close

M83 Live in Jakarta: Malam Minggu Impian Jiwa Muda

M83 10
M83 © Kiosplay
M83 © Kiosplay

Resiko masuk angin dan kutu air tidak menjadi halangan berarti bagi mereka yang ingin diajak mengawang dalam mimpi-mimpi masa muda.

Sabtu (21/5) tengah hari, hujan lebat mengguyur Jakarta. Hingga sore menjelang, belum ada pertanda hujan akan segera reda, justru turun semakin ganas. Bukan awalan baik untuk menyambut konser M83 malam nanti.

Sederetan warung makanan di depan Lapangan D Senayan sempat menjadi tempat berteduh. Di sana, Mita duduk gelisah. Usut punya usut, ia sedang menunggu teman yang membawa tiket miliknya. Blouse biru dan rok pendek yang ia kenakan sudah terlanjur basah karena nekat menerobos hujan. Sedikit pengorbanan untuk konser yang ia tunggu sejak SMA. Keadaan ini jelas membuat Mita merasa tidak nyaman. “Sekalian mau titip sandal dan jas hujan juga nih, outdoor sih soalnya,” katanya mengeluh. Ada benarnya. Walaupun nanti hujan berhenti, venue konser dijamin akan menjadi kubangan lumpur, kurang kondusif bagi yang ingin bergoyang ria.

Selepas adzan maghrib, hujan mulai reda. Namun, belum terlihat keramaian yang berarti di venue, diperjelas oleh luasnya area penonton yang disiapkan. Padahal, acara akan dimulai pukul 19.00 dengan opening act dari Bottlesmoker. Hingga mereka memulai penampilannya, baru sebagian depan panggung yang terisi.

Cuaca buruk tak lantas mengganggu kegiatan bermalam minggu masyarakat metropolitan. Di tengah set Bottlesmoker, penonton mulai memadati venue dan mencari tempat paling tidak becek. Dudukan pagar pembatas yang membelah crowd dalam dua kubu menjadi spot premium yang banyak diincar.

Jangankan hujan, bagi Daniya, kondisi fisik juga bukan menjadi alasan absen. Tangan Daniya bergantung pada arm sling berhubung masih dalam proses rehabilitasi setelah patah tulang. “Kemarin waktu Tame Impala juga datang, bukan masalah,” ujarnya menginspirasi optimisme. Ini baru namanya semangat baik!

Berbekal optimisme ini, suasana venue terasa lebih baik, dan nyatanya memang membaik. Alasan di balik pemilihan Lapangan D Senayan agaknya mulai bisa diterka. Terang bulan menembus mendung yang mulai terurai. Sisa kabut dari hujan yang turun seharian turut memperkuat semarak lampu perkotaan.

Bottle Smoker © Kiosplay
Bottle Smoker © Kiosplay
M83 © Kiosplay
M83 © Kiosplay

Sebuah pemandangan lazim Kota Jakarta pasca hujan–selain banjir­ –yang jarang bisa dinikmati dengan khidmat. “Equilibrium Drifts” yang menjadi pemungkas set Bottlesmoker memantapkan lahir dan batin agar siap mengawang dalam musik M83 setelah ini. Setengah jam setelah Bottlesmoker turun, Anthony Gonzales dan kawan-kawan naik panggung. Tanpa basa-basi, “Reunion” langsung mengajak penonton berjingkrak keriangan. Riff gitarnya yang renyah berpadu manis dengan lampu-lampu neon yang berkelip liar.

M83 © Kiosplay
M83 © Kiosplay

Kemudian bersambung ke “Do It, Try It”. Anthony Gonzales terlihat begitu meresapi setiap denting piano dan petikan tebal bass yang dimainkan. Kebahagiaannya segera menular ke penonton. Bahkan bagi mereka yang kurang sepaham–atau mungkin belum terlalu familiar–dengan materi Junk.

Balada patah hati “Walkaway Blues” memberi sedikit jeda setelah lima lagu. Sebagian muda-mudi yang datang berpasangan berpeluk mesra, seakan merasa tidak perlu menyanyikan lirik lagu ini suatu hari nanti. Setelah berlambat-lambat, tempo kembali normal dengan “OK Pal”.

