close

Mengayun Kayu: Dentingkan Desau Resah Suara Terbungkam

akar-pijar-dan-mengayun-kayu-4
mengayun kayu
mengayun kayu

Baru-baru ini, panggung musik independen Yogyakarta kedatangan satu lagi musisi menarik; manis minimalis secara penampilan dengan piano elektrik yang selalu menemani, namun di saat yang sama pedih dan “besar” pula jika dilihat dari segi lirik dan musikalitas. Adalah Ayu Saraswati—dibantu teman-teman Kolektif Ruang Gulma—yang menjadi nama di balik Mengayun Kayu, sebuah projek kesepian sekaligus kegelisahan yang dalam sendunya justru kokoh mengayun dan melawan.

Mengayun dan kayu kiranya adalah perpaduan yang unik untuk sebuah nama panggung. Bermain seorang diri, gelap, dan sendu, Ayu Saraswati menghantarkan suara pianonya merambati kesedihan, menyuarakan ketidakadillan, dan menghidupkan harap; sebagaimana konsep projek ini sendiri yang mengajak orang-orang tersisih untuk dapat mengayunkan kayu—bukan untuk menghancurkan lawan, namun demi melindungi diri. Kadang serupa kayu rapuh, kadang serupa kayu penopang bangunan, begitulah kira-kira filosofi di balik kata mengayun dan kayu yang digunakan.

Di usianya yang masih seumur jagung, yakni enam bulan, Mengayun Kayu terbilang cukup produktif. Lima lagu folk bernada sendu tapi berlirik “garang” sudah tercipta dan dirilis secara sederhana, tak sedikit juga panggung musik yang telah disambanginya. Dan sesuai dengan filosofi awal Mengayun Kayu, kelima lagu tersebut—“Perempuan”, “Sembunyi”, “Gegas”, “Racun”, dan “Pilu”—adalah benar suara sunyi kaum marjinal. Misal pada lagu perdana, “Perempuan”, yang mengisahkan perempuan-perempuan yang sering ditindas dan diremehkan, atau “Gegas” tentang perhempasan ruang, tentang event kreatif yang dibubarkan oleh oknum tak bertanggung-jawab. Setiap lagu dibawakan dengan apik, dengan beragam nuansa dan kesan yang dihasilkan; kadang ceria yang naas, kadang sedih yang penuh harap. Kendati begitu, not-not minor yang mengundang awan hujan rasanya memang tak bisa dipisahkan dengan Mengayun Kayu.

Proses penciptaan dan rekaman lagu-lagu Mengayun Kayu dapat dikatakan cepat. Dibantu oleh Bodhi—salah satu penghuni kolektif Ruang Gulma—untuk pembuatan lirik, Ayu berfokus pada aransemen. Jika kebetulan lirik dan aransemen yang ditemukan pas, dalam tiga hari satu lagu sudah dapat tersusun. Kemudian perekaman secara mandiri di “laboratorium seni” Ruang Gulma pun dilakukan. Saat ini, dengan segala kesederhanaan yang dijalani Mengayun Kayu, Ayu mengaku merasa sudah cukup dan sudah bahagia.

Jelas Ayu, sebenarnya ia tidak ada cita-cita untuk menjadi besar. Keinginan untuk membuat album jelas ada, dan memang sedang dirancang untuk itu. Namun Ayu yang menargetkan awal tahun 2017 untuk rilis albumnya, memilih setia dengan label independen. Ia memang lebih senang bekerja dengan orang-orang yang berkomunitas, sebab sejalan dengan idealisme Mengayun Kayu yang erat dengan kritik sosial. Seperti Leonard Cohen atau Sisir Tanah yang menjadi inspirasi Mengayun Kayu, seperti itu pula projek ini ingin menjadi; sembari memegang alat musik, entah gitar yang dikalungkan atau piano yang didentingkan, ketika itu juga kritik dilakukan. “Kalau nyanyi cuma untuk hepi-hepi doang, kayaknya ada yang kurang,” tegasnya.

Tergabung dengan beberapa projek lain seperti Talamariam dan Rioria tak menghalangi Ayu untuk produktif bersama Mengayun Kayu. Misalnya saat ini sedang digarap lagu barunya yang berjudul” “Rubah”. Lagi, lagu tersebut diharapkan dapat menyuarakan keresahan orang banyak, khususnya kaum tersisih. “Selalu ada kritik dalam lagu, inginnya seterusnya bisa kayak gitu terus,” jelasnya. Dan terutama—menyoal harapan untuk Mengayun Kayu—Ayu ingin projek ini tetap ada dulu. Sesederhana itu. [WARN!NG/Christina Tjandrawira]

photo by: aditya adam

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response