close

Laneway Fest Singapore 2017: Tetap Menawan Bersama Hujan

crowd

Dua puluh sembilan penampil lintas negara dan genre yang berkelindan dalam performa terbaik, berbahana selama dua belas jam di empat panggung megah, diikuti hujan yang tak pernah tepat waktu, mewarnai gegap gempita Laneway Fest Singapore 2017

Glass Animal © Warningmagz

Memasuki edisi ke tujuh, Laneway fest Singapore 2017 konsisten memberikan line-up yang spektakuler. Tradisi menampilkan musisi yang bersinar di tahun sebelumnya tetap dijaga, sebut saja Glass Animals, Tycho, Aurora, Kohh, Jagwar Ma, White Lung ( band ini kami nobatkan sebagai album terbaik 2016 versi WARN!NG) dan kesemua line-up yang rata-rata membuat album terbaik di 2016.

Setelah tujuh tahun berselang, akhirnya Laneway mengundang dua wakil dari Indonesia untuk turut merayakan festival internasional ini. Adalah Stars and Rabbit dan Bottle Smoker, yang kemudian didaulat sebagai pembuka acara.

Masih bertempat di nyaman nan megahnya Garden By The Bay, tak banyak perubahan berarti dari tahun sebelumnya. Hanya saja kali ini saya dibuat bingung untuk memilih penampil yang memulai set-nya bersamaan. Ada 29 line-up dengan empat panggung, Garden Stage dan Bay Stage sebagai panggung utama, lalu Cloud Stage serta satu panggung indoor White Room yang padat terisi selama 12 jam.

Acara dimulai ketika sinar matahari masih terik-teriknya. Dari panggung utama, Elda Suryani dan Adi Widodo mulai menyapa penonton yang masih belum fokus. Seperti biasa, jumlah penonton yang merapat ke panggung saat penampil pertama perform, bisa dihitung dengan jari. Namun, setelah mendengar beberapa set dari Stars And Rabbit, satu persatu penonton lain merapat, dan semakin ramai saat lagu andalan “Worth It” dan “The House” dibawakan dengan energik. Penampilan mereka kemudian ditutup dengan “Man Upon The Hill” yang diikuti haru dari sang vokalis. Berkaca dari Laneway tiga tahun terakhir, biasanya penonton baru merapat ke panggung saat band kedua atau ketiga, dan Stars and Rabbit sukses meruntuhkan ‘budaya’ tersebut. Sementara di saat yang sama Bottlesmoker berbagi keceriaan di panggung White Room.

Tash Sultana kemudian mengokupasi panggung. Tampil seorang diri, multi instrumentalist berusia 20 tahun asal Australia ini, langsung meyedot perhatian dengan perform yang kharismatik.   Menyuguhkan indie rock yang dinamis sepanjang set, Tash Sultana mencapai klimaks pada nomor penutup “Jungle” dengan vokal beatbox nya. Bergeser ke panggung sebelah, Luca Brasi mencoba menaikan tensi dengan lagu-lagu punk rock. Namun sial tidak direspons dengan moshing yang massif.

Kejutan kemudian dilakukan oleh Wednesday Campanella  Penonton telah lebih dulu merayapi panggung Bay Stage, namun sejak Luca Brasi hampir mengakhiri set, Kom_i (Wednesday Campanella ), tak muncul untuk melakukan persiapan selayaknya penampil-penampil lain. Dan tetap tidak mucul sampai Panggung Garden Stage usai menyalak. Saya lalu bergegas menuju pit media untuk mengambil gambar, namun terhenti ketika melihat sekelompok orang membawa tangga, yang kemudian mendirikannya di sebuah spot kosong dekat stand makanan yang berjarak sekitar 20 meter dari bibir panggung. Saya merasa ada yang mencurigakan dari aksi yang tak dihiruakan penonton tersebut. Sampai kemudian, terlihat seorang wanita Jepang dengan sayap kupu-kupu menaiki tangga itu dan berteriak “hello Singapore!”. Bak polisi yang mengejar maling kelas teri,  orang-orang berlarian mendekat, dan hampir semua mengeluarkan ponsel pintarnya, mengabadikan sebuah aksi yang punya nilai ‘jual’ tinggi untuk diunggah di media sosial masing-masing.

