Inul dan Dewi Persik keglamoran dan jumlah uang yang mungkin tak pernah bisa dicapai oleh para legenda dangdut macam Rita Sugiarto atau Noer Halimah meskipun keduanya merekam puluhan album baru lagi bersama Soneta.

Yang patut dikedepankan, baik Inul maupun Dewi Persik, juga artis-artis yang tumbuh dari tradisi koplo yang menyusul mereka ke Jakarta, tak pernah benar-benar berhasil membawa serta koplo ke sana, bahkan ketika mereka mencoba membawa langsung Sodiq ke Jakarta—saya pernah melihatnya muncul beberapa kali di acara Inbox di SCTV. Jika memerhatikan acara macam YKS di TransTV (yang belum lama ini dihentikan penayangannya), keliaran dan ke-ndeso-an koplo memang coba ditransfer oleh para produser acara ke layar kaca. Tapi, koplo yang masuk televisi Jakarta biasanya tak akan pernah menjadi koplo sesungguhnya—bahkan kadang tak cukup untuk disebut sebagai koplo revisionis. Musik ini, beserta para biduannya, harus naik kelas, mesti diatur, didandani oleh para pemake-up bertaraf internasional, dipakaikan gaun-gaun rancangan desainer terkenal, dan mesti meladeni selera kelas menengah Jakarta yang mudah terpukau tapi mudah pula merasa bosan. Dan itu jelas bukan jenis publik yang cocok untuk musik koplo. Inul, yang sekarang juragan karaoke, juga seorang juri kontes dangdut yang harus mengatur gaya bicara dan musti tampak pintar, tak pernah bisa lagi sefenomenal dulu. Dewi Persik membutuhkan serangkaian perceraian dan perkelahian untuk bisa terus memperoleh perhatian.

Dan yang lebih penting lagi, kelangsungan hidup dangdut koplo tak tergantung dengan tren media, tidak seperti saudara-saudara tuanya, dangdut manis ala Itje Trisnawati dan dangdut remix ala Jefry Bule dkk, yang menghilang bersama merosotnya acara-acara musik di TVRI mengikuti runtuhnya Orde Baru. Jika ketergantungan itu ada, maka itu tak lain terbatas pada bahwa semua lagu yang sedang ngetop di televisi pasti juga ngetop di panggung-panggung koplo, apapun jenis musiknya—meski, dengan perspektif terbalik, bisa juga dikatakan sebaliknya. Tapi, tanpa itu pun, panggung-panggung koplo tak akan pernah kehilangan sumbernya.

Tapi yang terpenting, dan ini ditujukan untuk kalangan yang mengaku dirinya sebagai musisi indie, dangdut koplo menjadi indie tanpa perlu menjadi sok indie.

5) Musik ikan lele dan ikan mujaer. Saya selalu terpikirkan ikan lele setiap mendengar dangdut koplo; ia makan nyaris apa saja yang bergerak, atau yang dianggapnya bergerak. Seperti sudah disampaikan di depan, begitu banyak bunyi-bunyian dan elemen-elemen lainnya yang bisa kita dapati terserap dan kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari dangdut koplo. Semua jenis musik, segala jenis lagu, bisa mereka “bukak thithik”, dan hasilnya “jos!” Coba tunjukkan pada saya musik mana yang bisa menyandingkan “My heart will go on”-nya Celine Dion, “I miss you but I hate you”-nya Slank, “Pengamen” yang anonim, dan “Syiir tanpa waton”-nya Gus Dur dalam satu jenis tabuhan, bahkan seringkali dalam satu persembahan. Koplo, menurut saya, memaksimalkan pada tingkat yang tak terbayangkan sebelumnya kemampuan alami musik dangdut, yaitu kelenturan beradaptasi dan daya serapnya yang luar biasa—hal yang dengan nada dengki disebut Jack Lesmana sebagai “musik gado-gado”. Dengan kemampuan macam itu, musik ini akan sulit mati, sebagaimana yang ditunjukkannya sejauh ini. Dan dari hidup dengan cara ikan lele, dangdut koplo bisa bertahan dengan cara ikan mujair: menjadi satu-satunya ikan di seantero danau yang bisa bertahan hidup melewati musim kemarau.

