close

Mahfud Ikhwan : Merayakan Kemerdekaan Kecil Lewat Menulis

IMG_1337

 

Ini bukan merupakan perjumpaan pertama antara saya dengan seorang Mahfud Ikhwan. Kurang lebih tiga atau empat tahun silam kami pernah bertemu di sebuah markas pers mahasiswa. Waktu itu saya masih menjadi menjadi pengurus, sedangkan Mahfud sedang bernostalgia di sana. Tidak banyak obrolan yang kami lakukan, hanya selentingan saja. Pun tidak banyak orang yang mengenalnya sebagai penulis kala itu.

Pada 2014 nama Mahfud Ikhwan menjadi perbincangan hangat para pelaku sastra. Novelnya yang berjudul Kambing dan Hujan berhasil menyabet penghargaan DKJ di tahun tersebut. Seolah ia baru memetik buah dari sebuah dunia yang digelutinya selama belasan tahun. Pria kelahiran Lamongan ini sudah terjun ke dunia sastra sejak bangku kuliah. Ia memulainya dengan menulis cerpen. Tahun 2009, pria lulusan Sastra Indonesia ini melahirkan novel pertamanya Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Buku itu tidak banyak dibicarakan dan seolah mati suri. Hasil dari karya yang ia garap selama enam tahun tidak sesuai dengan harapannya. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat ia berhenti untuk menulis. Pada tahun yang sama ia justru memutuskan berhenti bekerja sebagai buruh di salah satu penerbitan di Yogyakarta. Mahfud memilih memantapkan dirinya untuk menulis apa yang ia kehendaki. Tahun 2011, ia memulai menulis tentang film India di blognya Dushmanduniyaka. Tulisan-tulisan Mahfud di blognya tersebut sudah dibukukan dalam buku Aku & Film India Melawan Dunia jilid 1 dan 2.

Kali ini, perbincangan kami lakukan di sebuah warung kopi. Diiringi senja dan secangkir kopi hangat, Mahfud mulai menuturkan kisah-kisahnya. Baru-baru ini, ia baru saja menerbitkan novel ketiganya yang berjudul Dawuk: Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu.

Wawancara oleh: Rifky Afwakhoir

Foto oleh: Aditya Adam

 

Masih ingat karya sastra pertama yang dipublikasikan?

Yang bisa ku ingat pertama kali di Annida sekitar tahun 2000. Waktu itu masih kuliah.

Kuliah semester berapa waktu itu?

Aku kuliah angkatan ‘98, jadi kira-kira itu tahun kedua lah.

Judulnya masih ingat?

Sebentar…  Aduh aku lupa, tapi aku masih simpan sih karena kupikir itu penting. Nanti mungkin bisa diingat.

Anda baru saja menerbitkan novel Dawuk. Menurut Mahfud sendiri apa perbedaan novel ini dengan novel-novel Anda sebelumnya?

Mungkin karakterisasi dan teknik bercerita yang aku pakai berbeda, tapi terutama adalah semacam cita rasanya. Jadi novel pertama dan keduaku, Ulid dan Kambing dan Hujan dicitrakan sebagai novel yang sopan. Bahkan novel kedua tentu saja bisa sangat diterima kalau disebut novel islami dan aku ingin mencoba keluar dari situ. Karena kupikir sebelumnya aku menulis cerpen dengan cita rasa yang sedikit berbeda. Ah, katakanlah agak punya cita rasa “liar”. Jadi ada teman yang bilang di Ulid itu novelnya terlalu sopan, tokohnya juga sangat sopan. Jadi anak baik-baik, tidak mabuk, tidak melanggar norma-norma,  berbakti pada orang tua, jadi Dawuk kira-kira adalah sebuah cerita yang dulu aku tepis untuk masuk ke Ulid. Karena kupikir itu bisa menjadi semacam cerita yang berbeda. Dan Ulid memang halus dan berkarakter bildungs roman atau roman pertumbuhan, jadi kupikir dia akan terganggu jika cerita macam Dawuk dimasukkan.

Jadi Dawuk adalah tumpuan bagiku untuk menyalurkan beberapa hal yang mungkin tidak cocok dengan Ulid. Makanya karakter pada Dawuk adalah orang-orang kasar, seorang gadis yang memberontak, seorang pemuda yang tidak diterima oleh masyarakatnya, dan aku menjudulkannya Dawuk karena itu tentang sesuatu yang gelap. Gelap yang tidak benar-benar hitam, jadi dia berada di area abu-abu dimana sebenarnya yang benar dan yang salah tidak jelas, yang hak dan yang batil.

