close

Membedah Questioning Everything!

QE

Setelah melalui pelbagai tanya jawab dengan beragam tokoh kreatif, WARN!NG Magazine akhirnya menelurkan sebuah buku kumpulan wawancara terbaiknya.

questioning everything © Oktaria Asmarani
questioning everything © Oktaria Asmarani

Sorot lampu berwarna merah dan kuning yang jatuh di atas panggung seolah meminta perhatian orang-orang yang memadati Auditorium Institut Français Indonesia – Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta pada Kamis (17/3) lalu. Dibuka oleh Christine Moerman selaku Direktris IFI-LIP Yogyakarta, Peluncuran & Bedah Buku Questioning Everything! pun dimulai tepat pada pukul 19.00 WIB. Tak lama berselang, Mengayun Kayu pun datang dan membawakan empat buah lagu di atas panggung. Ruangan pun semakin padat oleh orang-orang, bahkan beberapa di antaranya rela duduk lesehan di depan panggung, atau di tangga-tangga dalam ruangan tersebut.

Bedah buku dimulai enam puluh menit setelah acara dibuka. Kiki Pea selaku moderator dalam acara ini mulai memperkenalkan diri dan juga tiga orang lain yang duduk bersamanya di atas panggung. Mereka adalah Tomi Wibisono dan Soni Triantoro selaku penulis buku Questioning Everything!, serta Risky Sasono sebagai salah satu pembicara. Bedah buku ini diawali dengan pertanyaan mengapa kedua penulis berniat untuk menulis buku ini. “Pengen aja. Selagi masih muda dan masih dimaklumi kalau salah,” ucap Tomi dengan ringkas. Setelah jawaban itu, diskusi pun mengalir tanpa hambatan.

Questioning Everything!:Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja adalah sebuah buku kumpulan wawancara yang sebagian besar isinya sudah pernah dimuat di WARN!NG Magazine. Buku ini berisi wawancara Tomi dan Soni bersama 27 tokoh kreatif di tanah air, dari Remy Sylado, Joshua Oppenheimer, Seno GumiraAjidarma, Puthut EA, Sheila on 7, Bumblefoot, sampai Anti-Tank. Selain itu, buku ini juga memuat ilustrasi-ilustrasi dari 16 perupa. Ada alasan di balik format wawancara transparan (Q&A) yang digunakan dalam buku ini. “Apa sih yang lebih otentik dalam sebuah proses jurnalistik selain wawancara? Selain transparan, format ini lebih efektif digunakan dan tentunya bias mendekatkan pembaca dengan sang narasumber sendiri,” tutur Soni tanpa ragu.

bedah buku ©  Warningmagz
bedah buku © Warningmagz
mengayun kayu ©  Warningmagz
mengayun kayu © Warningmagz

Buku yang diharapkan diterima di pangsa pasar anak muda oleh kedua penulisnya ini ditanggapi secara netral oleh Risky Sasono. Baginya, selain format Q&A membuat buku ini semakin kaya isu dan memuat banyak cerita, buku ini juga dianggap memiliki kesan lain. “Sesuai judulnya, ‘mempertanyakan segalanya’, isi buku ini terlihat mbleber kemana-mana,” jawabnya jujur.“ Namun, memang format seperti ini sangat strategis karena semua narasumber dapat berbicara banyak dan terbuka,” lanjutnya.

Penonton yang memenuhi auditorium pun ikut menanggapi diskusi yang terjadi di atas panggung. “Bukunya kelihatan menarik, setelah ini bakal langsung beli,” tukas Prameswari yang juga berkesempatan untuk bertanya kepada pembicara saat sesi tanya jawab dibuka. Dijumpai bersama seorang temannya setelah acara berakhir, ia mengaku masih ada kekurangan dalam acara ini. “Mungkin kalau nanti ada acara seperti ini lagi, kayaknya harus cari tempat yang lebih besar deh. Soalnya tadi sempat nggak kebagian tempat duduk juga di awal acara,” ungkap perempuan asal Surabaya ini dengan senyum.

deugalih ©  Warningmagz
deugalih © Warningmagz
sisir tanah ©  Warningmagz
sisir tanah © Warningmagz
Gusti Arirang X Dita Permatas (2)

Selesai dalam satu setengah jam, bedah buku kemudian dilanjutkan oleh penampilan Gusti Arirang, salah satu personil dari Chick and Soup, yang berbagi panggung bersama Dita Permatas. Acara ditutup oleh petikan gitar dan suara merdu Sisir Tanah yang tak disangka juga mengundang seorang kawannya untuk tampil di panggung. Ia adalah Galih, vokalis Deugalih & Folks yang pada akhirnya turut menyumbangkan dua buah lagu secara spontan. Salah satunya adalah lagu “Tanahku Tidak Dijual” yang dinyanyikan dengan energi meluap-luap. Sisir Tanah sendiri juga menampilkan salah satu lagu barunya berjudul “Lagu Damai”. Maka tepuk tangan dan teriakan penonton mengakhiri keseruan dan riuh rendah malam itu lengkaplah sudah.

[Dikirim oleh kontributor: OktariaAsmarani]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response