close

Lagu Internasional Terbaik 2019

lagu terbaik

10. Tyler, The Creator – I Think

“I THINK” adalah salah satu nomor dengan aransemen paling mengkilap di album IGOR. Single ini bisa jadi adalah representasi terbaik dari album kelima Tyler, The Creator. (Bahkan Tyler sendiri mengaku paling memfavoritkan lagu ini). Irama rancak, semburat distorsi bas, lalu sepotong demi sepotong bunyi synthesizer melintas bernuansa ‘80-an. Liriknya bicara perihal peraduan antara akal, dan hati terkait keputusan untuk jatuh cinta, “I think I’ve fallen in love (Skate) / This time I think it’s for real (Four, skate)”. Berkolaborasi dengan balutan konsep besar dan musiknya, larik-larik sederhana ini sanggup membuat kita masuk ke semesta psikologi seseorang yang tengah dirundung asmara.

 

9. Slipknot – Unsainted

“Unsainted” memecahkan rekor, menjadi video musik Slipknot dengan penonton terbanyak dalam rentang 24 jam pertama. Selain berkat gimmick topeng baru, potongan chorus, “Oh, I’ll never kill myself to save my soul” di antara dentuman meledak-ledak itu terlalu catchy untuk gagal mendulang angka view berulang-ulang. Siap jadi gacoan baru untuk membuat seisi stadium melolong sambil menendang satu sama lain (termasuk di Hammersonic 2020, sampai jumpa, guys!).

 

8. The National – Light Years

 

Belakangan kian banyak musisi memasang lagu terbaik di urutan akhir albumnya. Salah satunya adalah lagu ini. Matt Berninger selaku vokalis The National berucap bahwa terkadang komposisi bikinan Aaron Dessner tampak disiplin pada aturan formal musikal, tetapi terkadang ia bisa membuat komposisi yang seratus persen terbangun dari emosi. “Light Years” adalah contohnya. Permainan piano sendu menjadi kerangka lagu dengan tema lirik perihal seseorag yang terpisahkan oleh perasaan, “Oh, the glory of it all was lost on me / ‘Til I saw how hard it’d be to reach you / And I would always be lightyears, lightyears away from you”. Lagu ini mungkin jadi lagu teremosional milik The National. Damn, ninjas cutting onions!

 

7. Lizzo – Juice

“Juice” adalah salah satu lagu pop terbaik tahun 2019. Temanya sejalan dengan brand Lizzo yang fun, energik, dan positif. Premis lagu ini memang terdengar klise, yaitu jadilah dirimu sendiri. Namun, cara Lizzo mempresentasikannya dengan bold, dan in your face. Simak saja lirik berikut, “No, I’m not a snack at all / Look, baby, I’m the whole damn meal (Ooh, baby). Secara matematis, “Juice” tak terelakkan menjadi hit yang earworm.

 

6. Cult of Luna – The Fall

Musik Cult of Luna adalah suatu pengalaman yang intens. Ranah bermain di post-metal memang riskan, karena lebih banyak menuntut kepada pendengarnya untuk sabar, dan tekun. Ambil contoh “The Fall”, mood penonton dijaga dari awal dengan lambat sampai klimaks dalam tiga belas menit dengan orkestrasi raungan gitar, cabikan bass, dan dentuman drum yang penuh. Belum lagi vokal Johannes Persson yang gahar. Genre metal juga secara underrated tidak dilihat untuk mencari lirik yang mumpuni hanya, karena ia tidak terdengar jelas. Simak saja penutup lagu ini, “In the fall came the rain / Flooded the fields / Cleansed what remained With new eyes she appears / But I am no longer here.

 

5. FKA twigs – Cellophane

 

Saat masih berpacaran dengan Robert Pattinson, Tahliah Debrett Barnett (nama asli FKA Twigs) kerap didera komentar rasis dari para penggemar aktor vampir itu. Mereka lebih suka idolanya balikan dengan Kristen Stewart (astaga, netizen banyak maunya!). Lagu ini tentang upaya twigs menyelamatkan hubungan dalam kondisi semacam itu, apalagi Pattinson terlalu bertekad mempertahankan relasi yang ada. Hal yang pasti membuat ketagaihan lagu ini adalah vokal twigs yang begitu indah. Kontrol falsetto maupun sopranonya sengit. Ia merintih, menahan napas, dan membuat pecah berkeping-keping suaranya tanpa kehilangan momentum-momentum melodius. Pengalaman mendengarkan ini jadi lebih sempurna disambil menonton video musik pole dance-nya yang begitu menghipnotis.