Jadi, orang yang dipandang secara norma benar itu melakukan kejahatan-kejahatan yang tidak bisa diterima, sementara orang-orang yang secara normatif dipandang bejat ternyata punya hal yang bisa dipetik kebaikannya. Di Dawuk aku melakukan hal yang tabu, yang belum kulakukan sebelum-sebelumnya, yaitu membunuh tokoh-tokoh ku.

Kenapa Anda baru memasukan unsur-unsur film India pada novel Dawuk?

Itu sebenarnya giliran aja. Jadi aku sangat disetir oleh budaya pop yang membesarkanku. Jadi di Ulid ada musik pop, ada dangdut, ada Rhoma Irama. Hal yang sama juga aku keluarkan di Kambing dan Hujan. Aku mungkin sedikit menambah saja, semacam gimmick lah di Dawuk itu. Meskipun beberapa pembaca tampaknya kemudian menganggap (Dawuk) itu menjadi sangat India. Ya awalnya hanya gimmick, aku ingin memberi tribute, semangatnya selalu seperti itu sebenarnya. Karena dibanding teks-teks misalnya sastra atau buku secara umum, mungkin yang menciptakan energi kreatifku itu adalah hal yang jauh di luar teks. Film, musik, cerita-cerita ludruk yang juga aku sebut di Dawuk.  Aku juga sedang berpikir tentang tokoh-tokohku yang main bola dan kupikir sudah kucicil di Dawuk juga. Meskipun kira-kira tokoh nggak enaknya. Jadi, itu kira-kira giliran aja.

Apa yang membuat karya-karya sastra Anda sering menggunakan latar belakang kehidupan pedesaan?

Yang paling mudah kukatakan adalah aku berasal dari situ. Satu prinsip yang sejauh ini kulakukan dalam kepenulisanku adalah aku menulis apa yang aku tahu, apa yang aku kuasai, dan apa yang kumengerti.  Tentu saja aku pernah menulis tentang karakter-karakter urban, setidaknya di awal-awal kepenulisanku dan mungkin di masa yang akan datang. Akan tetapi, yang aku tahu bahwa aku biasanya gagal melekatkan mereka dengan latar. Karena sejauh ini latar yang paling kumengerti adalah latar rural. Sebuah desa yang terpencil di Ulid, terus desa di tengah tegalan di Kambing dan Hujan, serta di Dawuk adalah desa pinggir hutan. Gampangnya ya seperti itu.

 

Mahfud Ikhwan

Ulid Tak Ingin ke Malaysia baru terbit tahun 2009, tapi nama Mahfud baru ramai dibicarakan sekitar tahun 2014, setelah meraih penghargaan dari DKJ lewat novel Kambing dan Hujan. Menurut Mahfud sendiri apakah penghargaan seperti itu diperlukan seorang sastrawan untuk meraih pengakuan sekaligus eksistensi di dunia sastra?

Industri buku yang menaungi kesastraan kita sangat sulit misalnya untuk menerbitkan penulis baru tanpa embel-embel tertentu. Jadi kupikir di situ pentingnya sebuah ajang untuk kemudian membuat kita layak jual. Tapi tentunya itu bukan yang terpenting. Untuk hal-hal taktis iya, tapi kemudian kalau itu jadi tujuan tentu saja jangan. Karena menurutku, salah kalau menulis hanya untuk institusi tertentu, itu nggak bagus. Artinya, bayangkan kalau kita hanya menulis untuk DKJ atau Khatulistiwa Literary Award atau festival lain, pada akhirnya yang ada di kepala kita hanya juri dan tim seleksi, menurutku itu salah sejak awal. Ya (penghargaan) itu  sebenarnya bukan sesuatu yang buruk sih, itu bisa memacu seseorang menjadi produktif, dipacu untuk meningkatkan kualitasnya karena dia ingin mencapai level tertentu, itu tidak apa-apa. Tapi, itu harus menjadi perantara saja. Kurasa bagaimanapun yang harus dicapai oleh sebuah karya tulis, lebih-lebih fiksi, tentu saja adalah pembaca.

Apa-apa makna penghargaan bidang sastra yang sudah diraih bagi Anda sendiri?

