close

Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan di Bus Antarkota

New-Pallapa

Ditulis oleh kontributor: Mahfud Ikhwan

barisan penyanyi dangdut koplo
barisan penyanyi dangdut koplo

1. Begitu naik bus Rajawali Indah jurusan Surabaya-Bojonegoro, saya segera mengenali dentuman suara yang akrab itu. Musik dangdut. Saya biasanya akan mengabaikannya, karena di bus antarkota, jika bukan lagu-lagu pop Pantje Pondaag, pastilah dangdut koplo. Saya tidak menyukainya. Tapi karena beberapa bebunyian yang terdengar berbeda dari biasanya, saya dipaksa menyimak juga. Ada lengkingan saxophon dan trombon di antara suling dan gendang, hal yang biasanya hanya ada di musiknya Soneta. Tapi itu jelas bukan Soneta. Juga suara penyanyinya. Bukan hanya tak seperti penyanyi dangdut koplo biasanya, yang suaranya ngos-ngosan dan tenggelam di antara goyang dan musik yang heboh, vokal sang biduan sangat baik lagi pula terdengar sangat familiar. Dan setelah saya cermati benar, kali ini dengan mencopot satu earphone di kuping, sembari mencoba menatap layar televisi di bagian depan kendaraan, dugaan saya tepat. Itu memang bukan Soneta, tetapi Moneta, orkes melayu pimpinan Imron Sadewo—orkes peniru Soneta yang mungkin paling dihormati, setidaknya setelah OM Kharisma pimpinan Mara Karma sudah jarang terdengar. Dan Imron dkk. mengiringi Noer Halimah, biduan legendaris, satu dari sedikit penyanyi perempuan yang pernah menyanyi untuk Soneta. Kombinasi yang jarang saya temukan diputar di bus-bus.

Tak bisa tidak, saya lepas earphone, dan segera larut, dan diam-diam ikut berdendang mengikuti lagu sendu khas Noer Halimah. (Saya bahkan memaki cukup keras ketika lagu “Matahariku” dari OST Kemilau Cinta di Langit Jingga tiba-tiba di-pause karena seorang pengamen naik dan mengganggu dengan menyanyikan lagu Ungu). Sampai beberapa lagu, rasa larut itu masih melanda saya, dan saya masih menggumam-gumam mengikuti lagu. Sampai kemudian nomor-nomor yang lebih ceria, kebanyakan dari album-album solonya, mulai dinyanyikan. Saxophone itu kemudian mundur, lalu melenyap, digantikan simbal dan tamborin. Moneta mulai mleyot jadi Monata. Imron Sadewo malihrupa jadi Sodiq. Dan Noer Halimah menyanyi dengan tempo lebih cepat dari semestinya.

Ketika celetukan “bukak sithik, jos!” terdengar, saya mulai menutup kuping.

2. Belakangan, jika menempuh perjalanan jauh, terutama dengan bus, saya sangat tergantung dengan playlist di HP tua saya. Di bus sulit untuk bisa baca. Bukan cuma karena bus tidak selega kereta, tapi karena saya juga lebih sering menempuh perjalanan malam, yang tidak memungkinkan untuk aktivitas membaca. Alasan lain, saya kira, adalah dangdut koplo.

Sekira tiga 3-5 tahun belakangan, bersamaan dengan inkludnya AC dan TV/video dalam bus-bus Surabaya-Jogja, khususnya bus-bus Sumber Group dan Eka-Mira, dangdut koplo menjadi fasilitas tak langsung bagi para penumpang. Pasti banyak penonton yang senang dengan “fasilitas” tersebut, karena musik ini tampaknya memang disukai. Tapi, pikiran saya, musik ini tidak diputarkan untuk para penumpang, melainkan untuk sopir dan para awaknya; mungkin agar sopir dan para kondekturnya tetap senang sepanjang perjalanan, mungkin juga lebih fungsional, yaitu agar mereka tak mengantuk di sepanjang perjalanan. Coba bayangkan, bagaimana mungkin musik itu untuk penumpang jika pada jam dua malam kuping penumpang dihantam oleh bunyi berdentum-dentum lagu “Oplosan” dari OM Sera? Saya membutuhkan musik jenis lain untuk bisa tidur di perjalanan.

