close

Mengawang-awang di Suara Awan

DSC_1232
Suara Awan © Warningmagz
Suara Awan © Warningmagz

Project rahasia Banda Neira dan Gardika Gigih yang beberapa waktu lalu sempat ditanyakan Warn!ng terbongkar sudah. Menggandeng 4 musisi lain, Suara Awan sukses “menerbangkan” kerumunan manusia malam itu (26/04). Adalah Banda Neira, Gadika Gigih, Layur, Alfian Emir Aditya, Jeremia Kimoshabe dan Suta Suma yang menciptakan sayap imajiner dari permainan musik mereka.

Jika benar momen-momen terbaik tidak pernah menemukan diksi yang tepat, sebenarnya review ini tidak akan berhasil mendeskripsikan konser malam itu. Venue outdoor Amphiteather Tembi, suara malam dari pasukan choir hewan-hewan sawah, bintang malam di atas kepala dan suara-suara reverb indah dari 10 nomor yang mereka bawakan adalah kombinasi maut untuk menciptakan salah satu malam ter-syahdu di Jogjakarta tahun ini.

Nomor  instrumental “Are You Awake?” milik Layur menjadi titik awal konser malam itu. Banda Neira dan penampil lainnya satu-persatu mengambil posisi dibalik senjata mereka masing-masing. Warna unik vokal Layur yang sebelumnya hanya bisa didengar di soundcloud mewujud langsung malam itu. String chamber attack dari Alfian Aditya, Jeremi dan Suta lalu mengawali “Kereta Senja”. Nomor gubahan Gardika Gigih yang aslinya nirvokal ini mendapat lirik dari Banda Neira. “Pernahkah kau sedekat ini.. kuberlari.. kuberlari..”

Sementara suara hewan sawah dibelakangnya menjadi backsound alami, konser dilanjutkan dengan “Hujan di Mimpi” yang menjadi lebih ceria dengan sentuhan elektronik di musiknya. Layur juga sempat menambahkan atmospheric sound riuh cicit burung di nomor “Matahari Pagi” dan debur ombak di “Hal-hal yang Tak Kita Bicarakan”.

Divisi string kembali melakukan serangan di nomor “Hujan dan Pertemuan” melalui petikan senar cello Alfian Aditya ditambah dan liukan nada indah dari biola Suta Suma. Mood lalu naik saat seluruh instumen dimainkan dengan tempo cepat di nomor  “Tenggelam”. Dan kembali syahdu dalam nuansa akustik di musikalisasi puisi Chairil Anwar “Derai-derai Cemara”. Beberapa kali lighting hanya disorotkan ke sawah yang ada di belakang panggung, menghadirkan visual yang menyatu dengan musik-musik malam itu.

Suara Rara Sekar dan Ananda Badudu kemudian bersahutan di nomor “I’ll Take You Home” yang manis. Konser yang minim gimmick ini juga minim sing along. Sampai akhir setlistpun, penonton mungkin sibuk menekuri keharuan hatinya masing-masing. Pun saat semua instrumen dan humming indah Rara Sekar menyatu di nomor (yang sebenarnya) terakhir “Suara Awan”, penonton seperti raga kosong yang hanya bisa terpaku sementara jiwanya sudah diatas sana melayang syahdu.

Gagal berpamitan dengan iringan lagu “Berjalan Lebih Jauh”, 7 orang penampil ini akhirnya menuruti permintaan penonton dan kembali ke alatnya masing-masing untuk menambah nomor “Di Atas Kapal Kertas” dan “Are You Awake?” yang diulang lagi.

Project yang diawali pertemuan mereka di dunia maya ini masih akan berlanjut. Ditanyai tentang rencana konser kolaborasi selanjutnya, Gardika Gigih menjawab “Rencana kami memang pengen main di kota lain, terutama Bandung. Tapi baru impian dan entah kapan akan kesampaian. Yang jelas pengen banget ke sana”. Namun tetap saja, pendengar dan penggemar mereka di kota lain boleh iri dengan Jogjakarta yang menjadi penonton pertama konser Suara Awan ini.    [Warn!ng/Titah Asmaning]

Gadika Gigih, Banda Neira © Warningmagz
Gadika Gigih, Banda Neira © Warningmagz
Banda Neira © Warningmagz
Banda Neira © Warningmagz
String Champer © Warningmagz
String Chamber © Warningmagz

Event by: Sorge & Forum    Musik Tembi

Date: 26 April 2014

Venue: Amphiteather Tembi Rumah Budaya

Man of The Match: Perpaduan musik dan suasana venue yang sangat menyatu

Warning level••••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.