close

Kolektif Betina: Habis Patriarki Terbitlah Kesetaraan

IMG_9943
Milla Deva - Kartika Jahja - Dinda Advena - Annisa Riskiana
Milla Deva – Kartika Jahja – Dinda Advena – Annisa Riskiana

Interview by: Tomi Wibisono & Adya Nisita

Tepat pukul tiga sore, kami tiba di Milas, sebuah tempat makan di bilangan Prawirotaman. Cukup ramai kala itu, perempuan-perempuan dari Kolektif Betina (kolektif yang terdiri dari perempuan-perempuan kreatif lintas kota) terlihat membicarakan hal yang cukup serius, tentu saja tentang pembubaran acara Lady Fast. Masih terlihat pula raut wajah kesal, yang seolah tak percaya ada aksi intoleransi di Jogjakarta—kota yang disebut-sebut sebagai city of tolerance—selain juga karena komentar-komentar konyol dari banyak orang di media sosial.

Mundur kebelakang, sebelumnya WARN!NG sangat antusias ketika mendapat kabar bahwa akan diselenggarakannya Lady Fast pada 2 April 2016. Sebuah acara yang bertujuan untuk saling menguatkan antar satu perempuan dan perempuan lainnya melalui medium kesenian. Tentu saja, ini adalah sebuah momen yang jarang terjadi. Merespons semangat baik tersebut awalnya kami sudah menyiapkan untuk melakukan liputan mendalam dan beberapa wawancara dengan pegiat-pegiat kolektif ini.

Namun sayang, ternyata hal baik tak selalu mendapat respons positif. Ketika masih ada sekolompok kecil massa—yang direstui aparat—yang kemudian membubarkan paksa acara sarat pesan ini.

Acara kemudian dibubarkan dan berita tersebar luas. Berita pembubaran ini bahkan diliput oleh beberapa media di luar negeri. Pernyataan sikap dikeluarkan, dan kutukan berhamburan di dunia maya. Namun itu tak lantas membunuh aksi-aksi fasis, mereka tetap ada, bahkan berlipat ganda.

Terenggutnya kebebasan berekspresi kemudian menjadi isu yang ditonjolkan. Kebebasan berekspresi memang salah satu hal yang diperjuangkan oleh kolektif ini, namun ada beberapa hal penting lain seperti isu kekerasan berbasis gender, pelecehan-pelecehan seksual di komunitas-komunitas, dan beberapa hal lainnya yang tak tersampaikan akibat pembubaran paksa ini.

Oleh karenanya, kami mengajak empat orang dari Kolektif Betina untuk berbagi pandangan tentang perempuan dan problematikanya. Empat orang itu adalah Dinda Advena, seorang fotografer yang kerap mendokumentasikan panggung-panggung hardcore-punk, selain juga kerap melakukan pameran di dalam dan luar negeri. Lalu ada Annisa Rizkiana, visual artitst yang belum lama ikut berpartisipasi di Jakarta Biennale, ia juga kerap membuat zine, dan aktif di beberapa kegiatan sosial. Kemudian ada Pramilla Deva, pegiat zine, yang kini sedang melanjutkan studi pasca-sarjananya, ia juga aktif Needle n Bitch dan kelompok belajar Kelas Kajian Kapital. Terakhir, ada Kartika Jahja, vokalis dari Tika and The Dissidents, aktivis kesetaran gender yang baru saja membuat campaign Tubuhku Otoritasku.

Ditemani cuaca yang sejuk, tempat yang rindang dan tentunya minus orang-orang intoleran, empat perempuan penuh karya ini dengan antusias berbagi pandangan-pandangannya.

Kartika Jahja  : K | Milla Deva: M | Dinda Advena: D | Nisa Rizkiana: N

Sekarang sudah banyak yang tahu apa itu Kolektif Betina dan Lady Fast, bisa ceritakan arti atau tujuan berada di sini secara personal?

N: Tujuan dari Lady Fast sesuai dengan tagline yang diangkat, yaitu “empowering each other”. Bukan cuma sekadar sebuah festival, tapi bagaimana perempuan-perempuan itu menempatkan diri mereka sebagai starter dalam masyarakat, dalam kelompoknya, dalam hal yang lebih jauh lagi. Juga termasuk persaudarian. Jadi, Lady Fast itu cuma nama, cuma istilah yang mau diangkat dalam acara ini. Relasi yang ada di kelompok ini lebih bikin aku sadar arti perempuan.