Apakah karena saya menyukai musik klasik, jazz, rock progresif, atau irama gamelan yang lembut nan agung, sehingga begitu risih dengan koplo? Tidak. Saya merasa bisa menyukai banyak jenis musik, tapi playlist andalan yang telah bertahun-tahun ngendon di memory card saya tetaplah 46-an lagu Soneta, beberapa lagu dangdut sendu ’90-an, 10-an lagu Iwan Fals yang menurut saya paling hebat, selain sefolder lagu-lagu Rekha Bhardwaj dan lagu-lagu OST film India ’80-90-an. Daftar most played saya adalah lagu “Nostalgia”-nya Rhoma Irama (dari OST Pengorbanan), yang mengatasi “Keranda Cinta”-nya Noer Halimah, “Terguncang”-nya Yunita Ababiel, dan “Yeshu” (lagu gereja ala Goa-nya Rekha Bhardwaj, dari OST 7 Khoon Maaf). Lagu-lagu itu pada awalnya saya butuhkan untuk mengantar tidur di perjalanan (juga jika tidak dalam perjalanan) dan obat penenang dari rasa deg-degan akibat kengawuran sopir-sopir bus malam Surabaya-Jogja. Belakangan, lagu-lagu itu menjadi jauh lebih saya butuhkan terutama untuk menyumpal suara Brodin dkk, yang menyebalkan itu.

Bagi saya, dangdut koplo lebih banyak memberikan pengalaman menjengkelkan dibanding menyenangkan. Namun, tak jarang bahkan kejengkelan itu bisa beranjak sampai ke tahap rasa pilu. Sebelum mengalami apa yang saya ceritakan di bagian awal tulisan ini, saya pernah menangis dengan hati hancur karena menonton Rita Sugiarto menyanyikan lagu-lagunya yang hebat itu, dengan suaranya yang lebih hebat lagi, dalam iringan irama koplo. Sulit menjelaskan perasaan macam apa yang menjalari saya saat melihat sang legenda itu mesti ngamen sebegitu rupa. Menyimak “Tangan-tangan Hitam” (OST Badai di Awal Bahagia) dalam iringan New Pallapa itu seperti mendengar “Jeremy”-nya Pearl Jam dibawakan dengan cengengesan oleh Cowboy Junior. Atau, seperti menonton Iwan Fals menyanyikan “Sang Kala” dengan iringan Kangen Band. Atau, seperti sedang mendapati Kuntowijoyo menulis LKS Sejarah. Mungkin bukan tindakan hina, tapi itu jelas bunuh diri kelas yang habis-habisan. Saya tidak rela.

Saya sulit menerima.

New-Pallapa
New-Pallapa

3. Apakah ini kemasgulan seorang fanatik militan atas merajalelanya bidah dan penyimpangan? Apakah saya terdengar seperti seorang konservatif yang menolak perubahan? Saya selalu diganggu pikiran demikian. Dan itu lebih menjengkelkan dibanding dengan mendengarkan irama koplo itu sendiri. Sebab, pada dasarnya, tidak seperti hati dan kuping saya, kepala saya tak benar-benar memusuhi musik ini. (Dan itulah yang membuat saya terus kepikiran untuk menulis hal ini).

