close

Locstock Fest #2 : Festival Bersambut Catatan Kelam

_MG_8827
Seek Six Sick © Warning
Seek Six Sick © Warning

Masih lekat dalam ingatan sebagian penikmat musik Yogyakarta tentunya, sebuah perhelatan akbar bertajuk Locstock Fest yang digelar tahun 2009 lalu. Lockstock Fest adalah sebuah festival musik yang memorable dengan menampilkan lebih dari 100 band asal Yogyakarta selama 3 hari pelaksanaan. Esensi dari Locstock Fest saat itu ialah sebagai ajang representasi potensi estetik musik Yogyakarta sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap dinamikanya. Empat tahun berselang, event yang awalnya direncanakan menjadi event tahunan itu akhirnya dibangkitkan kembali dengan asumsi latar belakang dan semangat yang sama. Sayang, dengan ekspetasi setingkat pagelaran pertama, Locstock Fest #2 justru berakhir sebagai sebuah catatan kelam bersambut kontroversi dan tragedi.

Locstock Fest #2 mulai diperkenalkan penyelenggara dengan mencanangkan secara mantap semangat acara ini yang tak sekedar mengunggulkan aktivitas musik sebagai hiburan semata. Lewat tema wild aesthethic, Locstock Fest 2 diposisikan sebagai sebuah ruang rangkum seni musik populer pemantik gerakan kultural daerah dan pemacu semangat berkarya anak muda Yogyakarta. Bertempat di area parkir stadion Maguwoharjo Sleman, disiapkanlah sekitar 80 band lokal dan puluhan band sekolah untuk mengisi kelima panggung. Sebagai penambah gebrakan, diundang juga beberapa band luar kota yang kemudian memunculkan pandangan negatif dari beberapa pihak, karena dianggap kontradiksi dengan konsep manifesto potensi lokal yang diusung di awal.

Open Gate

Band-band sekolah mulai saling bersaing sejak terik matahari masih berkuasa. Stage 5 lah yang digunakan sebagai panggung band sekolah dan 30 band terpilih penghuni kompilasi khusus Sound Of Jogja #2. Sementara keempat panggung lainnya mulai bersuara sekitar jam 2 siang. Stage 1, atau panggung utama yang diperawani oleh Sri Plecit, disajikan juga bagi band-band headline dengan massa besar seperti Koil dan Shaggy Dog malam itu. Sementara Stage 2 ditempatkan untuk musisi-musisi dengan aliran musik yang lebih santai dan aman di telinga. Lalu stage 3 diposisikan menampung aksi dari musisi-musisi bersifat komunitas. Untuk stage 4, venue didesain khusus bagi band-band bercitra underground gila distorsi dengan kisaran genre metal, hardcore, dan punk.

Semua masih tampak baik-baik saja ketika Festivalist on stage di panggung utama. Mengikuti popularitasnya yang semakin menanjak, tak lagi umum melihat Festivalist bermain sore hari diluar prime time. Jumlah penonton pun belum seberapa. Kualitas Festivalist dipertaruhkan, dan sejak “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan”, Farid cs akhirnya mulai panas dan tetap mampu menunjukan bagaimana seharusnya menikmati sebuah festival musik. Bersama “Hari Terakhir Peradaban” yang menutup penampilan mereka, gerimis pun turun, dan siapa sangka itulah persembahan terakhir dari stage 1 malam itu.

Mendampingi break maghrib, hujan turun dengan intensitas tanpa ampun dan tampak tak ada niat untuk segera berhenti. Arena panggung outdoor kosong melompong, menciptakan situasi tanpa harap bagi stage 1, 3 dan 5. Sebaliknya, area indoor menjadi lebih ramai dari perkiraan. Hal ini menciptakan peluang bagi performer stage 2 dan 4 untuk memperoleh lebih banyak audiens. Senyawa contohnya, hujan yang terus turun meski break telah usai memaksa panitia memindahkan duo Rully dan Wukir yang sebelumnya mendapatkan jatah di stage 3 untuk tampil di stage 4. Senyawa tampil di momen tak ada performer lain yang sedang on stage. Kesempatan ini mereka manfaatkan dengan baik. Audiens terlihat cukup terpukau dengan perkelahian bebunyian tradisional eksperimental yang mereka tawarkan.

