close
Skidrow (7)

“Pengalaman baru, tanpa sponsor tapi tiket murah. Saya hanya ingin menguji kekompakan penggemar rock.” – Log Zhelebour.

Jamrud © Warningmagz
Jamrud © Warningmagz

Dua dekade silam, Skid Row merupakan ‘friend or foe’ dari Guns n’ Roses dalam mengejar tahta kampiun hard rock 80an. Album perdananya, Skid Row, mencetak 5x platinum yang mungkin akan makin melambung jika saja tak harus bersaing dengan kedigdayaan Appetite For Destruction, atau juga Dr Feelgood dari Motley Crue. Namun setidaknya Sebastian Bach (eks-vocal) dkk, sempat menggenggam gelar ‘Best New Artist’ di American Music Award 1990 dan tetap dikenal dalam status ‘legend’. Lalu ketika Metallica yang juga teman satu angkatan Skid Row baru saja mencetak sejarah akbar di tanah air dengan euforia puluhan ribu headbanging, tiba-tiba publik Indonesia mendapat tawaran menikmati penampilan langsung Skid Row dengan hanya tiket seharga tak lebih dari 50 ribu rupiah. 

Yogyakarta menjadi salah satu kota yang beruntung dari enam kota yang akan dikunjungi Skid Row dalam tur EP barunya, United World Rebellion : Chapter One. Sebenarnya 2008 silam Skid Row juga pernah bermain pada lima kota di Indonesia dengan harga yang lebih ‘ekstrim’, 20 ribu rupiah (untuk luar Jakarta). Namun tanpa sponsor, 50 ribu (untuk Yogyakarta dan Malang) bak  menjadi ‘traktiran’ dari Log Zhelebour, selaku promotor. Dari awal pun Log sudah memproklamirkan ini adalah proyek rugi. “Konser ini 100 persen uang saya sendiri tanpa sponsor. Ya, sudah pasti rugi,” kata Log saat jumpa pers di Log Zhelebour Production. Namun Log memang realistis, sejak album ketiga, Subhuman Race, ditambah keluarnya Bach, karir Skid Row mulai rapuh, sehingga diragukan untuk populer di kalangan generasi abad 21.

Hal yang sama juga dialami oleh Jamrud, pasangan Skid Row dalam konser bertajuk Log2Rock ini. Kedua band ini memang memiliki kesamaan dalam hal karir gemerlap yang kemudian  meredup, lalu ditinggal vokalisnya. Meski Krisyanto (vokalis Jamrud) akhirnya kembali lagi, namun terbukti belum mampu memboyong nama Jamrud seperti di masa keemasannya. Sebagai anak asuhan Log Zhelebour, pada tur Skid Row ini, Jamrud hendak turut unjuk gigi memperkenalkan album barunya berjudul Saatnya Menang.

Setelah Jakarta, Bandung, Bali dan Semarang, Log2Rock di Yogyakarta digelar pada 8 Oktober malam. Tiket yang murah makin tak terasa pengorbanannya ketika memasuki stadion Kridosono. Karena penonton akan langsung ‘disilaukan’ dengan sound yang tangguh dari panggung yang memang berkelas internasional. Dan inilah Log Zhelebour, tanpa sponsor bukan berarti fasilitas kacangan. Log Stage, Log Sound dan Log Light sudah lebih dari cukup.  

Jamrud sudah menggempur sejak setengah 8 malam. “Senang jamrud kembali, meski waktunya kurang tepat”, komentar Krisyanto mengenai jadwal main di hari kerja, yaitu hari Selasa. Seperti yang sudah ditebak pula, dibanding lagu-lagu Saatnya Menang yang coba diperkenalkan, audiens lebih reaktif pada lagu-lagu lama seperti “Kabari Aku”, “Dokter Suster”, atau “Putri”. Namun baik lagu baru atau lama, Jamrud mengasah musiknya yang berkelebat ditengah heavy metal, trash, metalcore atau yang mana saja, dengan sound yang lebih modern diantara kilatan sampling-sampling.  Promotor telah mengatakan sebelumnya bahwa tak ada band pembuka, dimana dua-duanya adalah band utama. Maka hingga “Waktuku Mandi” menutup penampilan, jatah waktu dan jumlah lagu dari Jamrud yang notabene tampil lebih dulu justru lebih banyak dari Skid Row.

Kemudian hingga Skid Row mengokupasi panggung pada jam 10 malam dengan “Slave To The Grind”, jumlah penonton ternyata tak banyak berubah. Johnny Solinger (vokal), Dave Sabo (gitar), Scotti Hill (gitar), Rachel Bolan (bass), dan Rob Hammersmith (drum) membawakan setlist 15 lagu yang serupa dengan kota-kota sebelumnya. Sayang, sindrom ‘legend staple’ juga menghantui Skidrow dimana dari nomor-nomor awal, sebagian penonton tampak sudah tak sabar menantikan hits ballad “18 and Life”, dan “I Remember You”, yang kesemuanya berasal dari album perdana. Beberapa penonton bahkan terpegok mundur dan meninggalkan venue setelah “I Remember You” dilantunkan.

Skidrow  © Warningmagz
Skidrow © Warningmagz

Penampilan Johnny Solinger malam itu tampak menjadi target kritik penggemar. Jeritannya terlalu tipis dan tawar untuk menggantikan seorang Bach. Perbedaan itu sangat terasa ketika Solinger menyanyikan “18 And Life”. Meski pencipta lagunya adalah Sabo, namun bagaimana Bach melakonkan perjalanan kriminal Ricky, sang teenage murderer, belum tergantikan hujam melodramanya.  “Terdengar kayak band cover” tukas seorang penonton.

Selain (lagi-lagi) keberhasilan lawakan ala ‘bule yang berusaha berbicara Indonesia’ yang standar digunakan band internasional dalam mencairkan suasana, pada dasarnya Skid Row adalah band yang terjaga Integritasnya dalam memainkan musik hard rock. Itu dibuktikan dari penampilan mereka yang mahir di setiap lagunya hingga satu lagi hits lama di penghujung pertunjukan, “Youth Gone Wild”, dikumandangkan. Dengan fasilitas panggung kelas satu dan artis internasional yang paham betul cara memainkan music rock, tiket murah tak berarti down grade show. Mencoba lepas dari bayang-bayang Bach dan ketergantungan hits-hits lama, apa yang disuguhkan Skid Row adalah rock yang definitif. Sesuatu yang selalu dibawa oleh Log Zhelebour pada mereka penggemar rock, termasuk ketika tanpa ratusan ribu rupiah dari puluhan ribu penonton.[Warn!ng/Soni Triantoro]

Crowd © Warningmagz
Crowd © Warningma

Gigs documentation here ! : Log2Rock : Skidrow Vs Jamrud

Venue : Stadion Kridosono

Date: 8 oktober 2013

Event by : Log Zhelebour

Man of the match : 30 tahun dedikasi Log Zhelebour terhadap musik ROCK belum terlawankan.

Warn!ng level : •••

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.