close

[Album Review] Matajiwa – Part 1

Matajiwa
Matajiwa
Part 1

Matajiwa – Part 1

Label: Masak Suara Production

Watchful Shot : Inti, Mata Jiwa, The Maze

[yasr_overall_rating size=”small”]

Matajiwa adalah liyan dari segala yang sudah awam di dunia musik Indonesia. Mengada dengan format duo, Matajiwa adalah band bentukan Anda Perdana yang memainkan gitar akustik dan Reza Achman yang memilih drumcussion alih-alih drum biasa. Tidak hanya tentang format, Matajiwa juga memainkan musik psikedelia rock yang semakin menghentak oleh balutan musik etnik Indonesia yang saling sublim apik.

Paket musik enerjik ini konon dibentuk secara mendadak terkait sebuah proyek kompilasi musik, namun energi Anda dan Reza seperti seolah memang dipertemukan. Eksplorasi musik mereka akhirnya menghasilkan album ini, yang merupakan bagian pertama dari album Matajiwa yang mereka rilis. Tujuh nomor di album ini berbicara mengenai banyak hal, mostly tentang hal-hal yang membuat kita lebih merasakan esensi kehidupan. Tentang bagaimana jiwa seharusnya melihat dan merasakan. Terkesan spiritual jika boleh saya bilang, apalagi dengan pattern etnik yang selalu mengingatkan pada ritual tradisional dan terasa dekat dengan alam. Tabik juga untuk penggarapan artwork di album ini.

Seperti judulnya, “The Journey Begins” memulai perjalanan kita menikmati Matajiwa. Menit pertama lagu ini adalah usaha Matajiwa untuk ‘mengaudiokan’ empat elemen dasar (bumi, angin, air dan api) dalam sebuah ritual sederhana menyeduh kopi dan menghisap kretek. Pukulan perkusi yang ritmis dan tiupan flute kemudian menyambung seperti langkah kaki yang mantap dan ketulusan yang mengalir.

“Inti” adalah salah satu lagu yang paling mewakili warna musik Matajiwa. Gebukan drumcussion Reza yang diselingi seru-seruan vokal menghadirkan suasana tribal yang langsung dihajar oleh distorsi gitar Anda dan kemudian menyatu disepanjang sisa lagu. Lagu ini menjadikan matahari sebagai inti kehidupan yang ada di tengah semua yang saling silang berlawanan dan meskipun begitu, tidak pernah menghakimi.

Matajiwa kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis, Portugis, Spanyol, Italia serta Indonesia dan dinyanyikan dalam nomor “Mata Jiwa”. Di nomor ini, terdengar iringan claps panjang dan suara quenacho flute yang dimainkan oleh Carlos Camello. Di nomor keempat, ada “Gili Reggae” yang kental dengan warna musik reggae.

Setelah “Gili Reggae” yang ringan, perjalanan dilanjutkan dengan “1” yang berbicara mengenai ketuhanan dan manusia yang katanya berbeda padahal sama. Jika teliti, intro lagu ini adalah suara ritual keagamaan berbeda-beda yang saling ditumpuk. Namun, walaupun tema yang diangkat cukup berat, iringan trompet dan trombon ala broadway di lagu ini membuat lagu terdengar cukup jenaka.

Kerumitan hidup kemudian disampaikan dalam komposisi rumit dari banyak alat musik di “The Maze”. Tidak hanya memainkan perkusi atau tagani, Reza juga memainkan gamelan di lagu ini. Petikan harpa juga menyuara disana-sini, dilengkapi pula oleh vokal prima Bonita yang ikut menyanyi bersama Anda. “Arise” kemudian mengakhiri bagian pertama album Matajiwa ini.

Experience, expression dan experiment adalah tiga kata yang mendeskripsikan musik mereka. Dan eksperimen itulah yang mungkin membuat Matajiwa selalu menampilkan suguhan yang berbeda tiap kali tampil. Energi spontan yang meledak-ledak di panggung selalu membawa sesuatu yang baru, dan album ini mungkin hanya endapan dari seluruh eksperimen itu. [WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.