close

Mempermainkan Hati di Lelagu#10

BprtcMICQAMRutB

Seperti sedang makan kacang segala rasa Bertie Bott!, Lelagu malam itu mencampurkan line-up dengan suasana musik yang berbeda-beda. Membolak-balikkan mood penonton, dari yang sendu, unyu, sampai yang khidmat penuh renungan.

Sampai di perhelatan ke-10, Lelagu semakin mematangkan konsep acaranya. Selain konsisten menghadirkan perupa yang tampil live berkarya bersama dengan penampil musiknya, venue juga mendapat hiasan ekstra. ‘Mendua’ adalah tajuk edisi ini. Kali ini Lelagu menghadirkan line-up banyak rasa dengan personil dua orang. Kedai Kebun masih menjadi venue acara bulanan yang digelar malam itu (13/06).

Duo Half Eleven PM membuka dengan suasana sendu dan cerita-cerita tentang penolakan dan pengucilan diri. Nomor-nomor seperti “Apologi” dan “Roar of The Moon” terasa menyayat. Apalagi ketika di nomor “Roar of The Moon”, Millyarto, menimpali vokal sang kekasih dengan lolongan serigala.

Setelah dibuat merasakan perihnya kesedihan dan perasaan tertolak, giliran hangatnya musik Chick and Soup menyuara. Tampil berdua, Chick and Soup terlihat berhasil mengambil hati penonton dengan penampilan malu-malu unyu dan nomor-nomor seperti “Chicken Soup”, dan “Afternoon Favorite”. Mereka juga sempat menggunakan bubble blower untuk membangun suasana di lagu “Chicken with a Bubble Gun”.

Duo cellist yang namanya mulai banyak didengar publik Jogja lalu mengokupasi venue lewat gesekan cellonya. Bad Cellist, yang terdiri dari Alfyan Emir dan Jeremia Kimoshabe membuka setlist dengan “Tuxedo Mouse”. Kenakalan mereka mengeksplorasi cello mampu membangun berbagai mood sekaligus. Beberapa lagu lain juga dibawakan bersama aksi Eldeath yang memainkan cat air di screen.

Sisir Tanah lalu memuncaki acara. Vokal berkarakter dari Bagus Dwi Danto dan gitar kopongnya membawa suasana khidmat di venue. Melalui nomor-nomor seperti “Lagu Baik”, “Lagu Wajib”, “Bebal”, “Pidato Retak” dan “Konservasi Konflik”, Sisir Tanah mampu membius penonton yang sebelumnya cenderung merespon dengan riuh menjadi bisu. Tenggelam dalam komposisi musik dan renungan dari liriknya yang lugas namun puitis, ringkas namun dalam, penuh makna walaupun kadang absurb. Methodos yang berbagi venue berulang kali mengungkapkan ‘kekalahan’nya merebut perhatian melalui coretan kalimat di screen. Setelah pamit, Sisir Tanah menambahkan “Kita Mungkin” untuk meuruti permintaan ekstra dari penonton yang tidak rela ditinggal pergi.

Kolaborasi musisi dan perupa di satu venue dengan suasana akrab yang interaktif selalu menghadirkan pengalaman menonton yang unik. Menyenangkan mengetahui acara dengan konsep seperti ini bisa bertahan dan bahkan semakin matang. [Warn!ng/Titah Asmaning]

Event By:

Date: 13 Juni 2014

Venue: Kedai Kebun Forum

Man of The Match: Mood yang dibangun masing-masing performer dan penampilan Sisir Tanah

Warning Level: ***1/2

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response