Menguasai bus-bus antarkota, menyapu daftar lagu di karaoke-karaoke pinggir jalan, dan mengangkangi playlist-playlist HP bocah-bocah tanggung di warung kopi di desa-desa sekitar lima tahun terakhir, dangdut koplo sebenarnya sudah mengganggu ketenangan para penyuka dangdut syahdu ‘80-‘90-an setidaknya sejak awal 200-an, atau bahkan lebih awal lagi. (Menurut beberapa tulisan di internet yang masih perlu ditelisik kesahihannya, dangdut koplo telah dimainkan di kampung-kampung kumuh di Surabaya setidaknya sejak 1993-an, yang merupakan olahan dari musik Kendang Kempul, dengan pelakon utamanya bernama Cak Naryo. Sementera, dalam buku Dangdut Stories, Weintraub menulis bahwa koplo terbentuk jauh lebih awal lagi, yaitu di akhir 70-an, dengan meminjam pengaruh dari musik reog Ponorogo dan jaipongan Sunda). Saya percaya kelompok-kelompok orkes melayu jalanan di banyak tempat, terutama di sepanjang garis Pantura Jawa, berjasa memelopori kebangkitan jenis dangdut monoekspresi (riang melulu) ini. Tapi, dugaan saya, bahwa secara kelembagaan musik ini menyebar seperti sampar lewat acara Stasiun Dangdut, yang disiarkan TVRI Stasiun Surabaya. Acara ini tidak saja menjadi tontonan yang sangat populer di rumah-rumah di hampir seluruh Jawa Timur, tetapi juga sukses menghasilkan fenomena-fenomena baru dalam dangdut, seperti Inul Daratista, Uut Permatasari, dan Vivin Vania, lengkap dengan atribut goyangnya masing-masing. Dan ketika penyanyi-penyanyi seperti Inul, Uut, Dewi Persik, dan Vivin diimpor ke ibukota oleh para pemilik televisi Jakarta, wabah itu kemudian meluas ke seluruh Indonesia.

Tak ingin mengulang perdebatan lebih 10 tahun lalu tentang dangdut koplo dalam bingkai moral, saya di sini lebih ingin mengemukakan ambivalensi saya perihal musik ini, apa yang saya pikirkan di bus antarkota (dan di banyak kesempatan lain sebelumnya) saat musik ini diperdengarkan. Ya, sekalipun sangat sulit menyembunyikan ketidaksukaan saya dengan musik ini (kecuali untuk sangat sedikit lagu dan untuk beberapa alasan sangat khusus), saya tidak ingin menjadi pembenci yang membabi buta. Dan, saya tegaskan sekali lagi, saya tak mungkin bisa benar-benar membenci musik ini.

Dan inilah penjelasannya:

1) Musik asli Indonesia. Ini musik asli Indonesia, lahir di Indonesia, dan dilahirkan oleh tangan-tangan kreatif orang Indonesia. Seperti musik induknya, dangdut, musik ini hasil adukan dari berbagai campuran jenis musik yang mungkin saja lebih beragam dibanding dangdut yang diramu (atau diklaim diramu) Rhoma Irama dan Soneta-nya. Melihat Inul, Uut, atau Dewi Persik menyanyi koplo di panggung, kita bisa melihat campuran apa saja yang ada dalam musik yang mereka tampilkan. Dalam satu lagu, mereka bisa memperdengarkan beat-beat yang dicuri dari glam rock ‘80-an, gitar mendayu ala musik pop Indonesia ‘90-an, tarian jaipong yang menggoda ala Sunda, goyang ular yang liar ala India, senggakan khas ala para nayaga calung atau gambyong, entakan perkusi kendang kempul Banyuwangi, liukan terompet reog Ponorogo, hingga tarikan suara merdu kasidah dan dhiba’ dari kampung-kampung santri di Jawa Timur. Dan hasil akhirnya adalah sebuah musik baru yang tak bisa kita dapatkan di tempat lain, tak ada duanya, tanpa padanan. Tanpa perdebatan, itu milik kita; seperti jazz dan country milik Amerika, reggae-nya Jamaika, flamenco-nya Spanyol, atau musik filmi-nya Bollywood. Kalau ada yang akan mengurut asal-mula Cowboy Junior atau JKT 48, mereka harus blusukan ke Korea atau Jepang, sementara jika hendak menulis sejarah Monata atau Sera atau New Pallapa, jujugannya tak akan ke mana-mana: Jawa Timur. Dalam hal ini, terutama ketika melihat kelincahan pemukul simbal yang biasanya berdiri di samping biduan, saya sulit menolak bahwa saya mengagumi musik ini. Ini orisinil.