Mungkin itu membuat buku-bukuku yang lain menjadi tampak lebih baik, setidaknya seperti itu. Hal yang menurutku bagus adalah ketika Kambing dan Hujan menang, orang kemudian mencari tahu tentang Ulid. Dan itu bagiku sangat menyenangkan karena proses menulis Ulid menurutku jauh lebih sulit, itu pertama. Kedua adalah naskah ini mengalami fase yang sulit di kehidupannya sebagai teks. Jadi digarap dengan sembrono, dijual dengan tidak maksimal, atau mungkin justru sama sekali tidak dijual. Kupikir Kambing dan Hujan dan apa yang didapatkannya membuka semacam kesempatan lebih untuk memberi buku-buku ku yang lain hidup lebih panjang.

Apa perbedaan kehidupan Anda setelah dan sebelum meraih penghargaan tersebut terutama kehidupan sebagai penulis sastra?

Aku nggak tahu persis, mungkin orang lain bisa mengukurnya. Tapi, kira-kira yang kurasakan adalah ada semacam keyakinan yang naik, mendapat sedikit pembenaran bahwa aku tidak melakukan hal yang salah, yaitu bersiteguh menulis. Di fase-fase tertentu aku merasa, jangan-jangan aku memang tidak berbakat, dan itu selalu membuatku tergoda untuk mencoba hal-hal lain di luar menulis. Meskipun sejauh yang ku ingat aku tidak pernah benar-benar keluar dari itu.

Tapi setidaknya di ranah sastra dan fiksi, Kambing dan Hujan memberiku semacam keyakinan ada yang menerima apa yang ku tulis. Buktinya ada yang baca apa yang ku tulis jadi kupikir kenapa tidak dicoba dengan buku-buku berikutnya. Jadi, kalau sebelumnya aku sempat mengalami keraguan, setidaknya keraguan apakah karyaku diterima atau tidak, Kambing dan Hujan memberikan semacam kepastian pertanyaan itu. Meskipun tentu saja itu kepastian yang harus dijaga, karena bagaimanapun Kambing dan Hujan memiliki ciri-ciri yang lebih bisa diterima masyarakat. Relatif lebih ringan dalam teknik, lebih enteng dalam cerita. Yang kira-kira ku tulis lebih ingin asik, lebih ingin bersenang-senang. Bahwa kemudian mendapat predikat tertentu dan karena menang DKJ mungkin orang kemudian tidak ragu menyebutnya sebagai sastra, itu hadiah.

Tahun 2009 Mahfud menerbitkan novel Pertamanya Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Banyak orang yang mengatakan bahwa novel ini ‘mati suri’. Setelah novel tersebut terbit tidak banyak yang membicarakannya. Apa perasaan Anda melihat novel pertama bernasib demikian?

Seorang teman bilang bahwa, seperti seorang ibu yang hamil besar, sakit, dan mual panjang berbulan-bulan, dan ketika kemudian si anak itu lahir dia menjadi tampak buruk rupa, terutama karena kesalahan orang lain. Ada semacam keputusasaan karena aku tidak bisa mencegah itu terjadi. Yang lebih tidak bisa kucegah lagi adalah bahwa kemudian buku itu dijual dengan sangat buruk.

Maksudnya buruk seperti apa?

Kalau aku bilang tidak laku tentu saja itu sangat tidak enak. Jadi, buku itu kira-kira dicetak sekitar 1500 eksemplar dan sampai sekarang buku itu masih ada. Bahkan (kertasnya) kuning-kuning menggambarkan betapa buku tidak tersebar sebagaimana mestinya. Dan yang sebenarnya agak dalam efeknya tentu saja itu tadi yang kusebut, sebagai semacam kegoncangan keyakinan, apakah tulisanku memang tidak diterima oleh publik, tidak menarik, atau yang lebih keras lagi memang tidak layak untuk dibaca. Itu aku merasakan agak lama, setidaknya sampai kemudian Ulid terbit lagi dan mendapat sambutan lumayan bagus. Meskipun, tetap saja tidak sebagus yang diharapkan karena dalam jumlah kecil dan sekarang masih berjuang untuk dijual.

Ulid dicetak lebih dari satu penerbit. Di antara penerbit tersebut mana yang menurut Anda lebih memuaskan?

Tentu saja bagaimanapun terbitan kedua adalah usahaku untuk menghapus hal-hal yang tidak enak dari terbitan pertama. Namun, tanpa terbitan pertama tidak akan terbit buku-buku yang lain. Jadi, bagaimanapun aku tidak menyesali apa yang ku tulis dulu, seburuk apapun wajahnya itu anakku. Dan aku akan membesarkannya, akan hidup dengannya, dan aku selalu akan membanggakannya.