D: Awalnya kita punya grup di WhatsApp namanya Kolektif Betina, dan kita satu sama lain udah kenal belasan tahun. Lalu kita memutuskan untuk mengadakan acara ini, gathering yang dinamakan Lady Fast. Secara personal ini merupakan wadah, tempat kita untuk kumpul, ketemu bareng, tatap muka. Aku pengen bertukar karya, bertukar pendapat, sharing tentang pengalaman pribadi secara nyata dalam Lady Fast ini. Karena kita punya banyak keahlian masing-masing, jadi nggak ada salahnya bikin acara, bukan sekedar kopi darat aja, tapi bikin pameran, sharing. Kita melakukan sesuatu di sini, bergerak.

K: Lady Fast itu sesuatu yang gue rindukan banget karena di lingkungan tempat gue bekerja, baik itu di musik ataupun gerakan, memang banyak acara bertema perempuan, tapi terlalu serius. Banyak tema-tema perempuan tapi yang gue merasa, “di sini nih, yang kayak gini nih yang gue suka,” itu jarang sekali. Kolektif Betina dan Lady Fast adalah salah satunya. Sementara di bidang musik, di scene gue, cewek tuh nggak jadi satu. Dan rata-rata didominasi oleh cowok, cewek-ceweknya juga jarang ada yang kenal. Pun misalnya kita saling mendukung, itu tidak di jalur atau lorong feminisme. Sementara Kolektif Betina ini kuat banget feminisme-nya. Kalau Lady Fast sendiri sih acara puncaknya, tapi Kolektif Betina yang kemudian jadi rumahnya.

M: Aku sendiri merasa perempuan di ranah apapun terpisah-pisah, padahal kupikir semua punya pengalaman yang sama sebagai perempuan. Kita punya semangat untuk menghilangkan keterpisahan itu untuk lebih nyatu, lebih terpadu, jadi kenapa nggak sekalian dibikinin acara? Masing-masing anggota kolektif ini kan sebenernya cewek-cewek keren apapun yang mereka kerjakan. Misalnya, Nisa di gambar, terlibat juga aktivisme sosial bareng anak-anak kecil. Dinda fotografer, dan pernah pameran juga. Tika musisi, bahkan kemarin habis bikin video membawa isu perempuan ‘Tubuhku Otoritasku’. Semua punya kesamaan perspektif, meski background yang berbeda. Kalau itu dikumpulin jadi satu acara pasti keren banget.

Bagaimana mengumpulkan perempuan-perempuan dari banyak daerah untuk datang ke Lady Fast di Yogyakarta?

M: Intinya kesepakatan aja sih. Kita menentukan tanggal yang sekiranya bisa, makanya kita mempersiapkan ini sekitar empat bulan sebelumnya.

N:  Mungkin karena (dipengaruhi-red) perasaan relate satu sama lain. Jadi akhirnya kita berinisiatif sendiri untuk ngumpulin tanggal, bulan dan sebagainya.

K: Tahu kalau acara ini bakal jadi keren, aku jadi mengosongkan jadwal. Ketemu sama perempuan yang satu visi soal perempuan, mau baru kenal apa udah lama kenal, itu kayak nemuin sebuah oase. Apalagi ini grup yang isinya 30 orang, yang mana di grup WhatsApp sehari-hari membahas hal-hal yang nggak bisa diobrolin sama orang luar. Apapun yang terjadi pokoknya gue harus ada di Lady Fast ini. Jadi itu sih yang mendorong kenapa pada dateng dari seluruh penjuru nusantara ini.

D: Sebelum Lady Fast digagas bener, selama empat bulan itu, aku melihat sebelumnya memang temen-temen ini makin intens sharing, eskalasinya makin naik, makin bersemangat, makin merasa relate satu sama lain. Dan ketika kita memutuskan, “udah jadiin aja lah, kita nongkrong bikin acara,” mulai kepikiran siapa yang bisa.

Menurut kalian apa sih tantangan terbesar untuk gerakan-gerakan perempuan di negeri ini?

N: Kompetisi sama cewek kerasa banget lho, itu yang nggak aku temukan di sini. Kak Mila juga sempat ngomong gimana perempuan di dalam grup ini bisa taruh support di prioritas pertama. Jadi tantangannya mungkin adalah mengubah mindset temen-temen perempuan untuk bisa support satu sama lain daripada compete satu sama lain.

K: Kendala terbesar gerakan perempuan adalah satu, anggapan umum bahwa gerakan perempuan sudah nggak diperlukan lagi. Itu yang lebih susah di-tackle daripada bigot-bigot kemarin itu. Orang yang merasa gerakan perempuan sudah nggak diperlukan lagi justru mayoritas. Padahal faktanya: 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan seksual, 60 juta anak perempuan putus sekolah karena pernikahan anak akibat gender stereotype, dan sebagainya. Itu masih sedikit, belum ngomongin seksisme sehari-hari, soal diskriminasi.

