close

Lagu Indonesia Terbaik 2019

lagu indo

5. The Adams – Pelantur

Album Agterplaas mengembalikan kejayaan The Adams di penghujung dekade kedua milenium 2000 ini. Single “Pelantur” lepas ke publik menandai kembalinya mereka ke skena. Tidak ada perubahan yang mencolok menandai come back ini. “Pelantur” masih sigap dengan powerpop seperti lagu-lagu dalam album yang dirilis belasan tahun lalu dalam V2.05 (2006), dan self-titled (2005) yang sejatinya riskan jadi usang hari ini.

Toh, faktanya The Adams yang sudah jadi om-om ini kembali manggung menggaet barisan pendengar baru dengan semangat muda lewat rilisan ini. Persoalan usia hanya jadi bahan seloroh Ario dan Ale. “Pelantur” jadi lagu mereka yang paling bertenaga, nyolot, sekaligus dinamis. Memang sifat-sifat itulah yang membuat The Adams seperti Wiranto, tak mati-mati.

 

4. Lair – Nalar

“Nalar” jadi kata yang laris di masa-masa pemilu. Ia digoreng oleh berbagai kelompok demografi lewat ciutan tweet sampai debat panas Mata Najwa. Kata yang bernuansa riuh ini diangkat dengan riuh juga oleh eksponen musik non-kota besar paling menarik tahun ini.

Lair membawakan lagi musik endemik yang mewabah pada dekade ‘30-an di bilangan Pantura, Jawa Barat. “Nalar” membawa pendengarnya ke lagu-lagu Mama Jana sang seniman tarling klasik. Harmoni vokal apik dibalut dengan permainan gitar yang terbuat dari tanah liat. Daripada bingung sendiri, mereka pun menyebut aliran musiknya “pantura-soul”. Jika belum terdengar cukup sangar, tonton ketika lagu itu mengiringi tari sintren di video musiknya.

 

3. Kopibasi – Bapak

Bapak bisa jadi sosok yang asing bagi masyarakat kita. Sosoknya misterius saat kita kecil, karena dia harus pergi melulu menjemput rezeki. Dia juga bisa jadi sosok ngeri, karena tampak selalu benar di hadapan kita. Seiring dewasa, anak-anak ini perlahan bisa melihat bapak dalam dimensi manusiawinya: hasratnya, bebannya, nakalnya, dan kekalahan-kekalahannya. Dibanding ibu, sosok bapak yang kaku, dan membuat canggung terkadang lebih rumit.

Lagu ini berusaha menyibak lapisan-lapisan emosional yang tertahan tersebut. “Kau belum puas jadi bapak / Aku belum lunas jadi anak / Hidup sudah habis / Apa mati nanti romantis”. Mungkin kita tidak akan pernah tahu apakah seorang bapak akan pernah puas menjadi bapak. Namun, lebih mudah merasa bahwa kita tidak akan pernah lunas menjadi seorang anak.

 

2. Jason Ranti – Lagunya Begini, Nadanya Begitu

Lagu-lagu Jason Ranti memang aneh dalam artian yang bagus. Teknik penulisan lagunya memang cerdas, dan nakal dengan subteks maupun intertekstualitas. “Lagunya Begini, Nadanya Begitu” jelas ditulis oleh seorang fanboy Sapardi Djoko Damono. 

Sementara fanboy sejenis hanya bisa terjebak menulis larik dengan diksi “hujan”, dan “senja”. Jason Ranti tidak mendaur ulang dengan banal bahan-bahan musikalisasi puisi “Aku Ingin”. Ia memang brengsek, karena musiknya bagus, dan lagunya serius. Serius? Iya dong, dengan nyanyi, “Aku ingin ngopi dengan sederhana di Bulan Juni dengan murid cantikmu di UI”. Fak yu Jason Ranti.

 

1. Hindia – Secukupnya

Harus diakui, 2019 adalah tahun yang buruk untuk Indonesia. Lagu “Secukupnya” jadi lagu paling “mengganggu”, dan berhasil merepresentasikan mala petaka ini. Mendengar “Secukupnya” seperti membaca buku terlaris beberapa tahun terakhir di Indonesia, yaitu The Subtle Art of Not Giving a Fuck dari Mark Manson.

Jadi wahai para pemeluk anxiety, PTSD, pelaku quarter life crisis, sad boy, feminis, sobat ambyar, kawan hijrah, aktivis generasi ‘98, aktivis generasi ‘19, rezim Jokowi, korban penggusuran, cebong, kampret, bung, nona, semua. You know what? Kita semua gagal.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.