Saya sempat melihat situs milik Bentang Pustaka , katanya novel Kambing dan Hujan akan diangkat ke layar lebar. Apa itu benar?

Karena sekarang belum ada, anggap saja itu rumor. Dulu sempat jadi berita, tapi karena beritanya tidak jadi kenyataan anggap saja rumor.

Anda menggunakann hewan kambing sebagai dua judul buku anda, Belajar Mencintai Kambing  dan Kambing dan Hujan. Apakah ada makna khusus dibalik hewan tersebut dalam kehidupan Anda?

Mungkin ini aja, Belajar Mencintai Kambing mencoba mendompleng Kambing dan Hujan. Aku nggak tahu ya, sebenarnya Belajar Mencintai Kambing jauh lebih dahulu dibikin sebagai judul sebelum Kambing dan Hujan, karena  Belajar Mencintai Kambing kutulis sekitar tahun 2003 atau 2004. Aku nggak tahu motivasinya, mungkin nyentrik aja sih. Penjelasannya gini, kalau untuk Kambing dan Hujan itu merepresentasikan isinya. Ada gambaran generasi penggembala kambing dan gambaran generasi yang yang dirundung hujan. Jadi, Kambing dan Hujan adalah penggambaran tentang keberjarakan, kemustahilan untuk dipertemukan pada yang sama menjadi representasi bahwa itu tentang masa lalu dan masa kini. Masa lalu dan masa kini digambarkan di novel  diwakili oleh kambing yang digembala para orang tua itu dan hujan adalah hal yang menggambarkan romansa dua orang anak muda.

Belajar Mencintai Kambing adalah salah satu judul cerpen dalam kumpulan cerpen Belajar Mencintai Kambing, dan kupikir itu agak mencolok. Pada saat yang sama ada semacam konsep ketika menerbitkan kumpulan cerpen, bahwa Belajar Mencintai Kambing adalah semacam biografi kepenulisanku. Jadi, itu berisi cerpen-cerpen yang ku tulis, dari pertama kali menulis cerpen sampai terakhir. Di buku itu bisa dilihat oleh pembaca proses belajarku. Bagaimana secara gaya aku berubah, secara tema aku berubah, dan mungkin di titik mana aku berhenti. Aku setidaknya tampak seperti itu.

Belajar Mencintai Kambing kupikir juga menggambarkan tema-tema di dalam kumpulan cerpen itu. Jadi tema-tema belajar dimana aku bikin cerpen-cerpen awalku dan itu memang tampak belajar, dan tanpa orang lain harus menghakimi bahwa sebagian cerpen di bagian pertama Belajar Mencintai Kambing adalah fase belajar. Fase kedua adalah, ya kira-kira  fase mencintai, itu apa yang menggambarkan isi sebagian dari cerpenku. Pada saat yang sama aku sudah memilih dunia apa yang akan kugeluti. Kambing kupikir semacam pematangan dari konsep yang pada awalnya ingin aku tuju. Meskipun aku tahu bahwa belum akan berhenti dan aku harap seperti itu. Cuma di level cerpen, sampai sejauh ini aku belum bisa membuat yang baru, di fase kambing lah aku berhenti

Maksudnya fase kambing itu seperti apa?

Fase kambing adalah ketika aku mulai menulis tentang hal-hal yang sekarang kemudian tampak seperti semacam, kalau teman-teman bilang , kekhasanku. Menggarap tema-tema rural, menggarap hubungan manusia dengan alamnya, jadi kambing muncul di Ulid, kambing muncul di Kambing dan Hujan, kambing tidak muncul tetapi bisa dibayangkan di Dawuk.  Kupikir ada satu kalimat di Dawuk, bahwa Dawuk adalah suatu istilah yang dipakai orang kampung dimana latar Dawuk berada untuk menggambarkan tentang kambing yang berkulit abu-abu.

Apakah tidak pernah terlintas untuk berhenti menulis dalam pemikiran anda?

