close

Menerjemahkan Folk dalam Kebebasan

DSC_0886

Kalau anda kira musik folk hanya identik dengan ukulele, gitar akustik atau xylophone, maka anda mestinya datang ke pertunjukan ini. Folk Freedom Exploration, adalah tur sederhana yang membawa penontonnya menjelajah dunia folk yang lebih luas dan lebih kaya. Kultur afrika, china, islandia, dan nusantara dirangkum dalam 9 komposisi yang ditampilkan di IFI-LIP Jogja (13/01). Pertunjukkan yang juga merupakan tugas akhir mahasiswa etnomusikologi ISI ini menampilkan 9 nama yang masing-masing mengeksplorasi folk dengan berbeda-beda.

Priyanto Adi © Warningmagz
Priyanto Adi © Warningmagz

Priyanto Adi mengawali tur dari tanah jawa. Tiupan suling sunda dan genjrengan cuk mengiringi tembang “Yen Ing Tawang Ono Lintang” yang menggabungkan folk dan keroncong. Legit. Hanya jeda sebentar lalu Sabri Ar-Rasyid dan teman-temannya naik ke panggung membawakan ”Bamboo Underlight”, sebuah musik instrumental apik yang mengingatkan penonton pada adegan melankolis di film-film kungfu klasik.  Setelah mendayu-dayu dengan tiupan suling China, Aurelia Marshal mengokupasi panggung dengan irama perkusi yang menghentak-hentak. Memainkan jimbe sambil menari bak kerasukan di ritual pemujaan, pemain ukulele di band Aurette and The Polska Seeking Carnival ini juga mengecat tubuhnya khas Afrika. Total.

Farit Husada kemudian melakukan musikalisasi puisi “Sajak Suara” milik Wiji Thukul dengan iringan musik gambang kromong eksperimental. Terdengar seperti atmospheric sound yang unik. Paduan folk melayu dan dinginnya Islandia selanjutnya dibawa Dhima Datu ke panggung. Sebuah komposisi berjudul “Fantasize” memainkan mood penonton dengan sentuhan musik post-rock dengan tempo yang naik turun. Aris Setyawan kemudian memadukan gamelan bali, gebukan drum dan raungan gitar psychedelic dalam komposisi berjudul “Elora Enlightment”. Suasana bollywood yang kejawen kemudian menyuara oleh komposisi Antonius Ibnu, disambung dengan Anamira Sophia yang memainkan saxophone. Mira sempat meng-cover lagu “Aksi Kucing” dengan nuansa keroncong yang manis. Lalu Danang Sri Surya menutup pertunjukan dengan full set gamelan, menghadirkan musik reog yang megah dan angker.

Aurelia Marshal © Warningmagz
Aurelia Marshal © Warningmagz

Folk Freedom Exploration mungkin memang pertunjukan kecil dan sederhana, jumlah penontonnya pun tidak bisa dibilang ramai, tapi pertunjukkan ini terasa istimewa karena sangat kaya. Tidak hanya mengkolaborasikan banyak kultur, penggunaan alat musik yang beragam seperti chimes, udu pot, akordeon, suling china, dan kulintang sungguh menghadirkan nuansa folk yang berbeda. (Warn!ng/Titah Asmaning)

Danang Sri Surya © Warningmagz
Danang Sri Surya © Warningmagz

Event by: Etnomusikologi ISI

Date: 13 Januari 2013

Venue: Auditorium IFI-LIP Sagan

WARN!NG level: •••

Man of The Match: penggunaan alat musik yang  unik dan sangat beragam

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response