6) Pengarsip musik par excelent. Pada suatu waktu saya tiba-tiba teringat dengan lagu Inka Christi yang dulu sangat saya sukai, terutama karena nadanya yang sangat Malaysia. Namun, jangankan judulnya, sepotong liriknya pun saya tak ingat, sehingga Google dan Youtube sama sekali tak bisa menolong. Sangat lama saya tak berhasil mengingat lagu itu, dan karena itu tak juga menemukannya. Sampai kemudian, saat sedang makan bakso di Terminal Bojonegoro, kuping saya diganggu oleh dentuman musik koplo dari lapak kepingan bajakan di sampingnya. Lagu itu tidak enak, dinyanyikan secara seadanya, dan saya terganggu. Dan saya lebih terganggu lagi karena bit-bitnya nyangkut di kuping, demikian juga baris liriknya. Begitu sampai refrain, saya langsung memaki keras-keras: Jancuuuk… cuk!! Itu adalah lagu Inka Christi yang saya cari-cari. Judulnya “Rela”.

Lagu “Ju ge ja ge ju” adalah contoh lain. Penggemar dangdut pemula atau penggila koplo dadakan mungkin baru mendengar lagu itu setelah menjadi viral awal tahun ini. Namun, bagi saya, lagu itu adalah masa lalu yang sama sekali terlupakan dan tiba-tiba digeber habis-habisan. Lagu itu tidak terlalu istimewa, dan karena itu terlupakan. Namun, mendengarnya kembali membuat arsip lama di kepala tentang puluhan lagu duet Rhoma-Elvi terbuka.

Kejadian-kejadian macam ini tidak terjadi sekali-dua. Bawaan lahirnya sebagai pendaur ulang, membuat dangdut koplo, sengaja atau tidak, menjadi “lembaga” pengarsip musik dangdut (atau musik yang bisa didangdut-koplokan)—hal yang abai dilakukan oleh lembaga kebudayaan, para sarjana musik, atau para pengamat budaya pop di Indonesia. Mungkin tidak rapi, tapi terbukti efektif. Coba saja: carilah lagu lama di Google, jika tidak ketemu, coba tambahkan kata kunci “sodiq” atau “monata” atau “koplo”, dan Anda akan beruntung.

sodiq "om monata"
sodiq “om monata”

Tapi, terus terang, karakter ini pula yang membuat penggemar dangdut macam saya jadi cemas. Berkali-kali saya dibuat marah ketika mendapati lagu-lagu dangdut kesayangan saya, entah karena kesyahduannya atau karena kemegahannya (biasanya lagu-lagu Soneta), dikoplokan. Dan di tangan Monata atau New Pallapa, semua lagu, sesyahdu atau semegah apapun, akan berakhir di ujung yang sama: “Bukak sithik, jos!”. Karena itu, saat di rumah, manakala nongkrong dengan teman sembari menyimak suara toa dari rumah-rumah yang sedang berhajat, dan mendapati lagu-lagu dangdut lawas yang menggetarkan, pertanyaan yang terlontar adalah: “ini sudah dikoplo belum?”. Kebanyakan memang sudah. Tapi, jika diyakini belum, kami kemudian dengan bersungguh-sungguh bersepakat: “Awas, jangan sampai lagu ini didengar Sodiq!”