2) Anak kandung dangdut. Saya tak menyukai koplo, tapi saya akan meladeni berdebat dengan siapa pun yang tidak mengakui musik ini sebagai bagian dari dangdut, atau sebuah perkembangan yang tidak seharusnya, atau lebih jauh lagi mencoba mengeluarkkannya dari dangdut untuk menjadi semacam genre sendiri (seperti orang-orang fanatik mencoba mengeluarkan Syiah atau Ahmadiyah dari Islam). Banyak yang menyesalkan bahwa dangdut koplo telah berperan mendegradasi dangdut menjadi—meminjam istilah Rhoma Irama saat memarahi Inul pada 2003—musik comberan. Saya terkadang menyepakati vonis itu. Tapi, saya kemudian berpikir, dan mungkin telah berkesimpulan, dangdut koplo tidak membawa dangdut ke luar jalurnya; ia hanya membuat dangdut kembali ke tempatnya semula.

Frasa “tempatnya semula” ini bisa diartikan sebagai kiasan, bisa juga dalam arti sesungguhnya. Sebagai kiasan, musik dangdut pada masa-masa awal pembentukannya pernah dikatai oleh musisi rock asal Bandung, Benny Subardja, sebagai “musik tai anjing” (lihat Weintraub, 2010; Frederick, 1982). Para perintis dangdut, terutama Rhoma dan Soneta-nya, wabilkhusus lewat film-filmya, dalam waktu yang tak lama, menjadikan musik tai anjing ini mendapat audien dan penggemar yang dalam jumlah dan kadar kefanatikannya tak pernah didapatkan oleh musik agungnya Benny Subardja dkk. Lalu, Sekber Golkar, lewat Eddy Sud dan politik kebudayaan ala Aneka Ria Safari-nya, yang diperkuat lagi oleh dukungan yang mencolok dari pejabat-pejabat teras Orde Baru macam Habibie dan Moerdiono, menjadikan dangdut sebagai musik “resmi” Indonesia. Ketika Orde Baru runtuh, dan hubungan bapak asuh-anak pungut Golkar-dangdut berakhir, sementara secara bersamaan Rhoma dan Soneta-nya semakin menua dan tak lagi membuat lagu baru, “tai anjing” lama yang dijadikan fondasi dangdut oleh para perintisnya justru tak pernah menua. Ia bertahan dalam keterabaiannya. Tanpa pernah bisa terpegang benar oleh tangan-tangan kekuasaan dan partai politik, mungkin juga tak terlalu tergugah oleh dogma-dogma moral ala Sound of Muslim-nya Soneta, “musik tai anjing” itu diam-diam terus saja melahirkan anjing-anjing baru, yang lebih liar, yang bertai di mana pun mereka tumbuh dan menggonggong. Seperti kurap yang tumbuh subur di bagian-bagian paling gelap dan paling tersembunyi dari kulit tubuh kita, musik ini tumbuh subur di tempat-tempat paling tak diinginkan, mungkin paling ditabukan. Dan kini, setelah kekuasaan yang mengatur itu terguling, dan seni berpretensi ala Rhoma Irama semakin meredup, anjing-anjing liar beserta “tai”-nya itu kemudian maju ke depan merebut panggung.