 

4. Bon Iver – Hey, Ma

 

Usai reka cipta gila yang dilakukan di tiap album sebelumnya, justru “Hey Ma” adalah single pertama Bon Iver yang tidak mengejutkan, melainkan terdengar familiar. Album i,i masih berkarakter serupa dengan album 22, A Million (2016) yang brilian itu ditambah suguhan akustik folk baroque dari dua album awal. Bedanya lagi, 22, A Million tak punya “Hey Ma’, lagu yang enteng dicerna. Pun dari segi lirik juga manis tanpa upaya puitis yang pretensius, mengisahkan memori masa kecil bersama ibu yang memandikan diiringi dongeng. Bon Iver sangat berbahaya dalam kelebihannya dalam tembang-tembang dengan komposisi yang terasa seakrab ini.

 

3. Vampire Weekend – Harmony Hall

 

Awalnya berisi petikan country, mendadak menjelma komposisi baroque di detik 43, lantas racikan gospel di bagian chorus. Dinamis sekaligus harmonis. Ketiga elemen itu bukan musik masa kini, tapi pilihan terbaik bagi hipster-hipster milenial, termasuk larik “I don’t wanna live like this, but I don’t wanna die”. Racikan Rostam Batmanglij dalam lagu ini memang luar biasa walaupun dia tidak lagi menjadi anggota tetap Vampire Weekend. Ezra Koenig membawakan lirik tentang siklus kuasa dalam berbagai konteks pemerintahan. Ia tidak saja bercerita tentang kaum subordinat, tapi juga penguasa. Ezra yang juga mendukung Bernie Sanders selaku calon presiden sosialis dari Partai Demokrat Amerika ini melihat relasi dialektika antara kedua golongan yang akhirnya membentuk siklus sejarah. Menarik sekali mendengar wacana seserius ini dibawakan dengan musik sumringah.

 

2. Billie Eilish – Bad Guy 

 

Para boomers dibuat bingung dengannya yang mencampur adukkan beat trap dengan bass boosted dan hi-hat ketat, balutan pop dan goth (nu-goth pop?), persona remaja putri yang mengaku bajingan, dan kesadaran misandri dalam lirik remaja 17 tahun. Nyatanya, jutaan orang di dunia merayakan Billie Eilish dengan suka cita. Perlu diakui bahwa “Bad Guy” adalah salah satu lagu terpenting di tahun 2019, dan synth riff setelah “duh” di chorus lagu ini punya potensi anthemic ala riff gitar “Smell Like Teen Spirit”. Jelas terlalu dini untuk menyetarakan “Bad Guy” dengan mahakarya Nirvana itu sebagai ikon generasi, tetapi sejauh ini ciri-cirinya terpenuhi. Tinggal waktu yang membuktikan.

 

1. Lana Del Rey – Venice Bitch

 

Salah satu progres terkini di ranah musik “Top 40” adalah perhatian penyanyi terhadap aransemen lagu-lagunya. Sebagian dari mereka mulai sadar bahwa kesuksesan lagunya tak lagi bersandar kuat pada melodi vokal, notasi, atau suara emas biduannya (kecuali Adele, ya, ia masih berhasil dengan itu). Sejauh ini Lana Del Rey masih yang terbaik dengan komitmen besar di aspek aransemen dan instrumen. Maka, sudah seharusnya, selain “Bad Guy” dan Joker, di akhir dekade ini kita merayakan sebuah rilisan lagu pop sembilan menit. Lana tanpa kompromi merilisnya sebagai single, pun dipasang di nomor tiga album terbarunya. Sebuah lagu sembilan menit yang separuhnya tanpa vokal berupa ruang lapang bagi interlude, instrumental, solo synthesizer, distorsi, noise, dll. Kiranya tak pernah ada aransemen balada pop sebagus ini sebelumnya. “Venice Bitch” membuka luas kemungkinan artistik baru di wilayah lagu-lagu Top 40.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.