close

Mac DeMarco: Slacker Rock Bengal di Ibukota

IMG_4740

Dua malam sebelum tampil di St. Jerome’s Laneway Festival, Mac DeMarco terlebih dulu membawa musik jizz jazz, kelakuan bengal dan kelakar pornonya ke Jakarta.

mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz

Kamis malam (22/01), di level II The Foundry no.8 ratusan penonton riuh menyambut penampilan Mac DeMarco. Selain tentu saja menunggu suguhan lagu-lagu dari album Rock and Roll Night Club, 2 dan Salad Days dibawakan, saya pribadi ingin membuktikan citra bengal penyanyi asal Kanada ini. Dan benar saja, malam itu tidak hanya bermain musik, ia mengumpat, berseloroh lucu, merokok dan bahkan melompat ke penonton minta diarak keliling venue. Untungnya (atau sayangnya) aksi telanjang yang dituliskan beberapa media luar negeri tidak dia lakukan.

Konser yang diadakan oleh kolektif Studiorama dan Prasvana ini dibuka oleh grub garage rock asal Jakarta, Jirapah. Tampil sekitar 30 menit, Jirapah membawakan tujuh nomor termasuk diantaranya “Summer”, “Telephones” dan lagu teranyar mereka “Stay Loud”. Suguhan musik dari band yang ikut mengisi soundtrack film Rocket Rain ini cukup berhasil menyerap atensi. Mood penonton sudah sangat naik ketika Jirapah berpamitan dengan nomor “Hazy Sundays”.

jirapah © Warningmagz
jirapah © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz

Baru sekitar pukul 9, Mac DeMarco yang diiringi oleh Pierce McGarry (bass), Andy White (gitar), dan Joe McMurray (drum) muncul. Tanpa menunggu lama, “Salad Days” dimainkan. Sing along lirih menyuara di kerumunan. Setelahnya “The Stars Keep On Calling My Name” dilanjutkan dengan “Blue Boy” dan “Cooking Up Something Good”. Daftar setlist lagu yang dimainkan malam itu menunjukkan proporsi yang cukup seimbang dari 3 album yang sudah dirilis Mac DeMarco.

“Let Her Go” baru saja sampai pada ujung chordnya ketika penonton mulai melempar bungkusan rokok ke panggung yang lalu dihisap juga oleh Mac. Padahal peringatan “No Smoking” sudah ditempel di beberapa tempat. Mac DeMarco juga bisa begitu saja berteriak “And the next song called.. I like to s*ck c*ck!” sebelum memainkan “Rock and Roll Night Club”. Tapi apa bisa dikata, sepertinya semakin bengal kelakuan atau semakin kotor guyonan Mac, penonton makin suka. Bahkan kelakar-kelakar itu tidak hanya berasal dari atas panggung, karena beberapa penonton juga ikut menimpali. Di antara dua lagu itu, “Ode to Viceroy”, “I’m a man”, “Annie”, dan “Brother” dimainkan.

Setelah menaruh gitarnya, Mac lalu fokus memegang microphone di nomor “Freaking Out The Neightborhood” dan “Still Together”. Saat “Chamber of Reflection” akhirnya disuarakan, synthesizer yang sedari tadi jadi pajangan di panggung akhirnya dimainkan. Penontonpun tidak mau mendiamkan melodi jizz jazz dengan sentuhan klasik mengawang dengan meliukkan tubuh berdansa. Sebelumnya, penonton dipaksa untuk menyanyikan intro “Du Hast” milik Rammstein bersama-sama.

Kerumunan yang terlanjur panas lalu menagih encore. Kali ini Elton John harus merelakan tembang “Candle in The Wind” miliknya dicover asal-asalan oleh Mac DeMarco. Di tengah lagu, Mac tiba-tiba melompat ke arah penonton lalu crowdsurfing keliling venue. Mac yang sedari awal sudah memasang tampang usil terlihat sumringah. Sebagai encore final, Mac yang sebenarnya sudah turun panggung naik lagi dan memainkan “Enter Sandman” milik Metallica yang disambut meriah oleh penonton.

Tentang kenapa musik jizz jazz Mac DeMarco kemudian berdiam lama di telinga kita, jawabannya sudah kita tahu. Tapi tentang kenapa kita juga mencintai Mac DeMarco beserta seluruh kelakuan bengal dan kelakar pornonya di panggung, mungkin judul lagu “Chamber of Reflection” bisa jadi jawaban: saat kita menonton Mac DeMarco, kita menonton kita. Mac DeMarco yang tidak mengada-ada dalam musik, lirik maupun kelakuannya. [Warn!ng/Titah Asmaning]

mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
mac demarco © Warningmagz
Andy White © Warningmagz
Andy White © Warningmagz

Photo by: Yesa Utomo

Event by: Studiorama x Prasvana

Venue: Level II, The Foundry No. 8 SCBD Jakarta

Date: 22 Januari 2015

Man of the match: “Chamber of Reflection” dan aksi Mac DeMarco saat “Candle In The Wind”

Warn!ng Level: !!!!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response