Aku tadi bilang ya. Tapi, tentunya sulit terjadi juga. Karena kupikir aku pernah bilang dalam satu tulisan bahwa aku tidak membayangkan berhenti menulis karena aku tidak bisa membayangkan melakukan hal lain. Misalnya, aku tidak bisa seperti teman-teman yang kembali mencangkul atau jadi tukang batu. Jadi, ya sudah aku harus bergelut, bersitegang, berjuang dengan apa yang kupunya, kemampuan yang kumiliki, kemampuan yang setidaknya kupercaya kumiliki yaitu menulis. Sejauh ini aku belum berencana meninggalkannya. Aku masih punya beberapa project yang mungkin bisa melestarikan kepenulisanku.

Anda juga dikenal  menulis ulasan, opini, esai, atau pun menerjemahkan teks film India, dan Anda menulisnya di blog bernama Dushmanduniyaka. Mengapa Anda tidak menamai misalnya Kuch-Kuch Hota Hai biar lebih terkesan familiar di pembaca Indonesia?

Dushmanduniyaka adalah perlawanan terhadap Kuch Kuch Hota Hai, kira-kira begitu. Aku tidak menyukai Kuch-kuch Hota Hai terutama karena dia menghancurkan gambaran tentang film India yang ideal. Tentu saja itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, itu semacam perasan insecurity, dari seseorang yang merasa lebih dulu menyukai India. Tapi, teman-teman mungkin bisa melihat bahwa Dushmanduniyaka memang ekspresi berontak terhadap hal-hal di luar gambaran idealku tentang film India. Satu, terhadap bagaimana film India dan penonton film India dalam persepsiku diperlakukan. Kedua adalah, bagaimana penonton film India menonton film India. Itu adalah dunia yang ingin dilawan Dushmanduniyaka, karena Dushmanduniyaka adalah enemy of the universe.

Mahfud Ikhwan

Film India juga merupakan media perlawanan Anda untuk melawan dunia, itu bagaimana kongkritnya?

Aku tadi sudah mencicil. Tapi, dalam kepalaku gambaran aku menulis di situ bahwa, satu, orang malu untuk menonton film India. Kedua, akan dipermalukan kalau nonton film India. Jadi, mungkin terkadang nonton film porno bisa lebih diterima. Mungkin sekarang persepsi itu berubah. Aku nggak tahu, mungkin karena film India sekarang menjadi lebih massal, lebih dikenal, lebih naik gengsinya karena film-film seperti 3 Idiots atau PK. Tapi, semoga ada yang berubah di luar sana tentang budaya masa tertentu. Karena masalahnya kenapa orang menghina misalnya, atau merendahkan film india, atau mencemooh film India terutama bukan karena mutunya, tapi karena anggapan mutunya rendah, dan anggapan beda dengan kenyataan. Anggapan dan kenyataan belum tentu sama, meskipun aku tidak akan membela sebagian film India yang sampai ke kita adalah film-film dengan kualitas rendah. Hal yang sama juga kita temukan pada film-film Hollywood.

Persoalannya kemudian itu ada inferiority complex. Ada gambaran orang yang menonton film India adalah, satu, orang dengan kelas sosial rendah. Kedua, orang berselera rendah. Makanya kalau di zamanku dulu misalnya, film India dianggap sebagai filmnya pembantu rumah tangga, filmnya ibu-ibu, filmnya orang kampung. Aku merasa Dushmanduniyaka harus mengingatkan orang-orang bahwa itu tidak benar. Pertama, melakukan semacam prasangka tentu saja salah. Yang kedua adalah prasangka itu salah karena sebagaimana film Hollywood, di Bollywood banyak film-film bagus dan prasangka itu membuat orang-orang melewatkan film bagus.

Anda sering mebuat tulisan mengenai film India. Mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama terhadap film-film Indonesia?

Aku nggak tahu, mungkin itu pilihan pasar aja, gampangannya seperti itu. Sebenarnya aku memulai mengulas semua film. Jadi, Sebelum Dushmanduniyaka, jadi aku punya blog yang namanya Skeptictank, dan isinya adalah macam-macam tulisan, tapi salah satunya adalah ulasan-ulasan film. Aku di situ menulis tentang film Indonesia, film Eropa, film Hollywood, baik yang baru maupun yang tua, dan bahkan film India termasuk yang paling minim. Tapi, kupikir kalau aku menulis film Hollywood, aku akan melakukan hal yang sama dengan banyak orang dan itu tidak akan membantu orang lain. Aku akan hanya menjadi bagian dari rombongan yang sudah besar.  Kira-kira kita menulis seperti Leila Chudori semua kan. Film Indonesia juga unik, aku banyak koleksi film Indonesia, tapi kemudian kupikir ada hal yang berbeda yang terjadi pada film India. Kemudian aku pustuskan, kalau sombongnya ada keharusan profetik bagiku untuk bicara tentang film India.

