close

Kriminalisasi Aktivis ForBALI Gagal Lemahkan Gerakan Tolak Reklamasi

14040133_10205554434334899_2713508070158755183_n
BTR
BTR

Koordinator ForBALI I Wayan Gendo Suardana dilaporkan ke Mabes Polri pada Senin(15/8) atas tuduhan penghinaan rasial. Oleh anggota ForBALI, pelaporan ini dituding sebagai bentuk kriminalisasi dalam upaya pelemahan gerakan tolak Reklamasi.

Senin kemarin (15/8) Pospera melalui Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) telah melaporkan Gendo kepada polisi. Gendo dituduh melakukan penghinaan terhadap Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) dan Adian Napitupulu yang merupakan Pembina ormas tersebut. Tuduhan itu bermula hanya karena kicauan Gendo  di Twitter. Seperti dilansir CNN Indonesia pada (15/8), juru bicara Pospera, Sarmanto Tambunan menerangkan bahwa Gendo telah menghina Pospera dengan memelesetkan akronim menjadi Posko Pemerasan Rakyat. Selain itu, Gendo juga dituduh rasis karena menghina fisik Adian Napitupulu.

Laporan tersebut menyusul cuitan (tweet) Gendo melalui akun @gendovara pada 19 Juli 2016 yang berbunyi “Ah, muncul lagi akun2 bot asuhan pembina pos pemeras rakyat si napitufulus sok bela2 susi. Tunjukin muka jelekmu nyet.”

Gendo dalam jumpa pers pada Selasa (16/8) mengatakan, kicauan tersebut harus dilihat dari konteks lebih luas dalam gerakan tolak reklamasi. Pada saat itu, Gendo sedang mengkritik kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang membiarkan izin lokasi terhadap PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Namun, kritik dengan tanda pagar #KecewaAmaSusi itu kemudian dijawab dengan akun-akun bot yang menggunakan tagar #BravoSusi.

Koordinator Tim Hukum ForBALI I Made Ariel Suardana mengatakan wacana menyeret tweet tersebut ke arah suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) sebagaimana dituduhkan Pospera,  hanyalah pengalihan dari isu tolak reklamasi Teluk Benoa. ”Pelaporan ini adalah salah satu cara merusak barisan yang terus melakukan perlawanan tolak reklamasi. Isu SARA rawan digunakan sebagai metode untuk menaklukan gerakan tolak reklamasi,” tutur Ariel.

Pelaporan ini sontak mendapat reaksi keras dari masyarakat Bali penolak reklamasi yang tergabung dalam ForBALI. Mereka menilai bahwa pelaporan ini adalah sebentuk kriminalisasi sebagai upaya pelemahan terhadap gerakan tolak reklamasi yang saat ini kian membesar.

Dukungan tidak hanya datang dari masyarakat luas, 30 advokat  juga menyatakan dukungan terhadap Gendo. Terkait dengan proses hukumnya sendiri, Tim Hukum ForBALI mengatakan saat ini sudah ada 30 pengacara yang siap mendukung Gendo. Tim Hukum juga sudah mempersiapkan langkah-langkah pembelaan secara hukum.

I Gede Ari Astina atau lebih dikenal dengan Jerinx melalui media sosialnya juga menyuarakan hal serupa. Menurutnya, tuduhan rasial terhadap Gendo jelas tidak benar. “Belasan tahun saya mengenal Gendo, rasial adalah salah satu sikap yg tak pernah ia miliki/tunjukan. Strategi melaporkan Gendo ini sangat amis berbau orde baru. Ciri khas strategi orang kalap,” tulisnya di Instagram melalui akun @jrxsid.

Hingga saat ini komentar dan dukungan untuk melawan kriminalisasi gendo terus mengalir melalui di media sosial. Netizen menyuarakan dukungan dengan tagar #SayaAdalahGendo dan #LawanKriminalisasiAktivisForBALI. Di samping itu, mereka juga mengganti gambar profil mereka dengan gambar berisi dukungan untuk Gendo. Ini membuktikan bahwa upaya pelemahan gerakan dengan kriminalisasi semacam ini justru malah semakin menguatkan gerakan.   [WARN!NG/Umaru Wicaksono]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.