close

Konser Morrisey: Menyulap Jakarta menjadi Diorama Nostagia

morrissey_12

 

#MozJKT
#MozJKT

Siapa yang tak kegirangan mendapat kabar akan datangnya tamu yang sudah lama dirindukan? Se-antero manusia dari sudut belahan dunia manapun pun, tentu akan senang bukan kepalang kiranya jika mendapat kabar demikian. Seperti halnya, kala kedatangan sang legenda asal Liverpool ini  disiarkan KiosPLAY, rasa dahaga untuk ingin bersenadung dengan tembang-tembang memorabilia pun terbayarkan sudah.

Lalu lintas kota megapolitan padat, bercampur sesak dengan mendung yang mengepung lapangan GBK malam itu. Antrean padat yang mengular, hingga lumpur yang becek, tak lantas menjadi alasan bagi para pengemar mantan frontman The Smith ini untuk mundur. Ritus penyambut kedatangan sang legenda untuk kedua kalinya ini, menjadi terlalu sakral untuk dilewatkan begitu saja. Maka, tak heran, jika ribuan orang memadati stadion serta rela berjibaku untuk turut bergabung dalam barisan, dengan harapan dapat bernostalgia dengan nomor-nomor lawas dari pria asal Britania Raya ini nantinya.

Tepat pada pukul 18.00 WIB, gerbang baru saja dibuka. Antusias bertensi tinggi pun sudah tercium sejak pertama menginjakan kaki di tempat pertunjukan acara. Seperti biasa, sebelum sang bintang naik keatas panggung, berbagai video montage klasik ditampilkan dalam nyala pendar layar raksasa, sebagai pemanas atmosfer sebelum tirai acara dibuka.

#MozJKT
#MozJKT
#MozJKT
#MozJKT

Seakan sudah bersepakat sebelumnya, dengan kompak teriakan penonton memanggil “Morrisey! Morrissey! Morrissey!” nyaring terdengar seakan sakramen pemujaan agar yang ditunggu-tunggu segera naik ke atas panggung. Dan benar saja, tanpa tedeng aling-aling, tepat pukul 8, Moz mengokupasi panggung perhelatan dari KiosPLAY ini dengan mendaulat “Suedehead” sebagai nomor pembuka. Deru riuh tepuk tanggan pun pecah kala sang legenda ini mulai melantunkan lagu-lagu andalan.

Sapaan hangat dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, Moz menyapa “Terimakasih, Indonesia” dengan sedikit memaksa. Tanpa banyak basa-basi, Morrisey membakar atmosfer Jakarta malam itu dengan melantukan tembang “Alma Matters” yang sontak membuat penonton makin bergemuruh tak karuan. Meskipun tak lagi belia, di usia senjanya penampilan Morrissey tetap enerjik nan kharismatik. Berbagai track-track lawas pun tak ketinggalan ia bawakan. “Everyday is Like a Sunday” sukses menjadi nomor pamungkas, dalam set pembuka yang berhasil menyulap GBK Senayan Jakarta, bak diorama yang penuh dengan rona-rona bahagia.

Beberapa penonton sempat ketahuan berlinang air mata haru dapat menyaksikan idola nya tepat di depan mata mereka. Usai berhasil menjaga tensi agar tetap tinggi, Morrissey mulai menurunkan permainan dengan membawakan lagu dengan tempo yang lebih tabah. “Let Me Kiss You” ia pilih sebagai peredam suasana, yang kontan berbuah koor-koor panjang dari barisan audience yang terdengar sangat khidmat nan hangat.

Dengan penampilan layar-layar screen yang terlihat sangat sarkas serta provokatif, Morrissey menampilkan artwork bertuliskan “United King-Dumb” pada layar raksasa yang ia belakangi, yang sontak berbuah tepuk tanggan serta cibiran-cibiran setuju dari crowd. Morrissey, adalah salah satu musisi yang sensitif terhadap isu politik. Maka tak heran, jika dalam konser pertamanya di Indonesia pada 2012 silam, ia meminta Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk ditutup satu hari, dalam salah satu ridernya. Pria yang juga dikenal sebagai vegan garis keras ini, juga merupakan sosok aktivis Animal Defender.

#MozJKT
#MozJKT

Sosok Morrissey bagaimanapun tak dapat lepas dari image The Smith yang selalu melekat pada dirinya. Dalam konsernya kali ini, ia tak lupa membawakan lagu dari band lawasnya itu. “How if Soon is Now” ia sematkan dalam setlist pertunjukan tunggalnya malam itu. Tak ketinggalan “Kiss me a Lot”, “Ouijaboard”, “First of the Gang to Die”, serta “You Have Killed Me” ia bawakan dalam malam mendung disela-sela gerimis kota Jakarta malam itu. Sedikit menyingung mengenai Donald Trump, “The World Peace is None of Your Bussiness” pun juga ia lantunkan. Dalam pertengahan permainan, Morrissey memberikan kejutan.

Tanpa disangka, Morrissey meng-cover salah satu track lawas dari dedengkot band punk, “Judy Is a Punk” milik Ramones pun ia sikat, yang sontak makin membuat penonton berjingkrak-jingkrak. Dan alhasil, sumbangan suara bersahut-sahutan pun tak terhindarkan. Melibas 19 lagu tanpa ampun, untuk manusia berusia lebih dari 50 tahun bukanlah perkara yang muda. Tepat pukul 21.00, Morrissey ternyata mendaulat “Meat Is Murder” sebagai nomor pamungkas yang menyudahi pertunjukan dengan klimaks yang sedikit mengecewakan ini.

Penonton dibuat terkejut pada saat pertengahan lagu Morrissey hilang dari atas panggung, tanpa mengucap salam perpisahan. Disinyalir hanya gimmick oleh audience, barisan ribuan penonton pun dibuat kebingungan oleh tingkah sang bintang. Berdiri dan berharap-harap cemas, terpancar dari wajah penonton yang datang malam itu. Namun naas, hingga pendar cahaya panggung padam, Morrissey juga tak juga menampakan batang hidungnya.

#MozJKT
#MozJKT

Penonton pun lemas, bergerak mundur teratur dan pulang dengan berjubal pertanyaan di dalam kepala. Namun setidaknya, penampilan Morrissey yang kedua kalinya ini, masih bisa menuntaskan sedikit dahaga akan tembang-tembang memorabilia, yang sudah lama dirindukan oleh para pengemarnya, untuk dilantunkan kembali di depan mata para diehard nya. [WARN!NG/Reno Surya]

foto oleh: Dokumentasi KiosPLAY

Date: 12 Oktober 2016

Venue: GBK Senayan, Jakarta

Event by: Kiosplay

Man of The Match: Morrissey membuat Senayan banjir airmata via “Let me kiss you”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.