Selanjutnya stage 4 kembali menjadi milik band-band cadas. Secara bergantian End Of Julia, Down For Life, Throughout, dan band metal senior Jogja, Cranial Incinsored mengokupasi panggung. Bak event berbeda yang asyik sendiri, stage 4 dipenuhi makhluk-makhluk berbaju hitam yang larut dalam pesta distorsi.

Sementara stage 2 juga menjadi spot pilihan bagi pengunjung dengan dominasi warna musik rileks dan kontradiktif dengan stage 4, namun tetap beragam. Penempatannya mungkin memang disesuaikan supaya dapat menemani pengunjung yang sedang berbelanja atau menikmati hidangan yang dijual di stand-stand makanan indoor area. Mereka yang bermain disana contohnya adalah Saka dan Lazy Room. Namun terdapat juga penampil stage 2 yang malang, seperti Harry Firmansyah. Selain karena namanya yang diganti seenaknya di line up menjadi Harry Blues, ia menghabiskan sekitar 20 menit hanya untuk ‘mengakrabkan’ gitar akustiknya dengan monitor yang tak dapat diandalkan. Bahkan dengan jenaka, Harry sempat mengadakan semacam talkshow asal-asalan demi menunggu problema sound terselesaikan.

Sekitar jam 9 malam, hujan mulai reda. Stage 5 pun hidup kembali dengan perform dari Musim Penghujan, Untitled Joy serta anggota kompilasi Sound Of Jogja #2 lainnya. Namun harapan untuk bersenang-senang di stage 1 justru sirna setelah tersiar kabar bahwa Koil, Shaggy Dog, Death Vomit, Something Wrong, dan Ras Muhammad membatalkan penampilan mereka.

Praktis hanya tersisa Captain Jack satu-satunya band stage 1 yang tetap bertahan di line up. Beruntunglah mereka cukup arif dan rela mengalah untuk turut pindah ke stage 4. Selain kualitas sound yang ‘seadanya’, tak ada masalah dengan suasana venue yang jelas berbeda dengan bayangan Captain Jack di awal. Namun stage 4 yang ‘diolah’ dari sebuah basement justru menjadi latar yang lebih pas bagi tumpahan sumpah serapah dan amarah para monster jackers mengikuti lirik-lirik maut Momo cs. Total hanya 4 lagu yang dibawakan Captain Jack, yaitu “Kupu-Kupu Baja”, “Penghianat”, “Hati Hitam”, dan “Berbeda Adalah Pilihan”.

Keterpaksaan peralihan arus band panggung outdoor ke Stage 4 memang unik. Festival yang awalnya mengandalkan panggung besar sebagai daya tarik nomor satu, akhirnya justru beralih menjadi seperti sebuah event gigs sederhana. Namun satu lagi korbannya, SeekSixSick, juga tak peduli dengan hal itu dan tetap menghajar audiens dengan 8 buah lagu termasuk “Awas Neraka” dan “Sunshine”.

Finally, Navicula menjadi headline terakhir sekaligus satu-satunya band non-lokal malam itu. Grup band yang sedang populer karena beberapa kali melakukan tur ‘antah berantah’ dan aktivitas perjuangan sosial-lingkungan hidup ini berhasil mengumpulkan penonton terbanyak. Menanggapi kacaunya rundown, teknis panggung, dan anomali penyelenggara, Robi (vokal) berkata “Kami datang bukan untuk festival, tapi untuk kalian yang jauh-jauh datang untuk nonton kita”. Tak hanya untuk cari muka, Navicula memang terlihat begitu menikmati semuanya. Sehabis menggilas stage 4 dengan nomor-nomor seperti “Orang Utan”, “I Refuse To Forget”, dan “Metropolutan”, tuntutan ‘we want more’ dari audiens memaksa Navicula menutup dengan “Mafia Hukum”.

