close

Lorde, Melodrama, dan Anomali Pop Masa Kini

Lorde – New York Times

 

 

Dok. New York Times

 

Apa yang membuat pop masih bermakna sekarang? Pintu masuk paling mudah untuk membahas esensi dari pop adalah relevansinya pada khalayak. Sesuatu dianggap pop bila ia dapat menyentuh wilayah audiens yang luas, sehingga ia dapat disebut sebagai populer. Musik pop sendiri identik dengan musik enak yang dapat dikompromikan kepada berbagai macam latar belakang pendengar. Namun, di balik gema musik pop yang memenuhi ruang publik kita akibat penjejalan terus menerus melalui berbagai macam ideological music apparatus dengan panduan sakti mekanisme pasar yang dijalankan Billboard 200, predikat pop menyimpan anomali—jika tidak ingin disebut sebagai ironi—dibaliknya. Perumpamaan sederhana dapat diambil dari simile anomali pada gerakan pop art, sampai dengan politik yang mengusung populisme.

Pertama, tentang anomali pop art yang awalnya mengusung semangat perlawanan low art terhadap seni adiluhung malah berakhir dengan pengkultusan terhadap dirinya sendiri. Pop art mau tidak mau berakhir di pasar seni rupa yang menaikkan statusnya hingga setara dengan high art. Lukisan Mickey Mouse bikinan Roy Lichtenstein sekarang setara dengan lukisan abstrak ekspresionis Mark Rothko. Kedua, tentang anomali politik populis. Gerakan ini pada awalnya memang memiliki semangat untuk mengembalikan politik sebagai proses pengambilan keputusan kepada ‘orang banyak’, tetapi pada akhirnya ia malah menciptakan elit politik baru. Proses de-demokratisasi berjalan dengan sikap anti terhadap kebebasan pers serta sistem kehakiman, dan penyingkiran oposan. Fenomena ini disebut sebagai democratic backsliding, sebuah penghancuran perlahan terhadap demokrasi yang dilakukan oleh rezim demokratis.

Lalu, apa hubungannya kedua contoh tadi dengan musik pop? Menurut saya, musik pop hari ini memiliki anomalinya sendiri, dan salah satu anomali tersebut direpresentasikan oleh Lorde. Kita semua mungkin mengenal penyanyi bernama asli Ella Yelich-O’Connor yang lahir pada tahun 1996 ini dari single “Royals” yang berasal dari extended play pertamanya, The Love Club EP (2012). Lagu yang sama kemudian dirilis ulang dalam album panjang perdananya yang bertajuk Pure Heroine (2013). Lagu itu meledak hingga memenangi titel Song of the Year pada Grammy tahun 2014.

“Royals” adalah contoh sederhana dari anomali pop. Sebuah lagu yang bercerita tentang sinisme remaja dari belahan bumi selatan terhadap sesuatu yang ‘pop,’ kemudian berakhir menjadi pop itu sendiri. Pop menjanjikan kedekatan dengan khalayak ramai, tapi ia juga menjanjikan kemewahan dan privilege bagi para ikon pop tersebut. Aneh sebenarnya membayangkan seseorang yang bernyanyi sinis, “Don’t you think that it’s boring how people talk?/Making smart with their words again, well I’m bored,” atau skeptis, “But every song’s like gold teeth, Grey Goose, trippin’ in the bathroom/Bloodstains, ball gowns, trashin’ the hotel room,” atau muak, “I’m kind of over gettin’ told to throw my hands up in the air,” di kemudian hari menjadi salah satu remaja paling berpengaruh versi majalah Time.

Namun, gambaran itu harus diuji dengan album penuh keduanya yang keluar tahun 2017 ini, yaitu Melodrama. Apakah Lorde masih menjadi remaja yang bersikap sinis terhadap pop setelah ia menyandang status popstar? Melodrama dibuka dengan single “Green Light” yang membuat saya berpikir bahwa Lorde telah berubah dan merangkul pop stardom dengan merengkuh personanya bulat-bulat. Kekhawatiran itu jelas, sebab album ini tidak diproduseri lagi oleh kolaboratornya pada Pure Heroine, yaitu Joel Little. Gitaris band fun. sekaligus pemilik proyek solo Bleachers, Jack Antonoff didaulat Lorde menggantikannya.

