close

Konser Silampukau: Cita Rasa Surabaya Di kotanya Sendiri

Eki Silampukau 2
Silampukau
Silampukau

Sehari pasca perayaan peringatan hari kelahiran Indonesia yang ke-71, Silampukau mengelar sebuah konser tunggal, di kotanya sendiri. Konser ini tepatnya berada di Gedung CakDurasim, yang berada di sekitar kampong tua, Genteng kali.

Tepat seperti apa yang diperkirakan, 500 tiket habis terjual sebelum datangnya hari pertunjukan. Para pengagum kicau duo kepondang ini, sempat merasa iri, kala Silampukau terlebih dulu mengelar konser tunggal di TIM Jakarta Cikini. Dan pada kamis (18/08) lalu, band yang bereuni sekitar tiga tahun lalu ini, menepati janji sekaligus mimpi, untuk dapat melangsungkan konser tunggal di tanah kelahiranya sendiri.

Jam pendul telah berdentang delapan kali, pertanda konser harus segera dimulai. Antrean panjang mengular, menghiasi pelataran gedung bersejarah Surabaya ini. Sempat terjadi adu argumen, kala banyak penonton yang tak dapat menerima, bahwa tiket konser Silampukau, telah habis terjual, tidak ada tiket on the spot, seperti apa yang mereka perkirakan.

Animo konser mereka kali ini terasa sangat berbeda. Dalam sebuah teater drama yang tertutup tirai, kita sepertinya tidak dihadapkan dalam konser sebuah band folk, melainkan konser orchestra classic ala Mozart atau pementasan drama Caligula, karya Albert Camus yang terkenal itu. Mereka seperti tahu betul, bagaimana mengemas musik mereka sebagaimana yang Silampukau perlukan.

Silampukau
Silampukau
Kharis Silampukau
Kharis Silampukau

Perlahan tirai terbuka, dan benar seperti tebakan, mereka mengokupasi panggung dengan menampilkan set kejutan. Set yang  super kompleks, dan memang terlihat lebih mirip sebuah orchestra-dengan personil yang lebih minimalis-,ketimbang konser mereka biasanya. Kala intro mulai diperdengungkan, deru suit bercampur tepuk tangan riuh terdengar dari crowd penonton yang terlihat bersiap untuk sebuah kejutan.

Tensi yang sudah tinggi sedari awal, semakin memuncak kala Eki merapal mantra “Kami main bola di jalan raya/ beralaskan aspal bergawang sandal” sebagai nomor pembuka. Karena mungkin masih cangung, tampak beberapa dari audiens hanya bergumam kala lagu itu dilantunkan. Namun tak jarang juga yang sudah menyumbang suara secara lantang, sejak awal pertunjukan.

Hingga lagu ke-3, Silampukau masih menampilkan set standar. Tata panggung, serta lighting yang konseptual, berimbas apik pada atmosfer ke-syahdu-an. Nuansa sendu berhasil mereka bangun, kala Eki disoroti lampu sewaktu memainkan glock, guna sebuah interlude anyar, yang mereka baptis dengan judul “Penantian”.

Meskipun tanpa sepatah kata, tampaknya sebuah tembang instrumental ini memiliki kekuatan magisnya tersendiri. Kharis dan Eki, berhasil membangkitkan Chopin dan meminjam seluruh personil Mozart, di atas panggung Cak Durasim. Nomor “Aku Duduk Menanti.”, mengambil alih pertunjukan setelah “Penantian” selesai dilantunkan.

Pada “Malam Jatuh di Surabaya”, Kidung Kelana, musisi eksperimental diajak turut berkolaborasi di atas panggung. Kidung memainkan alat musik berupa gergaji yang digesek itu berhasil melahirkan nada sendu yang mendayu-dayu, mengiringi tembang andalan itu hingga usai, sebelum bersambung menghantar penonton untuk turut bergoyang, dalam lantunan nomor baru mereka “Aduh Abang Sayang”.

Alih-alih memainkan music folk, si duo kepondang malah menebar irama dangdut melayu, yang membuat siapa saja tak mampu menahan nafsu untuk turut bergoyang dan larut dalam riang, di bawah komando seorang Biduan, Lady, yang juga memainkan alat musik ukulele pada nomor lain. Usai menyita keringat dan riuh koor-koor panjang, kini tiba saat untuk rehat sejenak. Seluruh personil hilang tertelan tirai yang berangsur tertutup, dan lampu yang berangsur padam.

Kejutan lain dating dari crowd penonton. Tak disangka, pada saat break, panitia membagikan Marakas –sebuah alat musik shake- berbentuk seperti telur, yang bertujuan untuk mengawal Eki dan Kharis saat bermain lagu “Berbenah”, yang mereka bawakan sangat secara analog tanpa soundsystem.

Decik shaker dari arah penonton  menuntun mereka hingga lagu ini usai. Sugguh sebuahkonser yang sarat akan kedekatan, antara penonton juga penampil. Yang kontan,menancap pada setiap ingatan, dan akan sulit dilupakan. Tak lupa, tembang-tembang lawas yang terkandung dalam debut EP mereka layaknya “Cinta Itu” juga turut mereka lantunkan.

“Sambat Omah”, “Puan Kelana”, mereka bawakan secara orisinil, terdengar persis dan lengkap dengan berbagai pernak-pernik instrumen yang menambah semarak. Lautan audience terdengar lebih berperan sebagai paduan suara. Karena mereka tak henti-hentinya merapal mantra secara fasih, seluruh repetoar yang berada dalam album Dosa Kota Dan Kenangan

Eki Silampukau
Eki Silampukau

Pada 2 lagu terakhir, kini ode sambat sejuta umat, mengambil giliran untuk segera dimainkkan. Sejak sihir “Duh Gusti / Dulu kala semasa ku remaja“ lahir dari lidah Eki, tanpa tedeng aling-aling, penonton turut bersing-a-long ria, seakan suara mereka tak ada habis-habisnya. Dan hingga berada di ujung penutup acara, Silampukau melambaikan tangan pada nomor “Sampai Jumpa”, antusias dan sumbangan suara dari audience tak sedikit pun terdengar berkurang.

Sempat disoraki serupa rockstar papan atas dengan deru “Lagi..Lagi..Lagi..”, Usai menuntaskan janji dengan membawa 15 lagu penawar rindu, dengan berat hati,Silampukau member tabik, dan pamit untuk minta diri. Dan, di malam sehari pasca kemerdekaan, sekali  lagi, Surabaya dan segala realitanya dinarasikan kembali oleh putra kotanya sendiri. Setiap penonton berarak-arakan berjalan pulang, dengan satu catatan bahwa, skena musik Surabaya, telah bangkit, dan beranjak menuju level yang lebih tinggi. Duh gusti.. Silampukau ancen ngatheli!

Event by: Rumah Gemah Ripah

Date: 18 Agustus 2016

Venue: Gedung Cak Durasim, Surabaya

Watchful Shot :Mendendangkan nomor rahasia “Aduh Abang Sayang” yang memaksa penonton turut bergoyang.

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Gallery -> Silampukau dan Kawan Kawan

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.