close

Lagu Internasional Terbaik 2018

lagu inter

10. DJ Koze – Club Der Ewigkeiten

Ketika lagu pertamanya seperti ini, kita pasti akan bertanya-tanya, “album elektronik seperti apa yang sedang kudengar?” “Club der Ewigkeiten” dengan anyaman  synth loops, alat tiup, dan vokal menggema lirih memberikan introduksi yang mempesona bagi album Knock Knock. Seperti musik latar video game RPG fantasi yang memberi rasa melankolis, menegangkan, sekaligus delusif. Sulit diuraikan namun puitis.

 

9. Kendrick Lamar, SZA – All The Stars

 

 

Cukup membingungkan ketika soundtrack manis Black Panther ini secara resmi adalah milik Lamar (tidak ada di setlist konser-konser SZA) meski ia hanya menyumbang satu verse yang tak terlalu impresif. Secara struktur, “All The Stars” memang sangat generik, tapi daya tariknya bernaung pada chorus dariSZA yang dahsyat. Begitu gemerlap, seakan bintang-bintang runtuh menyambut harapan yang akhirnya tiba setelah puluhan purnama. Praktis, nomor terbaik dari Marvel Universe sejauh ini.

 

8. Courtney Barnett – Need a Little Time

 

Courtney Barnett di album keduanya tidak seeksplosif sebelumnya. Namun, di momen terkontrolnya ini pun–(“I don’t know a lot about you but / You seem to know a lot about me so / I take a little time out”)–kita tetap ingin mengajaknya nongkrong dan mendengarkan racauan di lirik-liriknya. Indie rock renyah dengan vokal perempuan sudah mulai terdengar seperti pop punk di awal 2000-an, tapi mungkin memang hanya butuh waktu lebih untuk menemukan bahwa lagu ini punya selisih dengan yang lain.

 

7. Janelle Monae – Screwed (feat. Zoe Kravitz)

 

Lagu ini salah satunya terinspirasi dari kutipan aktivis feminis bernama Gloria Steinem: “I’m just tired of being screwed, and being screwed by my friends.” Memang melelahkan untuk terseret sistem yang selalu mengantarkan kita pada kekecewaan, seperti  birth control hingga laku korporasi media massa. Nomor kolaborasi persahabatan tongkrongan aktris ini adalah provokasi untuk mengguncang kondisi status quo. Kemampuan vokal sang putri Lenny Kravitz memang cuma secuil dari Monae, namun justru sisi amatir dari suaranya itu memberikan kesan kolektif dari kesadaran perempuan untuk menciptakan perubahan.

 

6. Kacey Musgraves – High Horse

 

Sebuah lagu sindiran untuk sosok pongah yang selalu merasa lebih hebat dari orang lain–sebagian orang menafsirkan lagu ini ditujukan untuk Sturgill Simpson karena aksi protesnya terhadap Country Music Association Award: “Oh, I bet you think you’re John Wayne / Showing up and shooting down everybody.” Mantapnya, lagu yang terdengar seperti koboi masuk diskotek ini sendiri dinyanyikan dengan sangat santun dan anggun, hingga tak mungkin kita tak berpihak pada Musgraves. Bahkan, oleh saya yang tidak suka musik country dan film-film John Wayne.

 

5. U.S Girls – Pearl Gates

Jangan pernah sudi memberi izin masuk pada penis seorang pria tolol yang malas membawa kondom, termasuk ketika ia mengatakan, “aku pandai mencabut penis sebelum orgasme”. Bahkan, jika itu adalah penis Santo Peter sekalipun. “Peter bragged he was good at pulling out / He always knew the right time to take a bow”. Narasi edukasi seksual yang sinting ini disampaikan dengan komposisi ciamik, membuat berdansa dan berani.