  Sementara waktu kita terbuang untuk mendebat orang yang masih (menganggap-red) feminisme itu men-hating, feminisme nggak diperlukan lagi, feminisme itu perempuan yang mau mendominasi laki-laki. Jadi itu salah satu kendala terbesar di gerakan perempuan. Dan yang kedua seperti yang Nisa bilang, bagaimana perempuan ditempatkkan sebagai orang-orang yang perlu bersaing. Itu kan datangnya dari seksisme sebenarnya. Bahwa cuma boleh ada satu perempuan.

M: Secara general, tantangan eksternal itu adanya anggapan bahwa gerakan perempuan tidak perlu. Tapi kita harus lihat lagi siapa yang bicara. Kalau yang bicara itu orang yang punya privilege dalam masyarakat, dan kita harus akui bahwa laki-laki punya hak istimewa di dalam masyarakat. Menurutku, dia harus ngecek lagi privilege-nya. Yang kedua, upaya paling berbahaya untuk men­-tackle gerakan perempuan adalah dengan bilang bahwa, “ngapain sih bikin gerakan perempuan? Perempuan sudah setara, sekarang kan perempuan sudah bisa kerja apa saja, perempuan sudah bisa jadi menteri, jadi presiden.” Nah, itu kan pencapaian individu, tidak mewakili mayoritas perempuan umumnya yang masih mengalami represi. Patriarki itu sistemik banget, dalam arti: perempuan dari buruh sampai yang paling borjuis, semuanya sama mengalami represi gender.

Nah, tantangan internalnya: di antara kelompok-kelompok perempuan ini pun suka saling sikut dan kritik, padahal perempuan dari latarbelakang apapun tetap mempunyai satu kesamaan, yaitu mengalami represi karena dia perempuan. Padahal dalam kerja strategis untuk beraktivis sekarang sifatnya harus interseksional, ketemu dan bergerak bareng karena sebenernya yang kita hadapi sama.

D: Menambahi tantangan internal dari gerakan perempuan: selama ini ada pelabelan misalnya si A ini feminis, si B bukan feminis. Ada penentuan pakem-pakem bagaimana feminisme itu harusnya dilakukan. Mereka mulai men-judge, bahkan di dalam komunitas sendiri, si A ini nggak feminis karena dia dandan, terus dia cukur bulu ketek. Padahal ini keputusan kita sendiri, bukan karena kita korban iklan. Menurutku kebebasan berekspresi seharusnya menjadi salah satu dasar untuk membuat pertanyaan itu. Bukan karena harus terpaku dengan pakem-pakem feminisme.

M: Aku juga merasakan hambatan gerakan perempuan, bahwa satu individu merasa idealnya seperti apa, dan ketika ada perempuan lain yang mempunyai batasan-batasan tertentu yang membuat dia belum bisa mencapai itu, dia dianggap gagal. Dianggap kurang keren, yang menurutku itu nggak empowering banget. Kalau belum berani, justru dibantu dibikin berani.

N: Dalam masyarakat ada beberapa kelompok yang melihat term feminisme sebagai sesuatu yang atributis: jadi feminis itu pakaiannya harus terbuka, yang berjilbab atau ibu tumah tangga tidak bisa jadi feminis. Padahal bisa saja. Feminisme bukan masalah istilah, tetapi lebih kayak semangat sih, aku bilang. Keyakinan, belief.

IMG_9974
Kolektif Betina

Mengapa masih ada anggapan bahwa feminisme mengasingkan laki-laki?

K: Kenapa laki-laki merasa teralienasi dari gerakan feminisme? Karena mereka harus melepaskan privilege yang harmful buat perempuan, dan sebenarnya buat laki-laki juga. Privilege ini kan nyaman, maka pasti ada resistensi ketika kita mencoba membongkar nilai yang sudah segitu lamanya. Tapi akhirnya pertanyaannya adalah: laki-laki juga mengalami kekerasan lho, kok perempuan saja sih yang diperhatikan? Untuk melihat itu kita harus pakai lensa yang luas, ya. Bahwa kekerasan yang terjadi pada perempuan bukan hanya berupa kekerasan fisik, tapi sistemik, struktural, kultural.

Jadi kalau laki-laki dari lahir bebas mau kemana saja, sementara perempuan tidak; laki-laki bisa sekolah tinggi, tapi adik perempuannya disuruh sekolah sampai S1 saja, itu juga bentuk kekerasan. Kalau hal-hal yang kecil dihitung, pasti kelihatan banget ketimpangan kekerasan yang terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Kenapa laki-laki resisten, menurut gue karena sudah nyaman dengan posisinya; dibilang dosa karena (menyalahi, red) kodrat-kodrat itu, mungkin juga defensif karena ternyata mereka juga melakukan itu.

