close

Masyarakat Literasi Yogyakarta Sampaikan Tujuh Maklumat di Hari Buku Nasional

LBH Yogyakarta

LBH Yogyakarta

Tindakan teror terhadap aktivitas literasi sudah kelewat meresahkan. Yogyakarta yang notabene menyandang predikat sebagai kota pelajar nyatanya tidak luput tertimpa tulah paranoia aparat. Kota yang seharusnya bisa menjadi suaka nyaman bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dimaknai lain oleh otoritas.

Pemberangusan buku kerap kali dibenarkan sebagai upaya menjaga keutuhan NKRI, sementara fakta bicara lain. Buku masih dianggap kebutuhan ke-sekian bagi masyarakat Indonesia. Studi menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 melek literasi dari 61 negara, berdiri di antara Thailand dan Bostwana. Tanpa dicekal pun hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang minat membaca. Periset John Miller punya alasan tersendiri mengapa budaya membaca sangatlah penting. Baginya, masyarakat yang kurang membaca tidak memiliki kepekaan sosial, kekurangan asupan gizi baik batin maupun jasmani, represif terhadap HAM dan martabat, brutal, juga rampus. Tentu pemberangusan yang tengah marak akhir-akhir ini bukan jalan keluar bagi situasi gawat yang tengah dialami oleh masyarakat Indonesia.

Di Yogyakarta sendiri terjadi peristiwa intimidasi oleh aparat terhadap dua penerbit dan satu toko buku. Meski tidak ada penyitaan seperti yang terjadi di beberapa daerah, insiden tersebut sudah merupakan ancaman bagi ilmu pengetahuan. Hal ini disadari betul oleh Masyarakat Literasi Yogyakarta (MLY) yang langsung ambil sikap untuk menandai Hari Buku Nasional yang jatuh pada hari Selasa (17/5) dengan pembacaan maklumat. Berlangsung di LBH Yogyakarta, Kotagede, acara ini turut diisi orasi oleh Guntur Narwaya mengenai Buku dan Hukum, dan Garin Nugroho bertajuk Buku dan Kota.

Menurut Garin, kota Yogyakarta tengah mengalami dua macam krisis, yakni krisis mempertahankan julukan sebagai kota toleransi, juga sebagai kota yang kabarnya memiliki indeks kenyamanan tinggi. Kemerdekaan berpikir adalah daya tarik kota ini khususnya bagi para intelektual. Maka tidak heran apabila penggerak bangsa, hingga tokoh-tokoh besar masa kini banyak lahir dari Yogyakarta. Namun nama baik itu tidak akan melekat lama-lama apabila pemberangusan ini dibiarkan terjadi. Sebagai orang Jogja, Garin merasa perlu mengajak masyarakat untuk menghormati reputasi kota ini sembari membagi trivia bahwa di kota inilah perpustakaan nasional dan usaha percetakan pertama kali didirikan. Buku dan budaya literasi sudah lama jadi bagian dari Jogja, begitu ujarnya.

Lebih daripada itu, Muhidin M. Dahlan dari MLY punya sudut pandang lain dalam melihat apa yang terjadi belakangan ini. “Hal yang menimpa dunia penerbitan buku telah mengganggu inisiatif-inisiatif penting, baik oleh negara maupun masyarakat sipil, yang sedang berusaha meretas upaya rekonsiliasi nasional dan mengungkapkan kebenaran soal pelanggaran HAM berat. Termasuk peristiwa 1965,” demikian ungkapnya. Guntur Narwaya ikut merasai bahwa peristiwa pelarangan buku ini adalah sebuah tragedi yang bergulir pascasimposium 1965 diselenggarakan beberapa waktu lalu. Bagi Guntur, selain melawan akal sehat, tindakan tersebut adalah bentuk penyampaian pesan oleh aparat bahwa kekuasaan rezim tidak bisa diganggu.

Dalam rumusan maklumatnya, MLY menegaskan bahwa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat melalui berbagai media termasuk buku dijamin konstitusi, sehingga perlu dijaga dalam kerangka kebhinekaan sebagai bangsa. MLY juga menawarkan jalur dialog dan diskusi untuk menjembatani silang pemikiran demi memperkaya khasanah pengetahuan, sejalan pula dengan amanat pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Guna memperkuat perlindungan hukum atas pegiat buku dan pembaca, MLY juga mendesak pemerintah dan DPR RI untuk segera merancang UU Sistem Perbukuan Nasional. Maklumat Buku dari Jogja merambah pula ke isu akses arsip negara, bahwa lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia sangat perlu membuka secara bebas arsip negara yang terkait dengan tragedi 1965 dan pelanggaran HAM berat lainnya sebagai upaya meluruskan sejarah. Maklumat kemudian ditutup dengan desakan pada Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk menjalin komunikasi yang sehat dengan elemen-elemen masyarakat yang plural. [WARN!NG/ Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response