close

Malang Sub Noise, Melahirkan Denyut Vandalisme Suara

Melawan Kebisingan Kota (Surabaya) (3)
Melawan Kebisingan Kota
Melawan Kebisingan Kota

Kota Malang sebagai salah satu kota yang mulai mendapat sorotan nasional dengan karya-karya ilustratif, sepertinya dirasa kurang mewadahi bentuk seni lainnya. Padahal jauh di pinggiran kota Malang, di tengah-tengah ramainya kancah musik dan perkumpulan menggambar, terbentuk sebuah perkumpulan dengan individu-individu yang memiliki kegemaran dan minat yang sama, yaitu seni instalasi suara. Mereka membentuk sebuah sub-kolektif berisik nan artsy bernama ” Malang Sub Noise “.

Tingkat kebisingan kendaraan umum dan pribadi yang super padat di jalanan kota Malang seperti jadi satu pemantik dan rujukan atas agenda Malang Sub Noise yang diberi judul Malang Sub Noise, Distorsi Lahir Batin. Digelar di rooftop Semeru Art Gallery pada 16 Juli 2016 lalu, event ini diikuti oleh berbagai individu maupun kelompok penggemar kebisingan dari Kota Malang, bahkan dari luar Kota Malang seperti Kota Batu dan Surabaya.

Venue
Uhyeah
Uhyeah

Delapan penampil maju untuk memamerkan respon kebisingan mereka, yaitu: Sarajevo, Melawan Kebisingan Kota (SBY), Ratapan Anjing Liar, Meth12 (SBY), Bergegas Mati, Karnivulgar (SBY), Uhyeah!, dan Womboom (Batu). Sayang sekali acara dimulai setelah maghrib, walaupun dijadwalkan mulai menyuara pukul 3 sore. Menunggu kedatangan para line up adalah alasan molornya acara tersebut. Rooftop Semeru Art Gallery yang malam itu diberi dekorasi artsy sederhana juga terasa cocok untuk acara ini.

Permainan-permainan efek drone, noise, feedback dan efek efek suara lainnya kontan membuat Semeru Art Gallery hari itu menjadi seperti kaleng kosong yang besar berisikan suara berisik. Bahkan gaung berisik dari venue menjalar sampai lingkungan sekitar. Hingga akhirnya venue harus di ubah sedikit untuk berkompromi dengan warga sekitar akibat suara berisik yang dibuat oleh Malang Sub Noise. Memang jenis pertunjukan seperti ini masih belum bisa diterima sepenuhnya oleh warga.

Melawan Kebisingan Kota
Melawan Kebisingan Kota

Noise memang tak akan pernah menjadi karya seni pokok yang bisa dinikmati oleh khalayak ramai, walaupun beberapa pionir seperti Throbbing Gristle. Bahkan band dengan permainan modular seperti Tame Impala dan Spacemen 3 yang saat ini sedang populer, memberi kontribusi besar ke musik Industrial. Noise selalu menjadi happening art sebagai statement atas keadaan masyarakat yang saat ini hanya mempunyai tempat di pembukaan pameran seni maupun pentas tersegmen. Tapi terselenggaranya Distorsi Lahir Batin ini patut diapresiasi karena menjadi tanda bahwa publik pegiat pertunjukan seni alternatif di Kota Malang mulai berdenyut, meramaikan dinamika dan merayakan kebisingan kota itu sendiri.

Dikirim oleh kontributor: Romizan Iqbal

Date: 16 Juli 2016

Venue: Semeru Art Gallery

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery –> Malang Sub Noise “Distorsi Lahir Batin”

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response