close

Lagu Internasional Terbaik 2016 (5-1)

lagu inter

Back To:

Lagu Internasional Terbaik 2016 (10-6)

5. Car Seat Headrest – Drunk Driver / Killer Whales

Car Seat Headrest menganalogikan seorang pengendara mabuk dengan paus pembunuh (orca). Sama-sama membahayakan sekitarnya, padahal sesungguhnya keduanya hanya ingin pulang ke rumah. “We are not a proud race / It’s not a race at all / We’re just trying / I’m only trying to get home. Toledo memang bersenandung seperti alkoholik yang didera sejuta masalah dan angin malam. Lagu ini tentang penyesalan dan renungan. Kabar buruknya, akan ada banyak remaja yang merasa mendapat anthem untuk berkendara sambil mabuk.

 

4. Rae Sremmurd feat Gucci Mane – Black Beatles

“Love those Black Beatles #MannequinChallenge,” tulis penggawa Beatles, Paul McCartney yang turut berkontribusi pada viralitas meme tersebut. Meski tak disengaja, namun “Black Beatles” memang punya kedalaman komposisi yang membuat kita tersedot dan mematung di dalamnya. Yang pasti lagu ini sukses menjadi artefak kultur digital yang lebih luas. John Janick, kepala label Interscope berucap, “Tanpa Mannequin Challenge, lagu ini tetap akan menjadi hit. Tapi dengan Mannequin Challenge, ini menjadi dahsyat.”

3. David Bowie – Lazarus

Salah satu swan song terbaik yang pernah dirilis. Look up here, I’m in heaven / I’ve got scars that can’t be seen” kanker livernya yang tak terjamah media massa menjemput nyawanya pada 13 hari setelah lagu ini dirilis sebagai single. Jika Kurt Cobain memilih “to burn than fade away”, David Bowie memilih menjadi kekal. Seperti dalam kepercayaan nasrani, Lazarus dibangkitkan lagi oleh Yesus. Sebuah atraksi kekuatan tuhan untuk menangkal akhiran. I’ve got drama, can’t be stolen / Everybody knows me now,” Bowie pun menegaskan bahwa tak ada yang mampu mengakhirinya. Kemegahan ”Lazarus” membuat dunia tidak akan melupakannya, baik saat hidup maupun momen kematiannya.

2. Bon Iver – 22 (OVER S∞∞N)

22, A Million diawali dengan latar loop merinding yang disambut suara-suara asing bertutur “two, two”. Justin Vernon memang terobsesi dengan angka 22, dan kita tak harus tahu alasannya. Sejak kapan kita memahami apa yang dilakukan dan diciptakan olehnya? Fundamen yang memperantarai unsur digital lain seperti sample “How I Got Over” dari Mahalia Jackson dengan unsur organik berupa saksofon, kocokan gitar dan vokal teduh Vernon? Atau lirik, “There isn’t ceiling in our garden / And then I draw an ear on you / So I can speak into the silence?  Semua yang ada di lagu ini terdengar nyaman tanpa harus terdengar padu. Upaya artistik yang mempreteli keserasian demi membangun pesona yang lebih kokoh.

 

1.Radiohead – Daydreaming

Sama seperti In Rainbow (2007) dengan “Reckoner”, A Moon Shaped of Pools menyimpan sebuah single yang dahsyat. Saya kian curiga kita selama ini sudah dikendalikan oleh mereka. Di saat kompleksitas sudah menjadi natural bagi komposisi-komposisi Radiohead, kita tak pernah bisa lari jika tiba-tiba mereka dengan sengaja memberikan sensibilitas pop di salah satu lagunya. Satu lagi bukti konspirasi kontemporer ini adalah “Daydreaming”, karya mereka yang bahkan lebih sinematik dari ”Exit Music (For A Film)”. Meruang dan membius bak musik latar film-film kolosal ataupun adegan-adegan klimaks psychological thriller. Semua partikel aransemen sangat presisi. Efek pitch-warping di intro, permainan piano yang memandu imaji mengelilingi sekujur lagu, hingga biola orkestra yang menggeram dan mengambil alih nuansa. Teruntuk yang bersedia menyelami lebih jauh, telisik juga manipulasi vokal dari pesan lirik tersembunyi di bagian akhiran, “half of my life“, “I’ve found my love“, dan “Every minute, half of my love“. Lagu ini memang tentang rentang masa yang berlalu dan hilang dari kehidupan Thom Yorke (vokal). Yah, setidaknya kita tak akan pernah kehilangan dirinya. Bagaimana bisa jika sampai di dekade ketiganya pun Radiohead masih menciptakan karya terbaik?

 

lagu internasional terbaik 2016 | design by: Hariz Ghifari

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response