Wednesday Campanella © Warningmagz

Wednesday Campanella adalah seniman sekaligus entertainer sejati. Ia sukses menyajikan perform penuh gimmick yang sangat menghibur. Pasca berdiri di puncak tangga, ia—bersama crew—melipat tangga dan menjadikannya laksana karpet terbang—sembari membawakan lagu bertajuk “Alladin”—yang mengantarnya ke panggung melewati para penonton yang setia mengikuti. Itu baru lagu pertama. Wednesday Campella juga membuktikan bahwa musisi dengan bahasa ibu sendiri tetap bisa tampil di festival internasional, yang alih-alih membuat bingung, malah dapat perhatian yang besar.

Awan yang mulai gelap sejak “Alladin” dimainkan, akhirnya menurunkan rintik-rintik hujan saat “Shakushain” berkumandang. “sorry, thats song is about rain” kata Kom_i dengan raut muka yang mengemaskan. Tiba-tiba dua orang crew memasuki panggung membawa dua balon yang besarnya 20 kali dari bola basket. Bola-bola itu lantas dilempar ke penonton bak ‘bola semangat’ dalam serial Dragon Ball. Aksi itu tentu saja guna melengkapi alunan elektronik-pop “Kamehameha The Great” yang ia bawakan. Seperti tak puas hanya dengan melempar bola raksasa, kali ini ia menyiapkan sebuah bola dengan ukuran yang sama namun berisi Kom_i di dalamnya. Inilah Puncak aksinya, Kom_i kemudian dilempar dan melakukan crowd surfing dari dalam bola yang terombang-ambing di lautan manusia. Ya, Wednesday Campanella  sukses membuat penonton klimaks lebih awal.

Selanjutnya, saya dihadapkan pada pilihan sulit, antara unit shoegaze legendaris Singapore, Astreal atau menyaksikan beat-beat hip-hop dari Sampa The Great. Akhirnya saya memutuskan untuk menuju panggung indoor White Cloud.  Dari kejauhan, tampak antrian mengular di pangung indoor itu yang hanya bisa menampung ratusan orang. Alhasil sebagian hanya menikmati beat-beat Sampa The Great dari luar panggung. “F E M A… LE…F E M A… LE. “ teriak rapper asal Zambia ini memandu koor masal untuk lagu “Female”. Spoken word yang berkelindan dengan musik elektronik sukses membuat White Cloud berdansa tanpa henti.

Sial, ternyata selama pentas Sampa The Great, hujan menghajar tanpa ampun di luar sana. Beruntung, panitia memberi satu ponco untuk tiap penonton. Dan sekali lagi terpujilah Laneway, sebab dengan hujan yang begitu deras, sepatu kita tetap terbebas dari lumpur walaupun venue beralaskan rumput. Penonton pun tetap setia merayapi panggung, dan semakin ramai saat Aurora menaiki Bay Stage.

Menjadi salah satu penampil yang paling ditunggu, Aurora membuka set dengan  “Black Water Lilies”, menyuguhkan electropop yang kian syahdu dengan turunnya hujan.  Tempo lalu dinaikan dengan “Warrior” yang dibawakan dengan energik lengkap dengan gerakan tangan yang khas dari musisi Norwegia ini. Hujan malah semakin lebat, tetapi sing-along penonton juga makin kuat ketika “I Went To Far” dan “Running With The Wolves” dibawakan. Musisi 20 tahun ini kemudian mendaulat “Conquer” sebagai penutup, dan sukses membuat penonton ikut bernyanyi bersama sejak lagu pertama.

Aurora © Warningmagz

Kabar buruk tentang batalnya Kathleen Hanna (Julie Ruin), sepertinya membawa berkah tersendiri—walau saya tetap kecewa tidak bisa melihat langsung vokalis band legendaris Bikini Kill. Unit psychedelic rock yang sedang hangat diperbincangkan, King Gizard and The Lizard Wizard didaulat sebagai pengganti. Praktis penampilan mereka juga dinanti-nanti, bisa dilihat dari sorakan-sorakan penonton ketika King Gizard masih melakukan persiapan. Sedikit kendala teknis membuat mereka menjadi satu-satunya penampil yang tidak seketika perform pasca penampil sebelumnya menyudahi set. Telat sekitar 10 menit, tampak raut kesal di wajah Stu Mackenzie dkk. Tanpa introduksi lisan, penonton langsung dihajar dengan “Robot Stop”  dan “People-Vulture”.

