close

[Album Review] Linkin Park – The Hunting Party

linkin park the hunting party
Linkin Park
Linkin Park

Linkin Park – The Hunting Party

Warner Bros.

Watchful Shot: “War”, “Rebellion”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sekilas tak ada yang aneh dari album Linkin Park, masih dengan kover tipikal mereka yang selalu artistik. Tapi ketika memasukan cakram padat rilisan Warner Bros. ini, kita akan dibuat kaget oleh teriakan di track pertama. Bagi yang mengikuti tiga album terakhir, tentu akan terkejut dengan apa yang dilakukan Linkin Park di album ini. Namun, kebingungan ini akan membuat penikmat album Hybrid Theory—yang banyak meninggalkan Linkin Park setelah Meteora—tersenyum. Setelah satu kali memutar album ini, kita akan langsung mengerti apa maksud mereka, yah Linkin Park kembali membuat rilisan musik rock yang keras. Persis seperti yang dikatakan Mike Shinoda, “We’re 37-year-old adults making a loud record

“Keys to The Kingdom” yang didaulat menjadi track pembuka sukses menjadi manifesto The Hunting Party sebagai album mereka yang paling agresif. Untuk kali pertama juga, Linkin Park menghadirkan banyak featuring artist. Ada Page Hamilton di lagu “All For Nothing”, ia bernyayi di bagian chorus,dan dengan drum yang lambat nomor ini mirip lagu-lagu dari band Page sendiri, Helmet. Lalu ada rapper kawakan Rakim yang berbagi mic dengan Chester dan Shinoda. Rakim berorasi dengan lantang dalam balutan musik rock, menunjukan kelasnya sebagai rapper senior.

Setelah melewati nomor instrumental “The Summoning”, mereka menghadirkan“War”. Ketukan drum dan riff gitar yang sangat punk rock, ditambah judul dan durasinya, kita pasti akan membandingkannya ke Bad Religion.Ya, “War” bisa dikatakan sebuah nomor paling ugal-ugalan yang pernah mereka ciptakan. Tak mau menghilangkan jejak album-album terakhir, Linkin Park memberikan nuansa itu di “Wasteland”,“Until Its Gone”, “Final Masquerade”—tipikal “What I’ve Done” atau “Burn it down”.

Nomor pamungkasnya ada di “Rebellion”. Diawali dengan ketukan drum ngebut yang menyerupai “Set To Fail”-nya Lamb Of God—tapi lebih soft. Di nomor ini juga terasa riff-riff suram ala System Of A Down. Walau bukan Serj Tankian, yang berkolaborasi adalah Daron Malakian. Di part Shinoda bernyanyi, terasa hibrida disko dan hardcore yang harmonis. Nomor ini juga memiliki part khusus untuk Chester teriak seorang diri. Persis seperti “A Place For My Head”, tepat setelah reff, Chester punya ruang untuk teriak sekencang-kencangnya.

Kehadiran Tom Morello di nomor instrumental “Drawbar” tidak cukup mengejutkan, entah apa alasannya memasukan dua nomor instrumental di album ini, tapi “Drawbar” jelas tidak menarik. Album keenam ini ditutup dengan sempurna lewat “A Line In The Sand” sebuah nomor yang cukup agresif, penuh dengan solo part, sukses menjadi perpisahan yang panjang selama 6 menit 37 detik.

Album ini sebenarnya sarat pesan. Secara keseluruhan, The Hunting Party bertemakan tentang perang. Namun, ini adalah Linkin Park, yang dinikmati bukan dari kandungan liriknya, namun bagaimana artikulasi musiknya yang mampu membuat takjub. Dan ya, album ini lebih keras dari Hybrid Theory—yang tentunya juga tidak sepayah dua album terakhir. [WARN!NG/Tomi Wibisono]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response