close

Malam Penganugerahan dan Daftar Pemenang Penghargaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13

Malam Penganugerahan dan Daftar Pemenang Penghargaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13

Selasa (4/11) lalu, Jogja National Museum Yogyakarta penuh sesak dengan aktor, filmmaker, sutradara, produser, dan penikmat film dari seluruh Indonesia hingga mancanegara. Pelbagai penghargaan di malam penganugerahan Jogja-NETPAC Asian Film Festival diberikan pasca satu minggu penuh perayaan sinema Asia-Pasifik tahunan ini digelar dari 27 November hingga 4 Desember 2018.

Film dokumenter karya Yuda Kurniawan yang berjudul The Song of Grassroots memenangkan NETPAC award, sebuah penghargaan untuk sutradara Asia yang dinilai berhasil memberi kontribusi sinematik untuk gerakan sinema baru Asia. Film ini bercerita tentang Fajar Merah, putra bungsu penyair Wiji Thukul yang hilang setelah kerusuhan 1998. Fajar yang awalnya enggan dihubung-hubungkan dengan sosok ayah yang tidak pernah ia ingat, kini melanjutkan perjuangan ayahnya dengan melakukan musikalisasi puisi-puisi Wiji Thukul dengan kelompok musiknya, Merah Bercerita.

The Song of Grassroots (Yuda Kurniawan, 2018)

Film drama 27 Steps of May karya sutradara Ravi Bharwani dari Indonesia keluar sebagai pemenang Golden Hanoman award. Golden Hanoman adalah penghargaan yang diberikan oleh dewan juri JAFF terpilih untuk film terbaik dari kategori kompetisi film panjang Asian Feature. Drama yang dibintangi oleh Raihaanun, Lukman Sardi dan Verdi Solaiman ini bercerita tentang trauma seorang perempuan yang diperkosa ramai-ramai ketika masih menjadi siswi sekolah menengah. Ini adalah film terbaru Ravi setelah membuat Jermal sepuluh tahun lalu.

27 Steps of May (Ravi Bharwani, 2018)

Peringkat kedua dalam kategori Asian Feature diraih oleh Nervous Translation karya sutradara Shireen Seno dari Filipina. Film yang bercerita tentang kondisi Filipina pasca kediktatoran di tahun 1988 ini dianugerahi Silver Hanoman award. Film ini adalah satu dari 15 proyek inagurasi Biennale College Cinema di Venice International Film Festival 2013.

Nervous Translation (Shireen Seno, 2018)

JAFF juga memiliki Geber award, yakni penghargaan yang diberikan doleh komunitas film dari berbagai kota di Indonesia untuk film Asia terpilih. Tahun ini, Geber award jatuh ke film Passage of Life karya Akio Fujimoto yang merupakan produksi Jepang dan Myanmar. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga beranggotakan empat orang Burma yang tinggal di Jepang. Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata mengenai cinta yang melintasi perbatasan.

Passage of Life (Akio Fujmoto, 2018)

Film pendek terbaik di kategori Light of Asia diberikan kepada Facing Death with Wirecutter karya Sarwar Abdullah dari Irak. Film berdurasi 36 menit ini bercerita tentang tim teknisi militer dari pasukan Kurdistan Peshmerga yang mempertaruhkan nyawa untuk melaksanakan tugas mereka sebagai penjinak bom dan ranjau yang ditanamkan oleh ISIS.

JAFF Indonesian Screen Awards terdiri dari empat penghargaan, yakni Skenario Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penampilan Terbaik, Sutradara Terbaik dan Film Terbaik. Tahun ini, Skenario Terbaik jatuh kepada Love for Sale karya Andibachtiar Yusuf.

Sinematografi Terbaik dimenangkan oleh Amalia T.S. untuk Aruna dan Lidahnya. Reza Rahadian yang berperan di dalam film terbaru Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume, If This is My Story, memenangkan Penampilan Terbaik. Hanung Bramantyo dianugerahi Sutradara Terbaik untuk karyanya di film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta. Sementara itu, Film Terbaik jatuh kepada Petualangan Menangkap Petir karya Kuntz Agus yang bercerita tentang sekelompok anak kecil yang berusaha membuat sebuah film.

Film pendek terbaik yang dipilih oleh murid sekolah film di Yogyakarta jatuh kepada Grandma’s Home karya Nguyen Hoang Bao Anh dari Vietnam. Film berdurasi 32 menit ini diberi penghargaan Jogja Film Student award.

Malam penghargaan JAFF ditutup dengan penayangan film Thundenek (Her.Him.The Other) karya Prasanna Vithanage, Vimukthi Jayasundara dan Asoka Handagama dari Sri Lanka. Film ini bercerita tentang seorang videograger mantan militan Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE) dalam perjalanannya ke Selatan untuk mencari seorang perempuan dan juga ujian terkait kepercayaan yang ia anut.

JAFF ke-13 berlangsung selama delapan hari dan berhasil menayangkan 148 film dari berbagai negara di Asia. Festival yang berlangsung di Jogja National Museum, Empire XXI dan Cinemaxx ini mengusung tema “Disruption” dengan harapan dapat membawa para penontonnya kepada sejumlah perspektif baru dan segar terkait identitas orang Asia.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response