 

4. Lady Gaga – Always Remember Us This Way

Di saat industri musik hari ini seakan sudah bernapas dengan bebunyian elektronik dan bergerak dalam aransemen yang padat–termasuk lagu-lagu Lady Gaga sendiri–lagu dengan komposisi konvensional seperti ini terdengar sangat-sangat segar. Hening-hening yang dirindukan itu, bersama materi yang benar-benar bertaruh pada kualitas vokal penyanyinya. Di filmnya sendiri, “Always Remember Us This Way” adalah lagu yang dinyanyikan Ally (Lady Gaga) pertama kali di depan khalayak. Dan di momen itu, penonton di bioskop sama terperanjatnya dengan penonton di dalam film, bahkan meski kita sudah kenal kemampuan bernyanyi Lady Gaga sebelumnya.

 

3. Arctic Monkeys – Four Out of Five

Lagu ini membuat saya sadar satu hal yang membuat Arctic Monkeys berhasil lolos dari gejala kiamat musik pop yang mulai saya rasakan–lagu-lagu sekarang punya hook yang terdengar sudah pernah dipakai berulang-ulang sebelumnya (senggol Ariana Grande, Robyn, The 1975). Alex Turner punya kebiasaan menyusun melodi sangat khas, salah satu andalannya adalah menyelundupkan hook dan colongan melodius di antara rapalan kata yang padat (semi-rap)Formula ini bisa ditemukan di “I Bet You Look Good On The Dance Floor”, “Crying Lightning”, “R U Mine?”, dan kini “Four Out of Five”. Lirik lagu ini pun terlalu cerdas dan unik untuk punya kembaran. Saya beri empat setengah dari lima bintang.

 

2. Cardi B – Bodak Yellow

Mungkin saya bisa dikomplain karena lagu ini seharusnya masuk di senarai tahun 2017–dirilis sejak Agustus tahun lalu–tapi ini sekaligus menunjukan bahwa “Bodak Yellow” terlalu monumental sehingga klaim selisih satu tahun menjadi persoalan. Bahkan, lagu ini sudah banyak ditahbiskan sebagai lagu terbaik di tahun 2017 (versi Pitchfork, Washington Post, dll.). Ah, itu hanya soal administrasi–tepatnya, karena albumnya baru rilis tahun 2018–tapi toh gaung dan impaknya masih terasa sampai sekarang. Ada banyak alasan lagu dengan flow yang mengadaptasi  “No Flockin 2” dari Kodak Black secara jauh lebih sangar ini viral, tapi salah satunya sudah pasti dari internal lagunya sendiri. Seluruh suara Cardi B di lagu itu adalah hook, membuatnya bersanding bersama “Doo Wop (That Thing)” dari Lauryn Hill sebagai lagu rap wanita terbesar sejauh ini.

 

  1. Lady Gaga & Bradley Cooper – Shallow

Biasa saja. Saya menonton filmnya di bioskop tanpa menangis, pulang sambil bercakap sedikit dengan teman menonton, lalu memberi rating standar ke film itu di media sosial. Esoknya saya mendengar sejumlah teman kantor bersemangat mengobrolkan film yang sama sambil sesekali mereka memutar lagu ini. Dan akhirnya saya berpikir, dari “ternyata lagu ini enak juga” menjadi “Njir, lagu ini mantap”. Biasa terjadi kan?

Lagu ini sangat bagus sehingga menyukainya adalah hal yang lumrah saja, tidak perlu berwawasan seluas samudera di budaya pop atau punya selera musik setinggi langit. Bahkan, lagu ini masuk ke sejumlah nominasi penghargaan ternama, mau itu  film (Golden Globe, dan nantinya Oscar) atau musik (Grammy). Sangat mainstream. 

Bahkan. analisis untuk lagu ini juga kaprah saja, semua tahu kelebihannya: verse dan chorus yang catchy serta harmonisasi vokal klimaks Gaga di interlude. Atau jika sedikit menguasai bahasa Inggris, akan tahu liriknya cukup mendalam (“mendalam”, maaf terdengar cringe).

Cuma satu argumen yang bisa saya ajukan sebagai seseorang yang mendengar cukup banyak lagu baru: tidak ada yang bernyanyi lebih baik dari Lady Gaga tahun ini.

DAFTAR LENGKAP ALBUM, LAGU & FILM TERBAIK 2018 BISA DIBACA DI TERBAIK-TERBAIK 2018

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response