Orang menulis film Hollywood atau film-film festival banyak. Film Indonesia juga banyak, meskipun sebagian besar isinya caci maki dan mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika melakukannya, dan itu yang sudah kulakukan. Aku mencaci maki film-film Indonesia yang sudah ku tonton dan ku review. Jadi aku pernah, kalau mungkin waktu itu sudah ada Facebook, aku akan viral karena memaki Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi, tapi kupikir sudah. Maksudku ya ini semacam aku menggarap hal yang paling tidak ada, itu satu. Yang kedua, aku memiliki semacam pembelaan tersembunyi terhadap hal-hal yang menurutku dilecehkan. Aku punya pembelaan terhadap musik dangdut, terhadap Rhoma Irama, terhadap film India, dan mungkin beberapa hal lain yang kupikir dipersepsikan salah atau diremehkan. Aku kemudian mengambil keputusan untuk membuat blog khusus tentang film India

Sejak kapan Anda senang dengan film India?

Mungkin, sejak film India muncul di televisi, kira-kira gampangnya seperti itu, awal-awal tahun 90’an. Dan sebagian kuceritakan di buku (Aku & Film India Melawan Dunia ) itu. Tapi, sebenarnya dibanding film-film lain tidak terlalu istimewa. Artinya gini, aku dibentuk oleh film-film seperti yang kubilang tadi bahwa aku dibentuk oleh kebudayaan-kebudayaan popular yang membesarkan ku. Aku dibentuk oleh musik dangdut, oleh rock Malaysia, oleh ludruk, oleh cerita-cerita ludruk, oleh cerita-cerita ketoprak di radio, oleh film-film.

Tidak hanya film India, tentu saja aku menonton film Mandarin, nonton film Hollywood, aku menonton film-film Indonesia yang diputar di desa-desa dan terutama di televisi. Tapi, bahwa kemudian kurasa ada perasaan yang khas dari film India terutama karena dia sangat minim dibicarakan. Sementara dia exist, dia disimak, dia ditonton, dan yang menontonnya bukan anak kelas kecil atau segerombolan hipster. Ada khalayak yang besar, yang diam-diam, mungkin karena tidak bisa menulis, tidak punya akses, akhirnya kemudian tidak terwakili. Kurasa itu sedikit alasan kenapa aku kemudian menulis film India, memperlakukannya berbeda dengan film-film jenis lain yang pernah ku tonton.

Film India adalah salah satu jenis film yang bisa dikatakan sulit diakses. Untuk Anda sendiri bagaimana mengakses film India terutama sebelum menjamurnya internet?

Aku memulai Dushmanduniyaka ketika aku bisa mengakses film-film dari internet. Karena itu jauh lebih memudahkan. Karena sebelumnya itu sangat sulit. Film India sangat sulit didapat bahkan dilapak-lapak bajakan di mana aku bisa dapat film Hollywood apapun, film-film festival apapun, film Indonesia yang baru maupun yang tua. Karena, sebelum kemudian aku menulis ulasan-ulasan tentang film India, aku menghabiskan  sebagian waktu liburku untuk mencari dan menonton film. Kupikir koleksiku tidak sedikit. Di antara koleksi-koleksi itu tentu saja yang paling minimal adalah film India. Karena aku memang tidak menemukannya. Aku rajin mengelilingi lapak-lapak film-film bajakan baik di Jogja maupun di Jakarta. Aku biasa secara berkala ke Glodok, Mangga Dua, Ambassador, Ratu Plaza, dan film yang paling sulit dicari adalah film India. Jadi bahkan di level black market pun, film india sulit diakses.

Sementara pada saat yang sama aku tahu masa penggemar film India ini besar. Jadi, betapa mereka sangat terdiskriminasi oleh banyak hal. Film India tidak masuk ke bioskop, film India sulit sekarang di televisi, atau setidak sangat minimal. Kalaupun ada, film itu-itu saja. Tentu saja itu semua andil dari betapa brengseknya film di tempat kita. Dominasi dan monopoli satu grup tertentu terhadap jenis film tertentu.  Hal yang sama membuat film dan perfilman Indonesia sendiri menderita, apalagi film India. Jadi kupikir, aku menyediakan diri untuk membela pihak yang paling tersingkirkan, kira-kira begitu.