Sehabis memainkan tiga set ngebut dari album Nonagon Infinity, baru mereka sedikit berinteraksi dan menurunkan tempo dengan memainkan nomor-nomor di album lawas seperti “Cellophane” dan “The River”.  Visual-visual psychedelic yang muncul secara bergantian di layar belakang mereka, membuat tiga lagu terakhir kian trippy. Puncakanya pada lagu “Hot Water”, yang sukses membuat penoton hanyut menggerakan tangan, kaki dan kepala mereka. Penampilan band Australia ini ditutup dengan pengulangan lagu pertama “Robot Spot” namun dibawakan dengan lebih ganas.

Tensi sebenarnya diturunkan di panggung utama—setelah dihentak musik keras, dengan menampilkan Whitney. Namun saya memilih berlari dan mengejar White Lung yang telah memulai setnya di panggung Cloud Stage.  Jika dari tadi disuguhkan penampil-penampil yang sangat muda, kini giliran musisi ‘kepala tiga’ mengokupasi panggung. Masih dibawah guyuran hujan, White Lung menyuguhkan lagu-lagu dari album terbaru mereka, Paradise. “I Beg you”, “Kiss Me When I Bleed”, “Paradise” dan “Sister” dibawakan dengan energik. Walau sayang, tak ada pogo dari penonton dalam alunan punk rock dari band Kanada ini. Di empat nomor terakhir penonton disuguhkan empat lagu paling cepat dari White Lung.  Setelah “Dead Weight” mereka akhirnya membawakan lagu lama dari album Deep Fantasy. Adalah “Down It Goes” yang memiliki hook catchy, tak ayal membuat beberapa penonton ikut bernynayi. Pun begitu ketika ia menutup set dari album yang sama lewat “Drown With Monster”. White Lung bermain dengan maksimal, namun energi diatas panggung tak menjalar ke depan, dan kalah dengan derasnya hujan.

Kembali ke panggung utama, akhirnya hujan mulai reda saat Jagwar Ma tengah memainkan setnya. Hingga berhenti total tatkala Tourist menyuguhkan electronic dance, yang membuat penonton bergoyang—terutama saat “Run” dimainkan—berselimut hawa dingin pasca berhentinya hujan. Khalayak Laneway lalu diistirahatkan lewat suguhan ambient dari Tycho yang memulai setnya dengan hits “Awake”, dan “A Walk” yang menghanyutkan.

king gizard and the wizard lizard © Warningmagz

Waktu setempat menunjukan pukul 10 malam, masih tersisa dua penampil di panggung utama.  Namun Glass Animal secara de facto menutup lebih awal, meninggalkan Nick Murphy (Chet Faker) yang menjadi penutup acara.  Sisa-sisa energi penonton seolah dihabiskan untuk merespons musik-musik trip hop dari Glass Animals. Hits mereka  “The Other Side Of Paradise”, “Gooey” dan “Youth”  dibawakan secara berturut-turut. Band asal UK ini juga tak sekedar menyuguhkan musik bagus, namun lengkap dengan visual yang dinamis dan aksi yang atraktif, terutuma Dave Bayley (gitar/vokal) yang berulang kali turun ke panggung, mengokupasi pit dokumentasi, yang lantas menciptakan perform yang intim.

“Aurora bagus, Wednesday Campanella & Astreal menyenangkan” ungkap Arian Arifin, salah seorang penonton. Di banding tahun-tahun sebelumnya tentu saja festival ini terus berkembang. Line-up yang terkurasi dengan baik, juga kuantitas semakin padat—hal ini membuat saya harus merelakan penampil lain yang tidak bisa ditonton bersamaan. Banyak yang mengeluh kecilnya panggung indoor, namun sepertinya bukan soal stage, tapi karena line-up yang punya ‘nilai jual’ yang sama kuat–selain juga karena hujan, sehingga animo penonton merata untuk tiap stage. Dan perkara hujan, yang memang tak pernah turun tepat waktu, cukup merugikan beberapa hal, namun kesiapan acara dengan segala antisipasinya tetap membuat festival berjalan lancar. Untuk kesekian kalinya, Laneway fest Singapore mengukuhkan diri sebagai garda depan festival musik internasional bernas di Asia Tenggara. [Warningmagz/Tomi Wibisono]

 

Gallery: Laneway Fest Singapore 2017 

Event by : Laneway

Date : 21 Januari 2017

Venue : Garden Bay The Bay

Man of the match : klimaks pertama pada Wednesday Campanella , lalu Aurora dan sekali lagi saat Glass Animal

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response