close

Membaca Film Secara Politis Lewat Forum Film FISIPOL

poster-up_oke
Forum Film Fisipol
Forum Film Fisipol

Sebagai mata acara Dies FISIPOL UGM ke-61, Forum Film FISIPOL (FFF) hadir mulai Kamis, 10 November nanti. Dipayungi tema besar “Kita Berhak Damai”, FFF akan menempatkan film sebagai pengantar diskusi bagi isu sosial dan politik penting di tanah air. Dengan demikian, terjalin komunikasi antara masyarakat kampus, pekerja seni, aktivis organisasi non-pemerintah, dan berbagai kalangan lainnya. Forum ini adalah ruang alternatif bagi film-film bertema sosial politik yang tidak masuk jaringan bioskop besar atau ruang-ruang publik karena ancaman pembubaran.

Pemutaran akan digelar selama tiga hari, 10 hingga 12 November 2016. Dengan dua sesi di setiap harinya. Sesi pertama dilangsungkan pada pukul 13.00 WIB, bertempat di Ruang BA 201, FISIPOL UGM. Sedangkan, sesi kedua mengambil tempat di Kedai Kebun Forum, Tirtodipuran pukul 19.00 WIB. Kali pertama ini, FFF menetapkan fokus pada Papua sebagai special program. Pada puncak acara di Hari Sabtu, 12 November 2016, sesi pertama akan memutarkan film-film arahan sutradara dari tanah Papua sendiri yang dipersembahkan oleh Papuan Voices dari Engage Media. Sementara, sesi kedua akan diramaikan oleh diskusi film berlatar Papua Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) yang bakal dihadiri Garin Nugroho selaku sutradara film tersebut.

Lewat rilis yang diterima WARN!NG, Dr. Erwan Agus Purwanto selaku Dekan FISIPOL UGM menyatakan, “FFF adalah kombinasi antara ekspresi seni dan intelektualitas. Sebuah ajang yang menjadi penanda kemajuan kehidupan masyarakat epistemik yang memiliki kepedulian tinggi, maju, dan demokratis.”

FFF ialah wujud komitmen FISIPOL UGM untuk menjadi ruang diskusi yang  aman, nyaman, inklusif, dan properdamaian. Dalam forum ini, isu-isu yang enggan dibahas publik coba dibicarakan. Menggunakan medium film, FFF mengajak audiens untuk peka dan kritis terhadap isu-isu di sekitar. Melalui rangsangan audio-visual, diharapkan audiens bisa menyadari bahwa banyak hak-hak masyarakat yang belum dipenuhi dan bahkan dilanggar. Medium film dipilih sekaligus untuk membuktikan bahwa film bukan sekedar hiburan yang ditonton sambil lalu. Bagaimanapun, film dipengaruhi oleh situasi sosial politik dan persepsi pembuatnya terhadap dunia. Penonton dipersilakan menilik isu-isu sosial politik yang ada di masyarakat dan membudayakan dialog untuk mendalami isu-isu tersebut.

“Selama tiga hari (10-12 November 2016) pengunjung festival akan disuguhi film-film terpilih yang mengangkat persoalan etnisitas, ras, seksualitas, tanah dan tapal batas yang merentang dari Indonesia hingga Suriah. Ini karena sinema senantiasa mampu menyalakan pijar perdamaian serta menyentuh sensibilitas kemanusiaan kita lewat kekuatan audio visualnya”, ujar Budi Irawanto selaku kurator Forum Film FISIPOL.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Tempat yang terbatas bisa segera diklaim melalui link goo.gl/u93u7v. Untuk rincian tema dan skedul perharinya, silakan cek akun Instagram @forumfilmfisipol. Mari menonton, berdiskusi, dan berdamai!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response