Dalam arti sebenarnya, dandut koplo mengembalikan dangdut ke lingkungan geografis dan sosial yang serupa dengan di mana ia pertama kali tumbuh. Seperti banyak dikisahkan, termasuk oleh Weintraub, dangdut mula-mula tumbuh di lingkungan macam Planet Senen Jakarta yang kumuh dan suram, yang dihuni bukan saja oleh para seniman, tapi juga para bajingan, tukang copet, pedagang asongan, tukang becak, sopir bajai, sampai pelacur. Tigapuluh tahun kemudian, dangdut koplo, konon, pertama kali tumbuh di Gang Jarak, sebuah kampung padat di pinggiran Surabaya, yang juga dikenal sebagai tempat—meminjam ungkapan biduan Ratna Antika dalam lagu “Ojo Njaluk Pegat”—e-ok-i-ek yang ternama. Kini musik itu sudah keluar dari lorong-lorong di Gang Jarak, dan menularkan karakter begijakan-nya bahkan ke stasiun-stasiun televisi di Jakarta yang studionya gemerlapan. Tapi, ke mana pun dan di mana pun dimainkan, dangdut koplo tetap saja tak menghilangkan ke-Jarak-annya. Simak lirik lagu macam “Wedus”, yang bercerita tentang seorang perempuan yang lebih memilih “langsung makan sate dibanding harus memelihara kambing”; lagu “Nyidam Penthol”, yang mengungkapkan keinginan seorang perempuan makan “pentol bertelur dua dan banyak mienya”; lagu “I-i-ye Yoyo”, yang jika Anda orang Jawa Timur akan dengan mudah memplesetkannya menjadi “uyuk-e-yoyo”.

3) Tumbuh dari rakyat. Jika Lekra masih ada di tahun 2000-an ini, dan masih mengusung seni dengan semboyan, “dari rakyat, untuk rakyat, bersama rakyat”, mereka pasti akan kesengsem dengan dangdut koplo, lebih-lebih jika melihat bagaimana proses musik ini lahir, dimainkan, dan dinikmati. Musik-musik Barat, pada masa awal persebarannya di Indonesia, kebanyakan melalui radio siaran ABRI yang memutar piringan-piringan hitam milik para perwira pro-Barat, yang perkembangannya di kemudian hari diuntungkan oleh kemenangan rejim pro-Barat atas pemerintahan anti-nekolim; rock (juga pop kreatif) dipandegani oleh anak-anak gedongan yang digelisahkan oleh lagu-lagu Beatles dan dongeng tentang Generasi Bunga di majalah-majalah berbahasa Inggris, dan kemudian dibesar(-besar)kan oleh majalah-majalah musik dengan pembaca anak muda kota; bahkan dangdut sendiri, terutama di awal-awal masa formasinya, tak akan lahir jika tanpa sentuhan para komposer orkestra dan para musisi operet keliling dan komidi stambul yang kosmopolit itu, yang berkeliling dari satu negeri ke negeri lain di kawasan Semenanjung, dan di tahun ‘80-90-an menjadi salah satu alat politik paling ampuh oleh partai penguasa.

Sementara itu, konon (sekali lagi konon), koplo adalah perkembangan dari apa yang disebut sebagai musik kothekan, tetabuhan asal ribut yang dipakai untuk membangunkan orang sahur, di gang-gang sempit di kampung-kampung pinggiran utara Surabaya, yang kemudian meluas oleh persebaran masif VCD bajakan di terminal-terminal paling kumuh di Jawa Timur. Musik ini tak membutuhkan acara gosip di televisi untuk mempopulerkan para penyanyinya atau ocehan ngelantur para penulis majalah musik untuk memperluas pasar peminatnya. Selama simbal masih dipukul dan tamborin masih dihantamkan paha, musik ini tak membutuhkan industri atau negara, atau bahkan jin Kastubi, untuk bisa terus digemari. Dan dengan standar mutu minimal yang nyaris tak terbatas, musik ini menjadi jenis yang paling “terjangkau” untuk dimainkan oleh siapa pun.

 

continue to: Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan di Bus Antarkota (bagian 2)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response