close

Lady Fast: Ajang Kumpul Perempuan Kreatif

DSC05635

Meski berakhir di tangan ormas dengan tuduhan acara amoral, nyatanya Lady Fast menyimpan misi bagi perempuan melalui beragam kegiatan yang konstruktif.  

lady fast © kolektif betina
lady fast © kolektif betina
lady fast © kolektif betina
lady fast © kolektif betina

Sabtu lalu (2/4) harusnya jadi hari besar buat para perempuan. Kolektif Betina, sebuah komunitas yang diinisiasi untuk menjalin jejaring antarperempuan dari berbagai latar belakang kegiatan dan kreativitas, menyediakan ruang bertitel Lady Fast. Bukan salah ketik, penamaan Lady Fast sekaligus jadi penegasan kalau perempuan tidak selamanya lemah-lembut-lamban, mereka juga bisa bergerak tangkas.

Asumsi publik yang mengukuhkan citra perempuan masa kini umumnya selalu berpakaian senada dengan gaya seragam satu sama lain, lantas patah begitu saja. Peserta Lady Fast adalah negasi dari doktrinasi kalau perempuan harus berambut panjang, memakai rok dengan polah tingkah yang serba diatur. Sekumpulan ini memang kelihatan sangar dan liyan dari luar, kontras secara penampilan dengan masyarakat yang lalu lalang di seputaran Bugisan(tempat acara). Bukan urakan dan tak tahu aturan, melainkan mereka adalah perempuan-perempuan yang sadar jika haknya berekspresi tidak berada di tangan siapapun. Mereka berhak menggurat tubuh dengan seni rajah, memotong cepak rambut, berpakaian sesuka yang diingini, bahkan mencampakkan pisau cukur yang kerap kali menggores kulit ketiak sekalipun, karena itulah yang bisa dilakukan perempuan selaku pemegang otoritas tertinggi atas tubuhnya sendiri.

Sebuah keputusan bijak menghelat Lady Fast sebagai arena kecil untuk berkumpul. Tidak dipublikasikan bagi khalayak luas, Lady Fast berjalan intim dengan pengunjung yang tahu buat apa mereka di sana. Selain ragam lokakarya dan penampilan musik, disediakan pula ruang bagi insan-insan kreatif menggelar seni tangan mereka. Beragam pernak-pernik yanbg dibuat sendiri, zine, kudapan buatan rumahan, hingga kosmetik organik.

Berlokasi di SURVIVE! Garage yang tak luas-luas amat, acara ini terkesan makin karib. Dengan berjejal, pengunjung seolah dipaksa menjadi bagian dari Lady Fast. Sama seperti sedia kala, SURVIVE! Garage tetaplah berwujud layaknya rumah biasa, bedanya hari itu ia tengah menaungi perempuan-perempuan dengan aspirasi mendobrak kebiasaan.

Jarum jam baru saja saling tindih di angka 12 ketika venue sudah mulai dipadati orang. Di tengah cuaca Yogyakarta bagian selatan yang tak segan mendidihkan penghuninya itu, banyak kaum hawa merapati lokasi. Banyak pula kaum adam, atau mungkin beberapa yang masuk kaum bukan keduanya. Acara ini memang mengusung tema perempuan, namun tidak lupa bersikap inklusif, anak-anak, kaum trans, lintas gender, laki-laki, semuanya disambut hadir. Mereka menghimpun satu semangat yang sama, semangat saling mendukung, menguatkan satu sama lain, untuk terciptanya ruang kondusif bagi perempuan menunjukkan warnanya, mengekspresikan pikirannya, dan saling berbagi isi kepala yang baik-baik.

lady fast © kolektif betina
lady fast © kolektif betina

Dikelilingi rak buku, lokakarya kolase kata yang dipandu Ika Vantiani mengawali Lady Fast. Selain indah, sebuah proyek karya rangkaian kata ini adalah taktik cemerlang untuk memetakan persepsi kebanyakan soal perempuan. Peserta diminta menyusun kata-kata acak yang didapat dari tumpukan majalah serta terbitan lawas selepas diberikan pertanyaan, “kata apa yang otomatis muncul di benak setelah dengar kata perempuan?”. Ternyata kiprah Ika Vantiani tidak hanya sekali diadakan di ruangan ini, ia telah beberapa kali keliling ke berbagai komunitas. Lewat proyek Kata Untuk Perempuan, ia sering mendapat respon yang mengejutkan dan menarik soal perempuan.

Sehabis memandu lokakarya kolase, Ika pindah ke ruangan sebelah. Kini ia duduk bersila di sebuah garasi. Selain lebih semilir, ruangan tersebut telah dilengkapi selembar layar dengan pancaran sinar-sinar yang ternyata memancarkan serangkaian gambar bergerak berjudul Her Finger Power Scene. Ini adalah film yang mendokumentasikan perjalanan pengaryaan kolase tentang perempuan. Tajuk yang sama juga pernah digunakan untuk pameran kolase yang dibuat Ika sejak tahun 2008 hingga 2012 di Yogyakarta. Selepas menonton, tidak lupa si empunya sinema menggelar diskusi.