Dok. Getty Images

Lagipula, dentingan piano bertempo cepat dan penuh sudah terdengar setelah setengah menit lagu “Green Light” berjalan. Tidak ada kesan misterius dan minimalis seperti saat mendengarkan pembukaan Pure Heroine oleh “Tennis Court.” Belum genap semenit, loop bas drum sudah keluar setelah Lorde menyudahi refrain dengan lirik, “How we kissed when we danced on the light up floor?/On the light up floor.” Bagian chorus yang datang dari progres seperti itu bisa ditebak sangatlah ramai dengan clap yang menggaung di balik nada-nada tinggi Lorde. Euforia bernyanyi bersama sudah bisa dibayangkan sejak lagu belum menginjak satu menit setengah, “‘Cause honey I’ll come get my things, but I can’t let go.” Kesan hedonistik membalut lirik tentang putus cinta dan pesta pora tidak pernah saya harap keluar dari seorang Lorde.

Pemilihan “Green Light” sebagai lead single merupakan sebuah statement. Dari kesan pertama tadi, saya agak kecewa, karena saya pikir Lorde sudah berubah. Namun, ternyata ada orang yang secara lebih tajam mengkritik lagu tersebut. Ia tidak lain dan tak bukan adalah Max Martin. Seperti yang diakui sendiri oleh Lorde kepada Majalah New York Times, Max Martin telah mendengarkan “Green Light” sebelum lagu itu dirilis dan ia menganggap lagu itu sebagai kesalahan. Lorde pun berkata, “He (Max Martin-pen.) had a very specific opinion, which had to do with the melodic math — shortening a part,” lalu ia mengulangi perkataan Martin dengan berucap, “the drums don’t show up on the chorus until halfway through, which creates this other, bizarre part.”

Stacey Anderson dari Pitchfork bahkan melebih-lebihkan komentar Max Martin tersebut dalam review-nya, “There’s a reason Max Martin called the New Zealander’s (Lorde-pen.) approach ‘incorrect songwriting’—by no Top 40 rubric should her song fire off, within its first 60 seconds, a spectral synthesizer wobble, a strident line of house piano, a subterranean vocal plunge, and an apropos-of-nothing gear shift that feels like storm clouds ebbing to the sun.”

Saya hanya pendengar awam yang tidak punya merit untuk memberikan penilaian terkalkulasi dari “Green Light.” Jika saya menganggap “Green Light” adalah luaran yang aneh bagi Lorde, Max Martin melihat lagu ini secara lebih objektif dan menilainya sebagai pop yang janggal, atau bisa dibilang “Green Light” bukanlah pop di telinga pencetak hits bagi Britney Spears, Kelly Clarkson, dan Taylor Swift ini. Saya telah bias melihat Lorde secara lebih ‘pop’ bahwa ia harus lekat dengan identitas lamanya pada Pure Heroine. Seakan-akan Lorde harus termanufaktur-repro-kembang-biakkan bak produsen seni yang klise dan dengan mudahnya dicintai. Padahal sejak awal ia memberi template pada dirinya bahwa ia bukanlah seorang yang mudah disukai oleh semua orang. Langkahnya menyanyikan “Green Light” adalah statement darinya bahwa ia dapat menjadi ‘pop’ tanpa tetek-bengek pop itu sendiri.

Lorde berhasil melewati ekspektasi umum sekaligus tetap relevan bagi khalayak. Melodrama berhasil memuncaki Billboard 200 pada minggu pertama pasca rilis tanggal 16 Juni dengan menjual setara 109.000 unit secara fisik, daring, dan streaming terhitung sejak tanggal 22 Juni. Melodrama mengambil tema penerimaan diri terhadap luka akibat kesendirian. Bisa ditebak hidup Lorde memang berubah setelah ia putus dengan pria yang telah lama ia pacari, yaitu fotografer dari Auckland bernama James Lowe. Namun bukan Lorde jika ia hanya menelan bulat-bulat tema putus cinta lantas membuat Melodrama menjadi sesuatu yang meromantisir cinta lama atau kebencian berlebih terhadap masa lalu. Ia sendiri memaknainya sebagai sesuatu yang lebih seimbang, berikut komentarnya, “It’s a record about being alone. The good parts and the bad parts.

