close

Lagu Internasional Terbaik 2016

lagu inter

10. White Lung – “Dead Weight”

Tidak ada kata pemanasan untuk album Paradise, “Dead Weight” langsung membuka paksa dengan banyak tanda seru, “A pound of flesh lays between my legs and eyes”. Apakah ingar bingar melodi gitar yang menggeliang-geliut menyerupai synthetizer itu sedikit terdengar seperti metalcore? Tunggu dulu, lagu ini tentang konformitas gender, “So spare your good seed, I’m getting bored and old.” Hanya punk rock yang bisa membuat lirik setajam itu.

 

 

 

 

9.Nick Cave and The Bad Seeds – Girl In Amber

Just step away and let the world spin / And now in turn, you turn / You kneel, lace up his shoes, your little blue-eyed boy ” Cave melibatkan sang istri, Susie Bick dalam salah satu kepingan kontemplatif dari bagaimana ia menghadapi tragedi yang baru saja menewaskan putranya. Ada ketegaran yang syahdu dalam pilihan kalimatnya, “I used to think that when you died you kind of wandered the world  / In a slumber till you crumbled, were absorbed into the earth / Well, I don’t think that any more.” Akhirnya, dengarkan bagaimana setiap getaran suara di lagu ini turut berbelasungkawa.

8. Iggy Pop – American Valhalla

Ia sempat berujar; musik telah membunuhnya secara perlahan. Entah karena faktor takaran alkohol yang tertuang di gelas kecilnya atau memang ucapannya memuat kegelisahan yang mengganggu di sisa-sisa malam. Namun kita semua tahu bahwa hal tersebut tak akan terjadi. Sekeras apapun usahanya memberhentikan diri, jiwanya hanya mampu terobati dengan keliaran riff yang banal, improvisasi aksi panggung yang bernas, serta gestur telanjang dada yang ikonik. Sampai pada suatu titik, pernyataan penegasan pun muncul dengan terbitnya “American Valhalla”. Menggandeng Josh Homme, Iggy berhasil mewujudkan semiotik berharganya dari Post Pop Depression yang melayang di atas montase pertandingan tinju klasik antara Dick Tiger melawan Gene Fullmer pada tahun 1963. Tenang, ia hanya ingin menikmati masa kaburnya yang tak sesingkat biasanya.

7.Dinosaur Jr. – I Walk For Miles

Tak ada yang menyenangkan selain merayakan kerapuhan umur dengan cara bersenang-senang. Baik J. Mascis, Lou Barlow, maupun Murph nampaknya paham betul bagaimana memeriahkan panggung bersama teriak massal serta umpatan kenyamanan selepas lebih dari 25 album ditelurkan. Tentu “I Walk For Miles” bukan pelarian semata. Segala atribut yang dibutuhkan untuk menggelar gemerlap pesta ada di sini. Semacam solo gitar yang menggiurkan serta pukulan bertenaga laiknya nomor-nomor di era Green Mind. Tapi apakah sebatas itu saja? Tentu saja tidak. Jangan singkirkan faktor emosional di dalamnya. Hal tersebut tak akan berhasil jikalau separuh energi dibiarkan menggelinding begitu saja dan letupan histeris seperti bocah SMA tak terdengar resonansinya.

 

 

6.Leonard Cohen – Treaty

Desahan vokalnya merintih lara, menandakan usianya semakin tergerus usia. Kegetiran, kehampaan, dan mungkin juga rasa penyesalan terlihat jelas di pelupuk mata. Ia tak sekedar melantunkan lagu. Kata-katanya lugas, syairnya penuh makna, dan terkadang ia malah terdengar seperti membacakan narasi panjang tentang keseimbangan semesta. Di kala temaramnya fajar tak lagi menyinari optimismenya, ia menciptakan “Treaty”, balada yang nantinya terkenang selama hayat. Kira-kira semacam “Hallelujah” ataupun “Suzanne” yang magis itu. Akan tetapi kita harus merelakannya pulang ke haribaan tatkala musim panas mulai meninggalkan khatulistiwa serta burung-burung saling menyiulkan melodi sendu tanda perpisahan.

 

 

 

Read More:

Lagu Internasional Terbaik 2016 (5-1)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response