Wah, jadi banyak juga ternyata masa penggemar film India?

Aku tahu, karena aku bergaul dengan mereka, aku besar dengan mereka, dan di daerahku ini adalah subkultur yang dominan.

Apakah Anda pernah ditawari riset untuk film India di Negara asalnya?

Aku tidak pernah menerima tawaran itu. Mungkin banyak orang yang menyarankan entah sekolah, entah riset, entah melancong. Tapi, tentu saja aku lebih suka duduk menonton film daripada jalan-jalan untuk foto ini-itu.

Seandainya ada pihak yang menawari riset tersebut apakah anda mau terima?

Mungkin aku pelajari dulu apa tawarannya.

Selain sastra dan film India, Anda juga aktif menulis tentang sepakbola. Apa alasan anda juga turut aktif menulis tentang sepakbola?

Menulis bisa dibilang hampir satu-satunya ekspresiku bicara dengan orang karena aku relatif terbatas secara pergaulan, dan kurasa menulis adalah caraku bicara pada banyak orang. Dan, tentu saja aku menulis hal-hal yang ku sukai. Sepakbola adalah salah satu hal yang sangat kusukai, selain film, selain musik. Karena aku punya skill menulis atau setidaknya seperti itu, ya kenapa tidak. Selebihnya aku nggak tahu, mungkin ikutan yang lain. Tapi awalnya seperti itu, kenapa aku menulis sepakbola.

Adakah tema-teman lain selain sepakbola, sastra, dan film India, yang diam-diam ternyata Anda tulis?

Aku pernah menjadi ghost writer, aku pernah menjadi editor yang hampir menulis, aku pernah menulis buku-buku pelajaran jadi mungkin teman-teman bisa mencari tahu. Aku tidak ingat beberapa. Mungkin  aku menulis untuk banyak hal. Meskipun begitu, tentu saja aku jauh lebih suka menulis sesuatu yang ku sukai. Itu artinya aku juga menulis hal-hal yang aku tidak sukai.

Seperti apa hal-hal yang tidak Anda sukai?

Ada lah tapi nggak enak kalau kusebutin. Misalnya, kalian tidak akan percaya kalau aku pernah menulis buku pelajaran tentang Pancasila dan Kewarganegaraan. Nah itu aja gambarannya.

Itu kira-kira tahun berapa?

Masa lalu lah.

Sudah tidak Ingat?

Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu.

Anda begitu sering membuat ulasan-ulasan mengenai film India. Akan tetapi tidak demikian dengan sastra. Mengapa Anda tidak membuat opini, ulasan, ataupun esai mengenai bertemakan sastra?

Nggak tahu, aku nggak mengerti penjelasannya. Apa ya, Aku bingung juga. Sama halnya, seperti aku mencintai film Indonesia namun sudah tidak menulis tentang film Indonesia, kira kira seperti itu. Mungkin aku malas saja. Aku nggak punya penjelasan. Mungkin suatu saat.

Selama ini Anda menulis tentang sepakbola, pengamat film India, dan juga sastrawan. Untuk Mahfud sendiri, lebih nyaman dikenal sebagai sosok Mahfud yang mana?

Aku akan sangat nyaman dan paling nyaman disebut sebagai pengarang.

Alasannya?

Itu tampak kemudian menjadi jauh lebih cocok secara psikologis bagiku, pertama. Kedua, itu membuatku tidak dibatasi. Jadi karena aku pengarang, aku bisa mengarang apapun. Mungkin hari ini aku menulis tentang sepakbola kemudian tentang film India, siapa tahu nanti aku menulis tentang musik biar tampak keren seperti teman-teman di WARN!NG. Mungkin aku menulis tentang warung kopi. Siapa tahu aku tiba-tiba jatuh cinta denga kuliner. Menurutku itu tampak menjadi mungkin dan enak kalau aku menyebut diriku sebagai pengarang.

Dari buku-buku yang sudah dipublikasikan karya mana, yang paling berkesan bagi Anda?

Tentu saja Ulid. Karena itu yang pertama. Bagiku, ada pemeringkatan atau nggak, Ulid adalah pergulatan hebat dari seorang yang sehari-hari hidup sebagai buruh. Ulid adalah hiburan, pelarian, ectasy, meskipun kemudian sempat menjadi semacam kutukan. Kutukan karena prosesnya yang sangat rumit dan panjang. Aku menulisnya nyaris secara simultan selama enam tahun. Itu sangat menghantui, setidaknya setiap aku tidak memikirkan pekerjaan atau setiap pekerjaan itu tampak tidak menyenangkan. Tentu saja dari Ulid kemudian aku memulai yang lain. Aku bersyukur mempunyai Ulid. Karena itu membuatku seimbang secara emosional.