Meski begitu, sekarang sudah banyak cowok yang ikut gerakan-gerakan kesetaraan gender dan memakai kacamata feminisme, bahkan lebih feminis. Karena lu nggak perlu jadi orang kulit hitam untuk sadar bahwa rasisme itu ada dan harus dihilangkan. Dan lu nggak perlu jadi perempuan untuk sadar bahwa seksisme, diskriminasi, kekerasan itu ada dan perlu untuk dihilangkan.

M: Kalau ngomongin patriarki, yang dirugikan itu bukan perempuan saja tapi laki-laki juga. Karena patriarki itu sistemik, yang paling dirugikan itu perempuan, walaupun laki-laki juga dirugikan. Sebenernya dia (laki-laki, red) nggak punya pilihan juga. Misal, kenapa laki-laki harus kerja? Bisa saja kan dia pengennya di rumah, sukanya bersih-bersih rumah, jahit, nggak perlu ngantor. Tapi karena ada tekanan sosial, mereka dituntut dan disiapkan sejak kecil untuk jadi pemimpin. Jadi, kalau mereka mau sadar dan memahami lebih dalam, mereka pun sebenarnya dirugikan. Kalau mereka udah sadar mereka dirugikan juga, mereka pun bisa bersama-sama bareng perempuan membongkar nilai-nilai lama itu tadi. Sebenarnya kalau mereka bisa mendapatkan akses ke pengetahuan yang mendalam, itu akan mengarahkan mereka ke awareness, kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perilaku. Kalau terus menerus seperti itu, dunia akan menjadi lebih baik.

Tentang politik afirmasi seperti: penyediaan gerbong khusus perempuan dan kuota kursi di parlemen bagi perempuan. Apakah ini langkah yang berdampak positif untuk perempuan?

K: Saking seringnya perempuan dalam bahaya, dalam posisi rentan, itu jadi hal normal buat kita. Kesannya memang itulah konsekuensinya menjadi seorang perempuan. Sehingga solusi-solusi instan kayak gitu cepat diambil. Ibaratnya, kita ada di perang yang diserang terus-menerus, solusinya bukan lagi bagaimana menghentikan serangan, tapi bagaimana ambil tameng yang lebih tebal. Pasti pernah dengar bahwa kita hidup di mana perempuan diajari untuk tidak diperkosa, sementara laki-laki tidak diajari untuk tidak memperkosa.

Memang begitu, dengan harapan jangka panjangnya akan ada pemahaman kesetaraan gender, dan dengan sendirinya mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Tapi solusi gerbong perempuan, kuota, aurat, jam malam, bikin solusi utamanya semakin jauh. Dikasih ilusi bahwa itu adalah solusi akhir, dan dibebankannya ke perempuannya lagi. Yang paling konyol bagi saya tuh tanggapan kayak gini, “perempuan itu butuh perlindungan, kenapa pulang sendiri malam-malam? Kenapa nggak ada laki-laki yang nemenin? Perempuan itu kan makhluk lemah yang perlu dilindungi.” Dilindungi dari siapa? Ya dari laki-laki. Mendingan laki-lakinya saja yang berhenti melakukan kekerasan kalau gitu. Jadi bolak-balik ke perempuannya lagi kan, padahal solusinya ada di kita semua.

M:     Kadang perlu respon cepat, ya. Tapi ada kontradiksinya: karena ada respon cepat, jadinya kalau nggak dapet akses edukasi yang lebih dalam lagi, mereka akan menganggap solusinya sampai di situ saja. Akibatnya jadi nggak bisa berkembang analisis itu akarnya dari mana.

K: Aku melihatnya sebagai hal yang praktis. Misalnya, aku dalam keseharian mencoba untuk mengadvokasi, mengedukasi soal kekerasan terhadap perempuan. Tetapi di satu sisi, kalau aku pulang malam, sendirian, dan aku pake tanktop sama celana pendek, aku pun merasa perlu tutupin jaket biar nggak kenapa-kenapa. Itu bukan berarti melanggengkan anggapan bahwa perempuan harus menutup dirinya supaya tidak mengalami tindak kekerasan. Nggak sempet mikir gitu. Mau nggak mau, kita harus ada solusi cepat, tetapi solusi panjangnya juga jangan dilupakan. Kita mesti gerak terus untuk mengubah persepi, paradigma.

 bersambung ke Interview Kolektif Betina (part 2)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response