Dan tentu saja, cepat atau lambat, Sodiq dan Monata-nya akan mengkoplonya. Jika bukan dia, pasti New Pallapa, kalau bukan Sera. Atau jangan-jangan Relaxa? 7) Involusi. Mungkin seperti pengarsip dalam arti sebenarnya, di bidang-bidang lainnya, dangdut koplo tampaknya tidak beranjak menjadi pencipta. Musisi macam Sodiq, tanpa mengurangi respek saya dan tak bermaksud merendahkan kemampuan bermusiknya (saya banyak mendengar soal kehebatannya), sejauh ini tak pernah melebihi tahap sebagai musisi penggarap. Selain menunggu lagu-lagu lungsuran televisi (yang biasanya jelek), atau memungut lagu-lagu yang tengah ramai di masyarakat (seperti kasus lagu “Pengamen” atau lagu-lagu campursari yang dikoplokan), dangdut koplo sepenuhnya bersandar pada 1000-an lagu ciptaan Rhoma Irama, lagu-lagu Ida Laila dari puluhan album OM Awara-nya S. Achmadi, atau dari booming lagu-lagu dangdut syahdu awal ’90-an. Tentu ada lagu-lagu baru tercipta, semisal “Ojo njaluk pegat”, “Wedus”, dan beberapa yang lain lagi. Tapi melihat bagaimana musik ini begitu populer, didengar oleh begitu banyak orang, dan mencakup area geografis yang cukup luas, beberapa lagu itu jelas sangat bisa diabaikan. Invensi atas bunyi-bunyian yang asli Indonesia (sebagaimana saya singgung sebelumnya) tidak dibarengi oleh kreativitas mencipta lagu baru. Dengan kondisi demikian, musik ini hanya akan jadi musik obat nyamuk, yang menyala ke belakang, memakan dirinya sendiri—meskipun saya percaya ia tak akan mati begitu mendapat kehidupannya. Dangdut koplo adalah budaya pop par excelent, dan hal paling wajib dalam budaya pop adalah inovasi, kebaruan, atau setidaknya hal yang dipersepsi baru. Dan kebaruan selalu menuntut kebaruan berikutnya, dan berikutnya. Dalam musik, hal baru paling standar, menurut saya tentu saja lagu baru. 8) Penyambung nafas, bukan masa depan. Bicara dangdut koplo, tentu saja adalah bicara tentang dangdut itu sendiri. Dan dalam banyak hal, dangdut koplo menunjukkan sekaligus kelemahan dan kekuatan dangdut, dalam cara yang sangat mencolok. Dalam bentuk koplonya, dangdut menunjukkan daya tahannya, kelenturannya, juga kemandirianya. Tapi dangdut koplo juga memperlihatkan bahwa kemandegan dalam dangdut itu nyata-nyata terjadi—meskipun tudingan yang sama juga bisa ditujukan pada jenis musik lain di Indonesia.

Rhoma Irama dan Soneta sudah semakin jompo dan tak sanggup menciptakan lagu-lagu baru, sementara para komposer dangdut lainnya, baik yang ikut merintis membesarkan dangdut maupun yang produktif di masa-masa boom dandut di Album Minggu Kita TVRI, mulai gugur satu demi satu. Dangdut jejingkrakan ala Alam dan dangdut kesehatan (karena para pembelanya menyebutnya sebagai sejenis senam) ala Inul hanya menggebrak dalam jangka waktu yang sangat pendek, dan orang sudah tak lagi mengingatnya. Meski menurut saya sangat enak didengar, dangdut yang nyaris ngejazz ala album Selamat Datang Cinta-nya Evie Tamala pun tampak nanggung; gagal menarik perhatian khalayak luar dangdut yang mungkin ditujunya, juga terdengar agak aneh di telinga para penggemar Dokter Cinta atau Selamat Malam, karena musiknya yang sangat didominasi gitar akustik, gendang yang diganti jimbe, dan digantikannya suling oleh flute besi dan kadang biola; dan itu pun sudah terjadi pada 10 tahun lewat. Percobaan yang nyaris putusasa dari Rhoma dengan Sonet 2 dan sosok kemayu anak lelaki dari istri kesekiannya, yang disebutnya sebagai revolusi dangdut kedua, sebenarnya cukup diterima tapi tentu saja jauh dari apa yang diklaimkannya. Dan selanjutnya dangdut hanya diisi oleh bunyi-bunyian tak jelas macam “Cinta satu malam”, “Hamil tiga bulan”, “Pusing pala berbie”, hingga “Goyang dumang”, yang saya ragu apakah itu dangdut atau bunyi waker di hp.

