close

Melihat Kembali Festival Film Dokumenter

ffd

ffdFestival Film Dokumenter ke-14 telah resmi ditutup pada Sabtu (12/12) lalu. FFD 2015 menjadi acara ketiga yang sukses diselenggarakan dalam rangkaian Bulan Sinema Jogja. Mayoritas acara digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Sementara itu, auditorium IFI-LIP Yogyakarta dan dusun Tembi juga turut menjadi tempat penyelenggaraan seminar dan Masterclass.

Masterclass merupakan program peranakan dari Schooldoc. Elise McCave (BRITDOC), Debra Zimmerman (Woman Make Movie), Kim Dong-Ryung (American Alley), dan Chalida Uabumrungjit mengisi acara Masterclass tahun ini. Selama 3 hari, 8 proyek film dokumenterdikembangkan dan berfokus pada pengembangan cerita dan presentasi. Proyek berjudul Ombak Asmara karya George Cornellis didapuk sebagai proyek terbaik Masterclass 2015.

Semua acara tersebut berjalan di bawah tema “Re-Defining” yang diusung. Dari sini, FFD 2015 mengajak kita untuk mempertanyakan kembali identitas kita di tengah masyarakat. “Tema ini mewakili lingkup pribadi kita yang saling bersinggungan dan secara tidak langsung turut mempengaruhi definisi diri sendiri,” jelas Ayu Diah Cempaka, Koordinator Program FFD 2015.

Program kompetisi FFD 2015 diikuti oleh 133 film yang terdiri dari 11 dokumenter feature, 96 dokumenter pendek, dan 26 dokumenter pelajar. Angka ini merupakan rekor peserta terbanyak yang pernah mengikuti program kompetisi FFD. Film-film tersebut kemudian diseleksi menjadi 3 film dokumenter panjang, 6 dokumenter pendek, dan 5 dokumenter.

Pemenang dari setiap kategori diumumkan pada malam penutupan FFD 2015. Tanah Mama garapan Asrida Elisabeth menjuarai kategori film dokumenter panjang.Sementara Wasis meraih penghargaan dokumenter pendek terbaik. Untuk kategori pelajar, Korban Bendung Manganti dipilih sebagai pemenangnya.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response