close

Lapak Gratis #3 : Berbagi Hidup Tanpa Uang

IMG_3164

“Lapak Gratis adalah sebuah ruang terbuka otonom, ajang tatap muka untuk saling berbagi segala sesuatu, entah barang atau keterampilan apapun, bahkan senyum dan tawa, tanpa dasar jual beli.” Begitulah kalimat yang tertera pada komunike yang disebar untuk menggambarkan apa itu Lapak Gratis. Yang diikuti slogan “Kalau bisa berbagi, kenapa tidak gratis? Kalau bisa gratis, kenapa harus beli?”

 

Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3

Penggunaan kata lapak gratis tidak bersinonim dengan sebuah lapak yang tanpa dipungut biaya, terjadi kegiatan ekonomi (jual-beli). Lapak Gratis hadir sebagai sebuah ruang untuk melengkapi kebutuhan tanpa uang atau alat tukar lainnya. Seseorang tanpa perlu memberi sesuatu bisa mengambil sesuatu, begitu pula sebaliknya.

Sempat tertunda satu minggu, akhirnya pada Minggu (10/10) sore Lapak Gratis #3 digelar.  Bertempat di Bunderan UGM, sekitar pukul 15.00 para partisipan mulai menggelar lapak lengkap dengan banner diatasnya. Terlihat banyak pakaian, kaset, peralatan masak, buku, bibit tanaman, dan barang-barang lainnya terhampar pada sebuah tikar kecil. Seiring dengan digelarnya lapak, beberapa partisipan lainnya mulai membagikan selebaran kepada orang-orang disekitar lokasi, alhasil ide ini direspon dengan cepat. Baik orang tua, muda, pria maupun wanita langsung berduyun-duyun datang ke ruang otonom tersebut. Melihat-lihat sejanak, beberapa orang yang datang tadi  memilah barang mana yang dibutuhkan, untuk kemudian diambil.

Aktivitas mengambil juga diiringi dengan aktivitas memberi, beberapa partisipan juga hadir kesana hanya sekedar memberi beberapa barang tanpa mengambil sesuatu. Jasa sablon gratis juga tidak absen dalam lapak gratis #3 ini, dengan pengerjaan sablon secara langsung, sehingga pengguna jasa bisa mengamati dan bertanya tentang proses sablon. Tak hanya sablon konvensional dengan screen, sablon melalui cukil kayu juga memperkaya pengetahuan akan proses produksi ini.

Dari segi kebutuhan informasi, pengunjung yang hadir juga mendapat edukasi tentang pemanfaatan barang dan jasa. Sharing informasi tentang pemanfaatan bibit, cara menyablon, isu-isu sosial yang tertera pada zine-zine yang beredar hingga ke hal-hal personal lainnya. Tak sedikit dari pengunjung yang hadir memanfaatkan ruang publik ini untuk membaca.

Tak berhenti disitu, sebuah kompor publik juga hadir disana. Praktis terjadi aktivitas memasak, setelah matang, tanpa komando partisipan langsung menyerbu makanan gratis tersebut. Sayang, tenggelamnya matahari diikuti dengan munculnya rintikan hujan, alhasil, lapak pun bergeser ke sebelah bunderan UGM, dan berakhir tak lama setelahnya.“Acara keren, tapi sayang banyak yang cuma datang buat ngambil doang” ungkap fahmi, salah seorang pengunjung yang datang. Sebelumnya ketika diadakan pertama kali di Kilometer 0, aktivitas di ruang publik ini sempat diusik oleh Satpol PP, uniknya pembubaran dilakukan dengan menggunakan isu agama. [Warn!ng/Tomi Wibisono]

 

 

 

Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
Lapak Gratis #3
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response