Koplo, dalam masa sekarat macam ini, bisa jadi penyelamat. Meski hati sulit menerima, kuping saya masih selalu bisa menangkap kedangdutan musik ini. (Mereka semua pada dasarnya adalah band dangdut, dan para biduannya adalah penyanyi dangdut.) Mereka membuat bunyi-bunyian nggak jelas macam “Goyang dumang” menjadi lebih jelas dangdutnya, dan lagu-lagu dangdut lama yang nggak laku, tak diingat, bahkan tak dikenal, hidup lagi, bahkan menjadi fenomena baru, menarik pendengar musik dari generasi lebih baru (seperti kasus “Ju ge ja ge ju”). Mereka juga mendangdutkan “Final Countdown”-nya Europe, selain juga musik Osing-an dari Banyuwangi, campursari-nya wong kulonan, dan lagu-lagu rakyat macam “Cucak rowo”. Dan dengan menyimak koplo, kita bisa memastikan bahwa dangdut masih ada, dan ramai, dan masih tetap digemari.

Tapi musik tak boleh hanya sekadar masih ada, bertahan hidup, cuma samata survive. Ia harus bergerak, mendobrak konvensinya, dan terus membuat inovasi. Saya tahu, akan berlebihan jika mengharap ada seorang komposer dangdut baru, yang arogan, berani mengejek musik-musik yang dihasilkan Rhoma Irama, dan tentu saja mampu menghasilkan komposisi-komposisi baru yang misalnya bisa membuat “Untukmu Afghanistan” atau “Sumbangan” yang megah itu jadi terdengar seperti genjrengan remaja putus cinta, atau membuat kombinasi keyboard Riswan dan gitar Rhoma di lagu “Ghibah” yang kompleks, sulit ditiru, dan arogan (terutama karena panjang durasinya yang 8 menit) itu jadi tak lebih hanya suara icik-icik rusak. Berlebihan pula, rasa-rasanya, mengharapkan seperti yang terjadi di industri musik film India, yang terus menghasilkan komposer cemerlang baru setidaknya sekali dalam 20 tahun. Tapi, usaha-usaha untuk ke arah situ tentu saja harus dilakukan. Jika tidak, terlepas dari daya tahannya, saya ragu dangdut bisa bertahan lebih lama lagi—hanya dengan mengandalkan lagu-lagu lama. Dan jika pun dangdut koplo bisa membuat dangdut bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, orang tetap tak akan mengenang Sodiq, Monata, atau koplonya, tapi lagu-lagu ciptaan Rhoma.

Kalau demikian, dangdut, dan tentu saja dangdut koplo, jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Oke… Sungguh tak menyangka, setelah sepanjang ini (dan bisa lebih panjang lagi jika saya menuruti nafsu kesumat saya), banyak hal yang ternyata justru saya sukai dari musik ini. Mungkin nyaris satu-satunya hal yang tidak saya sukai dari koplo adalah… mendengarkannya.

Tapi sungguh, untuk mereka yang selama ini tak pernah tertarik mendengarkan koplo, atau dikuasai prasangka yang terbias kelas atas musik kampungan ini, cobalah sesekali. Menurut saya, mendengar koplo setidaknya jauh lebih baik, dan tentu saja lebih asyik, dibanding mendengarkan Efek Rumah Kaca atau Endah & Resa (begini nulisnya?) hanya karena semata ingin terlihat keren.

Ohya, tulisan ini sengaja dibikin panjang agar tak dikoplo sama Sodiq.

 

ditulis oleh kontributor: Mahfud Ikhwan (Penulis, Pemenang sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lewat novelnya Kambing dan Hujan)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response