Reaksi crowd ketika “Bibi the Dog” dimainkan benar-benar di luar dugaan. Untuk beberapa waktu, Lapangan D Senayan disulap menjadi diskotik era 80-an. Sekumpulan orang nyentrik berdansa gila mengikuti beat eksentrik.

Tata lampu sedari awal konser memang sudah cukup menarik, walaupun tidak sampai menyita pandangan. Beda kasus untuk “Bibi the Dog”. Setiap lampu neon dan lampu sorot memancarkan bermacam warna yang saling bertabrakan. Memberi kesan trippy yang sama sekali di luar ekspektasi. “Road Blaster” menjaga atmosfir lantai dansa. Kaum hawa mulai menari genit mengikuti irama seksinya. Komposisi yang begitu memikat, menuntut sedikit lagi energi yang harus terkuras. Tenang, setelah ini tangan-tangan akan melambai pelan dengan “Wait”.

Kapabilitas Kaela Sinclair yang baru bergabung awal Maret lalu diuji lewat “Oblivion”. Mata otomatis terpejam untuk menghayati vokalnya dalam soundtrack futuristik satu ini. Permainan synthesizer yang halus membuat tubuh merinding ketika dipertemukan dengan permainan drum eksplosif. Kaela Sinclair lanjut memimpin crowd di “Go!”. Kehebohan sudah terbayang sejak pertama kali mendengar judul ini di Junk. Penonton tidak ragu untuk berdansa ria, lalu menghitung mundur menanti solo gitar klimaktik yang mengakhirinya. Dari dua lagu ini, bisa dipastikan Anthony Gonzales tidak salah memilih pengganti Morgan Kibby.

Teriakan histeris lalu menyambut “Midnight City”. Tanah becek sudah tidak lagi menjadi alasan penonton untuk tidak berlompat girang sambil bernyanyi sepanjang lagu. Merupakan mimpi yang menjadi kenyataan ketika bisa beramai-ramai merayakan single tersukses M83 ini di bawah gemerlap hamparan hutan beton.

Seorang penonton rupanya terlalu khusyuk terbawa momen sehingga harus mendapati tubuhnya berlumuran lumpur karena tergelincir. Dress putih minim yang ia kenakan juga turut menjadi korban. Sindiran kawannya hanya dibalas dengan sedikit tawa. Kombinasi tiga lagu ini tentunya meninggalkan memori terdalam dari konser perdana M83 di Jakarta.

M83 © Kiosplay
M83 © Kiosplay

Desingan “Echoes of Mine” dan “Outro” menyudahi set utama malam itu. Encore dimulai pelan dengan “Solitude” sebelum “Couleurs” membuat tubuh kejang dan gemetar dengan hentakan elektriknya. Berisiknya “Lower Your Eyelids to Die with the Sun” mendesir halus, kembali mempertemukan kesadaran dengan kenyataan di akhir konser. Seandainya lebih banyak lagi nomor-nomor Before the Dawn Heals Us yang dimainkan, tentu perhelatan ini akan semakin meriah.

Kondisi venue yang kurang ideal terbukti bukan merupakan masalah krusial. Justru menawarkan kompensasi tersendiri lewat bentangan megah perkotaan. Berbekal setlist familiar, M83 sukses menghidupkan jiwa muda yang terpendam, lalu menyuntikkan semacam harapan dan khayalan ke dalamnya.

Malam minggu itu merupakan perayaan atas mimpi-mimpi masa muda yang sebagian menjadi kenyataan. Namun, selayaknya masa muda yang penuh euforia, konser ini terasa begitu cepat terselesaikan. Praktis menyulut rasa rindu berlebihan ketika mengingat beberapa momen yang sempat terekam dalam pikiran. [WARN!NG/Kevin M.]

Event by: KiosPlay

Date: 21 Mei 2016

Man of the Match: Trio “Oblivion”, “Go!”, dan “Midnight City”. Tapi jangan lupakan pula “Bibi the Dog” dan “Road Blaster” yang tampil sebagai underdog.

[yasr_overall_rating size=”small”]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.