close

Lagu Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

lagu indo

Back To:

Lagu Indonesia Terbaik 2016 (10-6)

5. Tika & The Dissidents – Tubuhku Otoritasku

Single pertama dari album Merah ini bisa menjadi anthem kuat untuk gerakan emansipasi gender. Lagu untuk para perempuan yang sudah jengah dengan mental masyarakat yang sok mengontrol perempuan, membuat seolah mereka tak punya otoritas atas tubuh sendiri. Dentum rock & roll mengalir enak di sepanjang lagu. Sementara itu Kartika Jahja menyanyikan lirik semacam “Ini milikku/ ku buka atau kututupi/ bukan parameter moralitas dan harga diri/” dengan lantang dan frontal. Mungkin karena metafora adalah teknologi yang kelewat canggih untuk manusia bebal. Video klip lagu ini juga melibatkan kolektif feminis Mari Jeung Rebut Kembali dengan konsep menarik. Dalam 5:02 menit, “Tubuhku Otoritasku” adalah senjata yang cukup ampuh untuk kampanye untuk meruntuhkan kuasa partriarki dan merebut kembali perempuan atas tubuh sendiri.

 

4.White Shoes and The Couples Company – Senja

Iringan megah Budapest Scoring Orchestra mengalun lembut seraya membuka tumpukan arsip masa keemasan di waktu lampau. Menghunus tajam kemudian menyisakan sedikit rona kesempatan di ufuk usia. Suara Sari menduyung pelan seolah berujar tentang petuah yang tak lekang oleh zaman; angan, harapan, dan kerinduan dalam bingkai memori bernama keluarga. Panggung pertunjukan seketika berubah menjadi ajang nostalgia; melepas beribu kenangan yang hendak dikucilkan entah di mana. Bersama Lie Indra Perkasa, mereka membuat karya terbaik setelah “Kisah dari Selatan Jakarta”. Singkat, namun membekas.

https://www.youtube.com/watch?v=ZZDI2Vpgr0c

 

3. Rich Chigga- Dat $tick

Awalnya kami sendiri butuh melakukan verifikasi berulang terkait viralitas “Dat $tick”. Kami sangsi apakah sang remaja dengan polo merah jambu dan tas pinggang Reebok yang menyanyikannya benar-benar orang Indonesia, bukan penduduk Chinatown yang baru saja pindah ke pinggiran New York. Selain wajah peranakan Tionghoa membuat kewarganegaraannya tak teridentifikasi dari segi fisik, ia juga melancarkan bahasa inggris secara amat fasih dalam lirik berdiksi kompleks perihal friksi gangster yang tentu tidak terbayang muncul dari kepala ABG Indonesia. Belum lagi kita bicara teknis flow dan delivery di dalamnya yang amatlah canggih. Ada Jogja Hip Hop Foundation yang berhasil mendunia dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh barat. Rich Chigga justru menawarkan sesuatu yang semirip mungkin dengan yang dimiliki oleh barat, sialnya ia tetap saja berhasil.

 

2. Dialita – Di Kaki – Kaki Tangkuban Perahu

Mencari satu lagu favorit dari album yang begitu kuat adalah hal yang cukup sulit. Tapi “Di Kaki-Kaki Tangkupan Perahu” memberi pengalaman rasa dan sinematik yang begitu sublim. Dibuka dengan desir angin yang disambung petikan gitar syahdu mengantar choir merdu tentang semangat tani yang tak pernah padam. Lagu ini diciptakan tahun 1960-an untuk mengiringi perjuangan hak kaum tani di UUBH (Undang-Undang Bagi Hasil) dan UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria). Setelah itu, siapa yang tidak luruh mendengar baris “malam dijemput suara kecapi/ siang dibernasi suara aksi/ di sini juang dipadu membina dunia baru nan jaya” yang dinyanyikan solo.  Kolaborasi Frau, Sisir Tanah dan Lintang Radiya pun terdengar indah bersahaja, saling melebur. Pasca-ditutup kembali dengan desir angin dan denting piano yang makin melirih, kita bisa merasakan bara hangat di dada masing-masing.

1.Libertaria – Orang Miskin Dilarang Mabuk

Saya mengidap kelainan berupa ketidakmampuan untuk bergoyang mengikuti irama dangdut. “Orang Miskin Dilarang Mabuk” kemudian adalah lagu dangdut pertama yang sanggup membuat saya bergoyang, hingga akhirnya saya sadar alasannya. Ternyata irama lagu ini memang bukan dangdut, melainkan beat elektronik yang justru sedikit berkarakter hip hop. Di luar keterlibatan vokal dari Farid Stevy Asta, melodi kibor yang mbeling itu rasanya juga akan relevan untuk terselip dalam lagu FSTVLST. Selain inovatif di sisi aransemen, konten lirik dari tembang ini pun sangat kontekstual di momen rilisnya wacana RUU larangan minuman beralkohol sebagai tindak lanjut beragam Perda larangan miras sebelumnya. Padahal mandam untuk kaum papa bukan lagi perkara moral, agama, atau dampak kesehatan yang didramatisir. Ini soal kesenjangan kelas, “Bagi orang kaya mabuk itu gampang / Buka botol import Karena banyak uang / Miras nenek moyang malah dilarang”. Dangdut bicara ciu? Kemelaratan? Mangkel pada pemerintah? Bukan sesuatu yang baru. Justru ini yang menunjukan kejelian Marzuki menghidangkan problem sosial yang sudah akrab dengan akar rumput, seraya memobilisasikannya ke isu yang lebih substansial. Mulus, tanpa terasa memaksakan intelektualisme elite. “Stres itu adalah hak asasi / Orang miskin juga butuh kanalisasi.” Dangdut dan alkohol adalah kanalisasi rakyat. Libertaria mengoplos keduanya dengan takaran yang cespleng. Jika benar dangdut adalah darah rakyat Indonesia, lagu-lagu seperti “Orang Miskin Dilarang Mabuk” diharapkan menjadi bakal leukimia stadium 4.

lagu indonesia terbaik 2016
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.