close
IMG_5760

Ribuan lagu dibangun dengan nada dan makna. Sebagian dari kita terlalu terpesona oleh lantunan musik tanpa peduli cerita dibalik lirik-liriknya. Live at Teater Garasi #10, mengajak kita mendengarkan lagu secara utuh, menyempurnakan pengapresiasian makna atas sebuah karya.

                 

Adhitya Sofyan  © Warningmagz
Adhitya Sofyan © Warningmagz

Adrian Adioetomo © Warningmagz
Adrian Adioetomo © Warningmagz
Wangi Hujan © Warningmagz
Wangi Hujan © Warningmagz

Sebuah pertunjukan musik yang sangat intim berhasil disuguhkan teater garasi dalam gelaran artist-collective ‘Live at Teater Garasi #10’ malam itu (17/10). Wangi Hujan, Adrian Adioetomo dan Adhitya Sofyan sukses membius crowd yang memenuhi penjuru teater garasi. Selama kurang lebih 3 jam, lagu-lagu menyuara sebagai cerita, mengajak lirik-liriknya untuk seolah ikut tampil. Line-up #LATG yang ke-10 ini adalah hasil kurasi Risky Summerbee dan menitikberatkan lirik lagu sebagai bahan utama pertimbangan.

                Acara dimulai ketika suara petikan gitar akustik yang jernih menyuara. Duo baru asal Yogyakarta, Wangi Hujan memegang kendali atas mood opening malam itu. Membawakan 5 nomor yang berirama akustik dan folk, duo ini mengaku inilah penampilan pertama mereka di gig resmi. Sebagai perkenalan, Wangi Hujan sepertinya berhasil mendapat tempat di hati crowd yang ada di venue maupun yang streaming di tempat masing-masing. “Wet”, nomor pertama yang dimainkan secara apik oleh Erwin Zubaidan dan Luise Najib disambung dengan musik instrumental berjudul “Ma Faveur”. Di nomor ini, Luise yang juga jebolan salah satu ajang pencarian bakat di televisi nasional ini menunjukkan kebolehan memainkan keyboard. “Good Wrong” dan “Pulang” menyuara setelah itu. Di nomor “Royals”, Wangi Hujan menambahkan irama beatbox yang asik. Lagu ini seperti mengeluarkan mereka dari kotak-kotak genre musik yang sudah ada. Vokal Luise Najib keliatan sangat prima sekaligus syahdu di nomor terakhir ketika mereka meng-cover lagu nasional “Rayuan Pulau Kelapa”. Diiringi petikan gitar Erwin yang lincah, jadilah penampilan Wangi Hujan sebagai opening yang sangat manis. Sepertinya setelah ini nama mereka akan sering terdengar di Yogayakarta.

                Adrian Adioetomo mengokupasi venue setelah itu. Musisi yang oleh Risky Summerbee disebut sebagai ‘Bapak Delta Blues Indonesia’ ini memainkan 10 nomor. Adrian membuka penampilannya dengan “Come on Dark Live”. Lalu gitarnya baru dimainkan pada lagu kedua yang liriknya menceritakan tentang human trafficking, “Berapa Harganya”. Aura gospel juga sempat merasuk saat “Sabda Baru” disuarakan, ‘berilah hambamu sabda yang baru… mengawali hari baru.. meniti waktu..’. Disepanjang penampilannya, Adrian Adioetomo memamerkan skill memainkan irama blues dari gitarnya. Adrian juga sempat meng-cover lagu milik Jeff Buckley “Lover, You Should’ve Come Over” yang disambut meriah oleh penonton. Namun sayang Adrian Adioetomo sering terganggu karena masalah pada gitarnya. Pun begitu, penampilannya dituntaskan dengan apik lewat nomor “Pantun nasib” yang diiringi distorsi yang cukup panjang dan aksi Adrian yang berjalan-jalan diantara crowd. Dan seolah tidak mau kalah dengan Wangi Hujan, Adrian Adioetomo juga melagukan “Rayuan Pulau Kelapa” dengan gitarnya, jadilah lagu nasional ini terdengar sangat blues.

                Intim sepertinya adalah kata yang paling tepat. Selain setting venue yang dibuat sangat cantik dengan hiasan rangkaian bambu, lighting dan penempatan stage yang tidak berjarak dengan penonton membuat interaksi terasa akrab. Saat ditanya Warn!ng, Gita salah satu penonton menjawab “Berasa lagi di gig rahasia yang manis”.

                Lirik “If only i could find my way to the ocean, i’m already there with you..” kemudian disuarakan oleh vokal bening dan ringan milik Adhitya Sofyan. ”After Rain” membuka penampilannya. Muncul menggunakan kemeja kotak-kotak, Adhitya Sofyan ditemani J.P, additional pianist yang membuat penampilannya malam itu semakin spesial. “Tokyo Lights Fade Away” menyuara setelah itu. Adhitya Sofyan beberapa kali meminta agar lighting diredupkan, seolah membangun mood yang sesuai dengan lagu-lagunya yang syahdu. Selain membawakan lagu-lagunya yang sudah populer seperti “September”, “The Stalker”, dan “Adelaide Sky”, Adhitya Sofyan juga memperkenalkan beberapa nomor baru dari albumnya, How to Stop Time.

                “Mother did you help God paint the sky? When time will fade your words won’t vaporize, when time will fade your smile still hypnotize”, sebuah dialog antara seorang anak dan ibunya yang sudah disurga diceritakan Adhitya Sofyan di nomor “Mother”. Maka ketika di lagu-lagu lain aura romantis yang meruang, ketika lagu ini dimainkan, makna keromantisan itu berubah jadi lebih dalam. Sayang sekali beberapa penonton sudah meninggalkan venue padahal lagu pamungkas belum dimainkan. Setelah nomor “Into You”, Adhitya Sofyan berpamitan dan lagu terakhirpun dimainkan. “Blue Sky Collape” yang manis disusupi lagu “Yogyakarta” milik Kla Project secara mengejutkan. Sebuah penampilan apik yang menutup #LATG malam itu.

                Karena tidak semua nada bahagia berkisah bahagia juga, dan tidak semua nada sendu berkisah tentang air mata. Setelah malam itu, sepertinya #LATG berhasil mensugesti penontonnya untuk memperhatikan lirik ketika mendengarkan sebuah lagu. Mengajari bahwa keduanya sejajar, sama pentingnya, sama indahnya. [ Warn!ng/Titah Asmaning]

Gigs Documentation here -> Live At Teater Garasi #10

Event by : Teater Garasi

Date : 17 Oktober 2013

Venue : Teater Garasi, Jl. Bugisan Selatan 36A

Man of The Match : Permainan gitar yang ciamik dari seluruh performer

 Warn!ng Level : •••1/2

Tags : Adhitya SofyanAdrian AdietomoWangi Hujan
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.