close

Melagukan Metafor dalam Diksi di Harmoni Musik Puisi #2

DSC_1306

Mengada sebagai salah satu rangkaian panjang agenda #BookLoversFest yang diinisiasi oleh Radio Buku,  acara Harmoni Musik Puisi #2 cukup menghangatkan Bale Black Box Bantul malam itu (27/04). Panggung sederhana yang didirikan di pelataran rumah baru Radio Buku tersebut menampilkan 8 line-up yang siap melagukan sajak-sajak penuh metafor dalam untaian nada.

Sisir Tanah © Warningmagz
Sisir Tanah © Warningmagz

Bagustian Iskandar membuka penampilan dengan sajak “Catatan Kaki Sehabis Demonstrasi” milik Radar Panca Dahana. Tampil solo dengan gitar akustiknya, 4 sajak dibawakan dengan apik. Bagustian juga sempat meng-cover nomor “7 Hari Menuju Semesta” milik Melancholic Bitch. Hasta Indriyana, Timur Diraja, dan Untung Basuki mengokupasi panggung setelah itu. Untung Basuki yang malam itu tampil ditemani 2 perempuan muda menuntaskan penampilannya dengan 3 puisi yang salah satu sajaknya belum mempunyai judul. Venue yang berada di antara hamparan sawah memunculkan suasana hening yang cukup nyaman untuk sebuah acara perayaan emosi yang terangkum dalam diksi-diksi ini. Sayang sekali, pembawa acara yang bertugas malam itu terlihat kurang menguasai materi.

Sisir Tanah lalu menyambung daftar penampil. Bagus Dwi Danto dan gitar kopongnya mengawali setlist dengan nomor “Bakar Petamu”. Unit ini kemudian menyuarakan “Lagu Wajib”, di nomor ini vokal Bagus yang berkarakter bersanding dengan iringan genjreng akustik yang sederhana. Rentetan lirik panjang  yang menyuarakan kritik pedas terhadap retorika presiden di nomor “Pidato Retak” ditampilkan tanpa menggebu-gebu. Tidak perlu, karena sang empu sudah menyertakan peluru di lirik lagunya.

Telepon genggam diaktifkan/ doa diaktifkan/ harapan diaktifkan/ janji palsu diaktifkan/ hey! ada ranjang masih goyang/  alat kelamin dinonaktifkan/ puisi dicetak rapi/ mahasiswa mogok makan/ langit kota wangi polusi/ kere merapatkan diri/ nasi diaduk dengan air mata/ sepagi itu sarapan api/ Tuan dan Nyonya belajar logika sudah sampai mana?” tanya Sisir Tanah mengakhiri penampilannya.

Merah Bercerita tampil setelah Assarkem yang membawakan 3 nomor. Band yang dimotori oleh putera dari  Widji Thukul ini mengawali penampilan dengan musik bernuanasa keroncong. 2 puisi Wiji Thukul yang dimusikalisasikan di awal adalah “Seumpama Bunga” dan “Bunga dan Tembok”. Puteri pertama Thukul juga hadir malam itu, dan ikut membacakan puisi “Dalam Keabadian Kebenaran Membatu” setelah sebelumnya Fajar melagukan “Derita Sudah Naik Seleher”. Seruan menolak lupa diteriakkan dengan lantang.

Final acara ini diserahkan pada unit Kontemproduk yang membawakan puisi-puisi milik Chairil Anwar dengan nuansa rock dan blues. “Suara Malam” dinyanyikan Fj Kunting (vokalis) sambil memegang rokok. Selain itu, Kontemproduk juga melagukan “Pelarian”dan “Aku Berkisar di antara Mereka”. Sebelum penampilan terakhir ini, Fairuzul Mumtaz dari Radio Buku sempat mengajak seluruh hadirin melantangkan puisi “AKU” milik Chairil Anwar. Sebuah pertunjukkan yang memberikan alternatif mengapresiasi puisi dengan cara lain. Acara #BookLoversFest sendiri masih akan berlangsung sampai 23 Maret 2014 dengan banyak agenda lainnya.[Wan!ng/Titah Asmaning]

Merah Bercerita © Warningmagz
Merah Bercerita © Warningmagz

Event by: Radio Buku

Date: 27 April 2014

Venue: Bale Black Box, Radio Buku Bantul

Man of The Match: Sisir Tanah dan Merah Bercerita

Warning level: •••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.