Dok. Genius

Lorde memang menunggu ‘lampu hijau’ untuk bisa melaju dalam hidup setelah pengalaman putus cintanya tersebut. Setelah lampu hijau menyala, pendengar akan disuguhi nomor “Sober.” Sekarang ia sudah bisa menerima pengalaman pahit itu, “It’s time we danced with the truth/Move alone with the truth.” Mesin pendengar yang masih panas akan disuguhi produksi “Sober” dengan loop drum patterns yang adiktif ditambah suara trumpet yang mendramatisir sebelum kita dikejutkan dengan perubahan pola drum saat bridge menjelang outro yang lebih menonjok. “Homemade Dynamite” datang kemudian tanpa diundang dengan drop yang cepat tanpa basa basi. Dentuman bas terdengar seperti datang dari wilayah ketidaksadaran untuk mengundang kita menari saat pesta. Ingat, kita menari bukan seperti party goers dengan EDM yang menumpulkan panca indera serta akal sehat. Kita sadar bahwa kita sedang bahagia, bukan karena kita memendam rasa sedih kita. Sebab kita menerima kesedihan itu secara sadar; kita telah sober.

“Hard Feelings/Loveless” menjadi penanda titik tengah album. Transisi dari proses menyadari ke proses pemulihan dengan menjadi sendiri. Ia menyanyi di bagian “Hard Feelings,” terdengar menyakitkan, “Alone with the hard feelings of love,” dan rapuh, “I care for myself the way I used to care about you.” Di paruh “Loveless,” Lorde mengganti mood dengan berceracau memakai suara kemayu bak Charli XCX tentang generasi muda yang suka meremehkan cinta sejati. Pendengar kembali dikejutkan, kali ini lewat string section yang menjadi intro “Sober II (Melodrama).” Seperti pagi yang tiba-tiba datang usai pesta, di tengah-tengah lagu kita dikejutkan lagi dengan drop yang diikuti hi-hat elektronik yang mengingatkan pada musik trap.

Semua sudah terlanjur terjadi dan “Supercut” adalah penerimaan Lorde terhadap masa lalunya tersebut. Lorde seperti ingin bilang, buat apa menyesali sesuatu yang dahulu kita inginkan. Ia bernyanyi, “In my head, I do everything right.” Pada akhirnya, kita memang akan terus bergerak menuju sesuatu yang kita inginkan. “Perfect Places” adalah tujuan akhir dari Melodrama. Walaupun kehidupan kita tidak pernah sempurna, apalagi bagi kaum muda yang terus berproses mencari kesempurnaan itu. Seperti biasa, Lorde tetap menyisipkan nada sinis di akhir, “Trying to find these perfect places/What the fuck are perfect places anyway?”

Itulah pop anomali yang dipersembahkan Lorde. Ia memang bertransformasi setelah melalui sebuah fase yang menguras emosinya, dan melalui musik, kita dapat memahami apa yang telah ia lalui. Hal penting inilah yang sering luput daripara superstar lain. Pendengar tidak sepenuhnya memahami dan terikat dengan ekspresi si artis. Kita bahkan sejak awal tak nyambung dengan apa yang sebenarnya dipikirkan dan/atau dirasakan si artis. Itulah yang saya rasakan saat mendengarkan penyanyi macam Miley Cyrus, Katy Perry, dan kadang Ariana Grande juga Taylor Swift. Saya merasa tidak mendapat apa-apa setelah mendengarkan mereka, kecuali rasa manis yang berangsur-angsur berubah menjadi pahit seperti rasa permen dengan pemanis buatan. Setidaknya setelah itu, saya bisa memutar Lorde dan membayangkan bersinestesia dengan warna-warni musiknya. Tentu sambil berteriak sinis, “We don’t care; we’re driving Cadillacs in our dreams.” [Kontributor/Devananta Rafiq]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response