lady fast © kolektif betina
lady fast © kolektif betina

Disela rehat kurang lebih lima belas menit, acara selanjutnya bergerak ke sesi diskusi terkait kekerasan berbasis gender. Ditemani hembusan lamat-lamat dua buah kipas angin, Kartika Jahja dan Shera Rindra membagi kisah dan idenya soal isu ini. Awalnya mereka memastikan bahwa peserta punya paham serupa atas beda pengertian antara seks dan gender. Dua kata ini sering kali disalaharti pun dicampuraduk. Di tengah diskusi Shera sempat larut dalam emosi, mukanya memerah sembari terus memaparkan ragam kasus kekerasan seksual yang sampai ke meja pengaduannya. Katanya, 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan seksual. Menariknya, korban kekerasan ini seringkali tidak sadar kalau haknya tengah tercerabut, entah kurang edukasi atau memang sudah menganggap lumrah perlakuan yang ada, “risiko jadi perempuan”, mungkin itu pikir korban.

Pembahasan tersebut memang sensitif. Walaupun tentu saja tidak ada sedikitpun maksud untuk memojokkan lawan jenis, masih saja ada sebatang dua batang hidung yang menganggap feminisme selalu mengasingkan laki-laki. Suara berat itu berasal dari belakang, disinyalir tidak mengikuti diskusi sedari awal, ia bertanya, ”kenapa tidak ada komisi perlindungan laki-laki, kenapa tidak hilangkan saja label perempuan kalo ingin setara?” Untungnya Tika dan Shera masih setia menjawabi meski waktu sudah mendesak dan sejak tadi hawa tidak berubah sejuk. Feminisme bukan soal menempatkan perempuan ke kasta paling tinggi. Ini soal mengubah konstruksi nilai patriarki yang mengakar. Sebenarnya kungkungan patriarki tidak hanya jadi masalah buat perempuan, namun sayangnya laki-laki terlanjur lahir dan hidup dengan hak-hak istimewa yang bahkan tidak mereka sadari.

Setelah diskusi penuh peluh, peserta meringsek keluar dengan membawa sekelumit pengertian soal feminisme dan pentingnya sebagai perempuan untuk sadar atas hak, otoritas, dan potensinya lebih dari sekadar properti seperti yang selama ini diamini masyarakat. Yang betah asap rokok dan bisa tahan gerah, diam di dalam. Saya memilih menjejak area parkir, tetesan hujan sedikit-sedikit jatuh, angin yang meniup lembar-lembar daun kersen sampai juga menyapu kering keringat. Suasana di dalam masih sama semaraknya. Selang sedikit ada panggilan lewat mikrofon bagi komunitas Needle ‘n Bitch untuk segera merapat. Kelompok dengan semangat anarki ini mempromosikan hidup otonom dengan menghasilkan karya berupa kerajinan buatan tangan. Namun kala itu mereka bukan hendak buka kursus jahit-menjahit, melainkan membina lokakarya pertahanan diri. Sambil menunggu bergesernya pola pikir masyarakat yang tidak maju-maju, perempuan tampaknya perlu membekali diri dengan kewaspadaan lebih dan naluri survival tajam.

Confess
Confess
Leftyfish
Leftyfish

Sebagai penutup hari pertama, beberapa band lintas genre yang digawangi personil perempuan mendapat atensi penuh. Agoni, Confess, Hmm dan Lettyfish bergiliran menyulap area teras SURVIVE! jadi lantai dansa. Moshpit gig musik keras yang biasanya dikuasai laki-laki kali ini juga diokupasi perempuan-perempuan. Sungguh pemandangan yang langka melihat moshpit dikuasai perempuan-perempuan yang kali ini tidak canggung atau merasa tidak aman lagi untuk moshing, saling senggol dan bahkan stage dive.

Sangat disesalkan, Lady Fast yang ditutup pakai pertunjukkan musik tidak berakhir cantik dengan permintaan encore dari penonton. Malahan diambil alih oleh oknum yang dilegitimasi aparat dengan teriakan-teriakan kalimat maha suci. Ormas dengan pembenaran religius itu menuding Lady Fast sarat penyimpangan, tempatnya miras, dan penuh perempuan buruk laku. Lantas bisa apa, kalau peserta yang banyak pula membawa anak tidak juga mampu melunakkan laku beringas para perusuh itu. Acara bubar, penyelenggara diamankan ke kantor polisi, peserta pulang mengantongi amarah, sementara ormas macam ini lagi-lagi dimenangkan. Buntutnya, acara hari kedua Lady Fast dibatalkan penyelenggaraannya. Padahal ruang seperti Lady Fast sangat penting untuk dijamin keberadaannya. Di sinilah tempat di mana perempuan-perempuan leluasa mengekspresikan diri, menjadikan kaumnya berarti kembali. Maka jadi sangat relevan kalau Kolektif Betina mengusung tagline “Empowering Each Other’. Sayang, tampaknya hingga kini perempuan yang mandiri dan kuat masih ditakuti di masyarakat. Kemauan untuk berdikari masih terganjal konstruksi sosial absurd yang seringkali terangkum dalam satu kata: kodrat. [WARN!NG/Adya Nisita]

Event by: Kolektif Betina

Date: 2-3 April 2016

Venue: SURVIVE! Garage, Bugisan, Yogyakarta

[yasr_overall_rating size=”small”]

Galeri –> Lady Fast 2016

News terkait LadyFast 2016 –> Acara Lady Fast Dibubarkan Ormas

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.