Dari segi performance, sound, dan apresiasi penonton di hari pertama Locstock Fest #2 ini, Navicula adalah juaranya. Sedikit ironis jika mengingat Locstock Fest #2 ialah event yang lantang berfokus pada pergerakan musisi-musisi lokal. Namun berbagai hal memang membuat event ini berjalan tak terprediksi. Batalnya lima headline juga menjadi dosa tak terelakan bagi penyelenggara. Isu yang muncul pun beragam mulai dari kendala cuaca hingga masalah administratif yang dibiangi pelarian uang oleh panitia.

Navicula © Warning
Navicula © Warning

Tragedi

“Hari pertama nggak tau musti ngomong apa, semoga hari kedua besok berjalan semestinya” tukas Dewa, seorang pengunjung. Suatu harapan yang menguap begitu saja karena esoknya pagelaran hari ke dua Locstock Fest 2 ini secara resmi dibatalkan. Kota gudeg pun kehilangan kesempatan menyaksikan aksi-aksi seperti Endank Soekamti, Efek Rumah Kaca, atau Tohpati Bertiga.

Ragam isu dan tanggapan kemudian gencar menyerbu ragam media dan jejaring sosial hingga dalam waktu singkat muncul kabar mengejutkan bahwa Bobi Yoga ‘Kebo”, ketua panitia Locstock Fest 2 ini meninggal dunia. Apapun, meninggalnya Kebo sebaiknya tak sekedar diamini bersama arus liar statement media bebas dan ditilik dari perspektif yang sempit. Kebo sebelumnya juga merupakan pelopor dan aktor dibalik sejumlah pergerakan musik Yogyakarta, termasuk sejarah besar Locstock Fest 2009. Dengan segala kontroversi dan tragedinya, festival inipun kembali terekam sebagai pengalaman berharga yang terus bernafas dalam sejarah musik nasional. Locstock Fest dan Yogyakarta terlalu cepat untuk hanya berakhir disini dan rest in peace Bobi Yoga Cahyadi. [Warning / Soni Triantoro]

;

foto – foto konser ini bisa dilihat di – Locstockfest #2

Event By : Effort Creative

Date : 25 Mei 2013

Venue : Area parkir Stadion Maguwoharjo

Man Of The Match : MEMORABLE

Rating : N/A

;

Pak Bo / Yoga Cahyadi
R.I.P Yoga Cahyadi

Ragam cacian memang terlontar kepadanya maupun locstock. Beragam isu yang tidak benar tentang pelarian fee band pun, massif dituduhkan kepadanya. Bahkan hingga berita kemaatianya menyebar, beragam spekulasi dan asumsi beredar dengan liarnya. Tanpa ada verifikasi dan pernyataan resmi dari orang terdekat maupun pihak yang berwajiib, justifikasi terhadap kematiannya kian santer di dunia maya, beragam media pun mulai berlomba menulis berita berdasarkan dugaan semata.

Rasa belasungkawa ditunjukan oleh banyak penampil Lockstock. Sebagai pihak yang sangat dirugikan, para band menujukan bahwa, kemanusiaan lebih penting dari sekedar event. Justru caci maki malah banyak terlontar dari pihak audiens yang notabene hanya mengeluarkan uang sebesar 20 hinga 30 ribu. Memang, protes itu hak, tapi apakah nyawa belum bisa melunasi kerugian tersebut?

Sedikit share, pihak warning magz juga awalnya bekerja sama dengan panitia locstock / Effort Creative dalam pembuatan leaflet. Isi leaflet adalah gagasan dari Yoga Cahyadi, yang ingin mengenalkan band-band Jogja yang menjadi penampil acara locstock. Ia berencana untuk membagikan leaflet itu gratis kepada semua pengunjung, namun karena ada beberapa hal, leaflet ini batal dicetak. Tapi yang perlu ditekankan adalah, sebuah niatan untuk turut mengenalkan pelaku musik Jogja, pernah datang dari pemikiranya. Orang yang belakangan ini ramai dicaci di dunia maya karena dianggap membuat malu Jogja. Tak ada satu manusiapun yang tak luput dari tindakan buruk, tapi perlu diingat selalu ada sisi positif yang bisa diambil.

semua orang bisa menghujat, namun tak semua orang berani melakukan tindakan nyata. Farewelll, Pak Bo!

cheers!

– Editor In Chief

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response