close

Making Punk A Threat Again

IMG_8507
Black Boots  © Warningmagz
Black Boots © Warningmagz

“Saya bangga petani bisa di sini, tetapi sekaligus saya kecewa, karena hari ini kalian tidak mengancam lagi!” Ungkap Widodo, salah seorang petani Kulon Progo di atas panggung. Praktis, seruan tadi menjadi pukulan telak bagi penonton-khususnya mereka yang percaya punk adalah ancaman.

Sebuah pentas sarat pesan kembali tersaji. kini giliran Pura Wisata menjadi tuan rumah digelarnya Punk&Rock Setara Bergema pada Kamis (3/4) malam. Pasukan-pasukan liar bernama Harboardcrust, KudaBesi, A Sistem Rijek, Sangkakala, dan Blac k Boots menjadi oratornya. Sasaran orasinya? Penyelamatan satwa dan kebusukan korporat.

Harboardcrust memulai jalannya aksi walau penonton tidak terlalu banyak di moshpit. Sedangkan lainnya masih banyak duduk di sekitar taman bermain atau menunggu di luar arena. Nomor “Negeri Pantat” menjadi prolog. Beberapa orang yang berdiri di lantai kotak-kotak itu sontak dibuat bergerak bebas. Aksi atraktif helicopter mosh di lantai dansa yang masih sepi menarik penonton lain untuk ikut berkumpul di depan panggung. Dilanjutkan “Semua Bersaudara” dan “Do It Yourself”. Hingga lagu keenam, sebagai bonus track, “Darah Juang” milik John Tobing dikumandangkan. Sayang penampilan mereka tidak maksimal.

Penampilan singkat Harboardcrust dilanjutkan dengan Kuda Besi. Kali ini penonton mulai merambah ke depan panggung untuk turut berdansa liar dan berteriak keras. Nomor seperti “Realita Jalanan” dan “Jogjakarta Pride” menjadi penghangat di samping tegukan minuman ‘penghangat’ lainnya. Beberapa penonton ikut sing along ketika mic diarahkan kepada mereka. Bahkan Muhammad Hassan (vokal) harus mengambil mic cadangan agar suara penonton ikut bergema. Tinju dan tendangan dari aksi helicopter moshing tidak menjadi masalah karena leluasanya mereka bergerak. Nomor terakhir dari unit hardcore ini, “We Are Family” didaulat sebagai penutup.

Pesta dilanjutkan. Kini giliran  Sistim Rijek menduduki panggung. “Fucked Up Justice, Fucked Up System” menjadi nomor pembuka. Hentakan drum, growl dan scream benar-benar membakar suasana. Kemudian nomor “Hey Kau yang Muda” menghantarkan penonton dalam alunan pogo yang lebih luas. Nomor-nomor lawas macam “Do Not Consume”, “Shake Your Faith”, dan “Survive” tentu sayang dilewatkan hanya dengan berdiam diri tanpa keringat mengalir.

Puas dengan crust punk, panggung bergeser ke heavy metal.  Macanista mulai meraung, menunjukkan tajinya. Panji-panji bergambar macan digelar. Sangkakala, seperti air yang bisa cair di gigs apapun. Aksi mereka dibuka dengan kembang api pada bass Ikbal. Bertepatan dengan itu, nomor “Rock Live at Roller Coaster” jadi santapan lezat. Cabikan mereka berlanjut ketika aksi macan-macanan Baron (vokal) dengan “Gang Bang Glam Rock” turut mengundang semua penonton menjadi predator di moshpit. “Berat sama difficult, ringan sama dijinjing”, ucap Baron ketika memelesetkan peribahasa lawas di akhir lagu. Gempuran Sangkakala berlanjut ketika Baron mengundang WokTheRock naik ke atas panggung. Nyanyian “Hotel Berhala” menjadi jawabannya. Bumbu-bumbu macam “Sangkakala”, “Heavymetalithicum” dari album teranyar, dan aksi kembang api Rudy Atceh (bass) di nomor “Kansas” menambah kelezatan mangsa. Aksi mereka kemudian ditutup dengan “Tong Setan”. Ucapan-ucapan konyol dari Baron selama beraksi tidak menurunkan kegaharan Sang Macan.

Gemuruh perlawanan kembali lagi. Kini giliran legenda punk Jogja, Black Boots, mengokupasi panggung. Kehadirannya sangat dinanti oleh punkers. Telah lama mereka tidak menghajar ketidakadilan lewat nyanyian-nyanyian di panggung.  “Keras Kepala” langsung didendangkan disertai dengan crowd surfing dari depan panggung. Walau banyak yang terjatuh, sesama penonton lainnya saling membantu, sebuah pemandangan yang kerap terjadi di konser punk. Black Boots kembali mengeksekusi perlawanan dengan nomor “Anarki” dan “Ora Gelem”. Sesudahnya hal menarik terjadi di panggung, ketika Manyul (vokal) meminta Widodo, seorang petani asal Kulon Progo, hadir di atas panggung. Langkah sendunya di atas panggung lantas dilanjutkan dengan orasi. “Saya bangga petani bisa di sini, tetapi sekaligus saya kecewa”, ia membuka, “karena hari ini kalian tidak mengancam lagi!” “Kami petani di Kulon Progo akan dibunuh monster penambang pasir besi!” “Apakah kalian berani melawan bersama kami!”. Ia menyampaikan kondisi petani di Kulon Progo yang hidupnya terancam oleh penambang pasir besi. Untuk menyambung orasi Widodo, Black Boots kemudian melantunkan “Polisi Polisi”. Bentuk protesnya kemudian juga dilanjutkan dengan “Bakar Bersama”, “Industri Pabrik”, dan ditutup dengan favorit penonton, “Pogo Anjing”.

Aksi-aksi mereka bukanlah klandestin. Bukan pula secara konkret menjadi oposan dalam partai politik. Malam itu suar-suar ancaman ketidakadilan mulai dibangkitkan. Terlebih ketika, salah satu korban kejahatan korporasi hadir, mengingatkan secara langsung bahwa punk (seharusnya) adalah ancaman. “Apakah kalian berani melawan bersama kami!”[WARN!NG/Yesa Utomo]

 

Sangkakala  © Warningmagz
Sangkakala © Warningmagz
Sangkakala © Warningmagz
Sangkakala © Warningmagz

 

Date : 3 April 2014

Venue: Pura Wisata

Man of The Match : Orasi petani di konser punk, sebuah peringatan menolak lupa bahwa punk adalah ancaman

Warning Level : ***

sangkakala  © Warningmagz
sangkakala © Warningmagz
Black Boots  © Warningmagz
Black Boots © Warningmagz
Black Boots  © Warningmagz
Black Boots © Warningmagz

Video orasi segera kami upload

Tags : black bootspplpsangkakalasistem rijek
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response