close

[Movie Review] Kingsman

Kingsman-still-540×354

Sutradara         : Matthew Vaughn

Durasi              : 129 menit

Pemain            : Colin Firth, Samuel L. Jackson, Michael Caine, Taron Egerton

 

kingsman
kingsman

Setelah A Single Man dan Magic in the Moonlight, Colin Firth lagi-lagi didaulat memerankan gentleman Inggris lengkap dengan setelan jas berkelas dan rambut yang disisir licin ke samping. Kali ini Firth bukan menjadi homoseksual yang depresi atau pesulap snobis, namun seorang agen rahasia swasta. Logat kental Inggris dan film action bertema mata-mata sudah barang tentu dikaitkan dengan produksi franchise James Bond. Dan Kingsman tampil bukan sebagai pembanding melainkan lebih sebagai alternatif—jika tidak ingin disebut parodi. Dikenal dengan Kick Ass, si sutradara, Matthew Vaughn memang memberi warna dari film pendahulunya ke dalam Kingsman. Aksi laga dramatis, komedi slapstick, dan karakterisasi nyeleneh dapat dijumpai dalam dua jam lebih pemutaran.

Agak tercengang memang melihat Inggris yang selama ini selalu ditampakkan dengan detail-detail elegan disulap Vaughn menjadi setting lingkungan gangster kelas teri. Di sisi lain, diberikan pula penawarnya, yakni gaya-gaya khas English man; motif tartan, setelan jas, dan tidak lupa sebuah payung yang memang jadi barang wajib. Kingsman tampaknya ingin memberi pelajaran bagi basic bro di luar sana untuk berhenti memakai topi snapback dan menggantinya dengan potongan rambut cepak rapi.

Menyamarkan diri sebagai sebuah toko jahit langganan kalangan terpandang, organisasi Kingsman ternyata bergerak menangani banyak operasi rahasia. Semua anggotanya diberi alias nama-nama ksatria pada masa Arthurian. Ciri khasnya pastilah cara berbusana ala gentlemen dan juga sikap santun pun memikat yang punya istilah populer ‘like a sir’. Dalam pencarian pengganti salah satu agen yang tewas terbelah dua, Harry ‘Galahad’ Hart (Colin Firth) dipertemukan oleh anak rekannya terdahulu yang tewas karena melindunginya. Sepeninggal ayahnya yang mantan agen rahasia itu, Eggsy (Taron Egerton) besar di lingkungan gangster yang tidak mengizinkan ia mengembangkan potensinya, di sinilah Eggsy memasuki candradimuka untuk menjadi The Kingsman sejati.

Selain gaya flamboyan para Kingsmen, tampilan norak ala Justin-Bieber-di-awal-kemunculannya ditampilkan oleh Samuel L. Jackson. Konon katanya, penilaian kredibilitas film action bisa dilihat melalui bagaimana tokoh sang antagonis. Dengan pribadi eksentrik Roderick Valentine (Samuel L. Jackson), cukup membuat jalannya film ini terasa lebih distingtif. Sebagai seorang environmentalis radikal, Valentine merasa harus melakukan pembersihan umat manusia besar-besaran dengan cara melepaskan radiasi yang membebaskan sisi agresivitas. Banyak mengingatkan dengan ide cerita novel thriller fiksi karya Stephen King berjudul Cell yang kabarnya juga akan menuju layar perak tahun ini. Keduanya sama-sama bercerita bagaimana manusia dihilangkan kemanusiaannya hingga mereka saling membunuh tanpa ampun dan meninggalkan dunia ini jadi kacau balau. Boleh lah dibilang kalo film ini masuk dalam sejajaran karya adaptasi tulisan Stephen King terbaik setelah Misery (1990), The Shining (1980), Pet Sematary (1989), The Green Mile (1999), bahkan The Shawshank Redemption (1994). Jangan diambil serius, ini sarkasme.

Memang tidak ada hal yang lebih menyenangkan ketimbang mengistirahatkan kinerja otak dengan menonton action flick macam Kingsman. Aksi-aksinya memperlakukan penonton seperti anak kecil—dalam konteks yang baik, mengizinkan larut dalam canggihnya peralatan tempur agen rahasia, serta serunya menyaksikan bagaimana rangkaian from zero to hero berlaku pada protagonisnya. Satu hal yang paling menganggu dari film ini adalah semakin terbuktinya asumsi bahwa karakter Michael Caine tua hanya bisa hidup apabila diwujudkan oleh film garapan Christopher Nolan, selepasnya ia hanyalah orang tua biasa yang sedang berakting. [WARN!NG/Adya Nisita]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response