close

Menjinakkan Cadas di Lelagu #3

_MG_9312

Mungkin ini yang terjadi saat seorang pawang mencoba menjinakkan hewan liar, atau seorang ibu menyuruh anak nakalnya untuk tidur siang. Lelagu #3, malam itu (13/09) adalah sang pawang dan sang ibu atas nama-nama band yang tampil di lantai dua Kedai Kebun Forum. Setelah di acara Lelagu sebelumnya Kanaltigapuluh selaku inisiator acara ini tidak membuat tema, “Terlambat Tobat” di Lelagu #3 khusus diusung untuk menantang band-band cadas untuk bermain secara akustik. Konsep acara Lelagu sendiri sebenarnya adalah penampilan akustik dan perupa gambar.

 Pethek Sutrisno © Warningmagz
Pethek Sutrisno © Warningmagz

“Terlambat Tobat” sendiri menggambarkan pengadaan Lelagu #3 yang terlambat dua bulan setelah seharusnya setiap bulan diadakan. Namun sepertinya tema acara ini juga menggambarkan molornya acara. Baru pukul 19.30, The Frankenstone menyuarakan “Spend Away” sebagai nomor pembuka Lelagu #3. Di belakangnya, screen yang sebelumnya bergambar tengkorak di kertas putih mulai bertambah rumit. Pethek Sutrisno, selaku perupa mengiringi The Frankenstone membawakan 7 lagu mereka dengan coretan-coretan serupa monster dan lainnya. Tampak The Frankenstone mencoba mematuhi sang pawang untuk tidak liar. Lagu-lagu ‘keras’ mereka menjadi sedikit ramah.

Setelah hening sesaat, Damien n Rosemary muncul menggandeng Aurel Marshall dan Aris Setyawan, 2 personil band folk asal Jogja, Aurette and The Polska Seeking Carnival. Ruh ATTPSC sepertinya merasuk, 4 nomor yang dibawakan mendapat sentuhan folk yang sangat nyaman didengarkan. Lirik nakal di nomor “Joni” pun membuat penonton cekikikan. “Boys boys boys when boys kissing boys is allright.. girls girls girls when girls kissing girls is allright”. Nico, sang vokalis terlihat sangat santai. Cerita-cerita di balik setiap lagu Damien n Rosmary dikisahkan di sela-sela lagu.  Sementara itu, Onyen Ho si juru gambar untuk penampilan kali ini juga mencuri perhatian penonton. Menggunakan mika bening yang ditumpuk-tumpuk, Onyen Ho berhasil membuat latar berupa gambar yang rumit dan jenaka. “Penyembah Gulo lan Kopi” adalah salah satu kalimat yang sempat muncul bersama gambar dan lagu yang sedang dimainkan. Penampilan Damien n Rosemary sepertinya merupakan yang paling jinak diantara lainnya.

Seperti sebelumnya, Lelagu #3 memuaskan nafsu penonton. screen panggung yang dibuat secara live merupakan konsep brilian. Ditambah lagi, memilih untuk menghadirkan dan ‘memaksa’ band-band cadas untuk bermain akustik merupakan sebuah tantangan besar yang pastinya membuat penasaran. Tidak heran ratusan orang berhasil dikumpulkan di venue, memenuhi ruangan dan stand-stand merchandise yang berjejer diluar ruangan. Pun belum ikut terhitung jumlah para pendengar yang live streaming di kanaltigapuluh.info

Muncul ketiga, band eksperimental yang biasanya selalu bising dengan noise yeng menghuru-hara, SeekSixSick. Membawakan 7 nomor, SeekSixSick sepertinya tidak tahan untuk tunduk pada peraturan. Tetap liar, tetap bising, dan tetap melengking. 2 nomor andalan, “Sunshine” dan “Bestfriend” yang dibawakan terakhir tetap dipenuhi noise dan headbang seluruh personil. Kedai Kebun memanas. Apalagi ditambah Wisnu Auri yang sedari tadi mencoret-coret berlembar-lembar halaman dengan liar. Namun goresan spidol yang cepat dan tidak teratur itu malah terlihat menyatu dengan penampilan SeekSixSick. Menyudahi penampilannya, penonton diserang dengan gebukan drum selama sekitar satu menit. Tepuk tangan panjang disuarakan. Walaupun melenceng dari konsep akustik Lelagu #3, para penonton sepertinya mengerti, SeekSixSick sudah berusaha menjadi jinak malam itu.

Salah satu band yang paling membuat penasaranpun akhirnya muncul. Sangkakala memang sangat ditunggu. Akan seperti apa band cadas yang biasanya tidak bisa diam alias ‘pecicilan’ di panggung ini ketika harus memainkan lagu-lagunya secara akustik. “Selama 8 tahun, Ini pertama kalinya sangkakala tampil akustik lho. Kalau ini berhasil, sangkakala akan ganti format untuk seterusnya..” canda Baron sang vokalis. “Hotel Berhala” menjadi nomor pertama yang dimainkan secara akustik. Koor “Hoi! Hoi! Hoi!” dari para macanista –sebutan untuk fans sangkakala- di Kedai Kebun menambah panas suasana. Sampai di nomor ketiga, Sangkakala akhirnya memberdayakan drummernya kembali. “Kansas”, salah satu lagu andalan Sangkakala dinyanyikan dengan penuh perjuangan untuk ‘anteng’. Penonton sudah ikut berteriak menyanyikan lirik “Kami anak nakal suatu saat akan sadar..” dan Rudy, yang tampil dengan celana pendek ciri khasnya sudah tidak tahan dan mulai berdiri dan melakukan gerakan-gerakan yang lebih bebas.

Di nomor pamungkas, gemuruh lagu “Tong Setan” menyuara di seantero ruangan. Gebukan drum, raungan gitar, betotan bass, dan lengkingan vokal dari Sangkakala seolah sedang mengaku kalah, menyerah tidak sanggup mengikuti peraturan Lelagu #3. Di belakangnya, Ahmad Oka memimpin headbang dengan gambar kepala macan yang mengangguk-angguk seru di screen. Sorak sorai penonton menggema, klimaks, konsep akustik buyar sudah.

Kontradiksi, mungkin itu yang dirasakan para penguasa panggung yang biasanya semena-mena ini. Ketika ditanya rasanya harus tampil ‘anteng’ di Lelagu #3, Baron vokalis sangkakala hanya menjawab dengan satu kata “Angel”, yang artinya susah. Sungguh sebuah pertunjukan yang menantang. Lelagu #4 sudah dijanjikan akan diadakan bulan depan dengan tema yang berbeda.

Mengakhiri review ini, sepertinya ada dua kesimpulan yang memungkinkan. Pertama, Lelagu #3 telah membuat definisi baru untuk konsep akustik di sebuah pertunjukkan. Atau kedua, Lelagu #3 bisa dibilang gagal untuk menjinakkan para anak nakal yang biasa bermain liar tersebut. Anda yang menentukan. Untuk saya, Lelagu #3 dengan gagalnya sangat berhasil membuat sebuah acara yang seru, bergema dan tidak mudah dilupakan.

Review dikirim oleh Titah Asmaning W (@butetoo)

Sangkakala © Warningmagz
Sangkakala © Warningmagz

Gigs Documentation Here ! -> Lelagu #3 : Terlambat Tobat

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response