Maksudnya bisa seimbang secara emosional seperti apa?

Itu upaya pekerja kantor yang bekerja delapan jam, kupikir itu bukan duniaku yang paling ideal, dan Ulid membuatku merasa seimbang. Merasa aku tidak hanya mencari makan, kira-kira begitu. Aku juga berekreasi, aku juga berimajinasi, aku juga melarikan diri, aku juga membuat dunia yang berbeda, dunia yang mempunyai sekat baik emosional maupun yang bisa membuatku setidak membelah diri. Jadi, satu sebagai buruh, yang kedua sebagai orang merdeka. Karena menulis Ulid adalah kemerdekaanku ketika aku menjadi orang gajian yang harus masuk dan pulang sesuai dengan yang diharuskan oleh industri.

Katanya tadi juga pernah menulis tentang musik juga?

Ya, aku menulis musik karena aku ingin menulisnya. Aku pun pernah menulis tentang islam. Mungkin teman-teman WARN!NG pernah memuat tulisanku tentang dangdut koplo seingatku. Itu mungkin tulisan ku nyaris satu-satunya tentang musik meskipun aku pernah menulis tentang dangdut juga.

Mengapa anda tidak meneruskannya?

Aku menulis sangat didorong semacam intuisi, semacam hasrat yang tidak bisa ditahan lagi. Jadi kalau tiba-tiba aku suatu saat ingin menulis tentang warung kopi, mungkin ya menulis gitu aja. Tapi, ada alasan lain, sebenarnya mengapa aku sangat terbatas menulis musik meskipun aku sangat ingin, terutama karena aku tidak tahu musik. Aku sangat mencintai musik, aku hidup dengan musik, dan aku merasa tidak bisa hidup tanpa musik, tapi pada saat yang sama aku awam. Aku tidak menguasai satu instrumen pun, menyanyi pun buruk.

Anda pernah menulis di linimasa aku Facebook anda, bahwa anda memposisikan diri anda sebagai fans Ucok Homicide. Apa yang membuat anda kagum terhadap seorang musisi seperti Ucok?

Itu mungkin sekitar tahun 2008, itu fase dimana aku juga menyukai Muse, menyukai musik-musik yang gelisah, kira-kira begitu. Dan, di antara musik-musik Indonesia yang tidak banyak mewakili keggelisahanku sebagai buruh atau orang gajian, sebagai orang yang harus taat dengan kaidah-kaidah kapital, musiknya Ucok mewakili itu. Atau setidaknya liriknya, karena aku sulit menikmati musiknya sebetulnya. “Barisan Nisan” itu menurut sangat dahsyat. Aku rasa aku juga punya ketertarikan juga dengan yang lain, meskipun itu kadang sementara, misalnya aku menyukai Efek Rumah Kaca kalau di scene  indie. Aku menikmat The S.I.G.I.T meskipun karena mereka menulis lirik dalam bahasa Inggris. Yang bisa sedikit kumengerti mungkin “Noodle Generation”.

Anda menulis dalam dalam banyak tema dan juga produktif. Apa saran anda bagi penulis untuk tetap semangat dan produktif menulis?

Jangan seperti aku menulisnya. Karena aku seharusnya bisa lebih produktif. Aku banyak membuang waktu. Jadi kupikir kalau aku jauh lebih metodik, jauh lebih teratur, jauh lebih disiplin mungkin aku bisa lebih banyak lagi menghasilkan tulisan.

Sebagai orang yang senang mengulas tentang film India, boleh disebutkan lima film rekomendasi dari Mahfud Ikhwan untuk pembaca WARN!NG?

Agak umum aja ya, coba simak film-film sutradara Anurag Kashyap. Itu rekomendasiku. Teman-teman bisa memulai dari itu.

#Sarapanmusik?

Belakangan aku sedang gelisah dengan negara, aku kembali menyimak lagu-lagu Serj Tankian, terutama di album pertama yang “The Unthinking Majority”. “System of A Down” sudah lama kutinggalkan tapi tiba-tiba ingin mendengarkannya lagi.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response