close
anti tanks

 

merah bercerita © Warningmagz
merah bercerita © Warningmagz

“Jangan diam dia hancurkan…. Diam sama saja mati.” Petikan lirik  ‘Jangan Diam Papua’ oleh Ilalang Zaman ini mampu menggambarkan semangat konser Menolak Lupa malam itu. Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta dibakar dengan hentakan musik yang menuntut keadilan.

AJI, KONTRAS, IKOHI, dan Anti Tank, menjadi aktor dibalik terselenggaranya panggung bertajuk Menolak Lupa ini. Bukan lagi sebatas hiburan, konser ini adalah wujud aksi menolak diam, menolak tunduk, dan menolak lupa terhadap segala bentuk ketidakadilan HAM. Salah satu tuntutan konser ini adalah penuntasan kasus Udin, Sang Wartawan yang dibunuh karena berita.

Ruang penonton sudah mulai sesak ketika AJI merilis video “Lagu Untuk Udin” milik Kepal SPI. Video yang diharapkan mampu menggugah tekad penonton untuk bersama-sama menuntut penuntasan kasus Udin. “Tuntaskan Kasus Udin Sekarang Juga,” menjadi seruan bersama yang mengudara malam itu. Turut hadir pula malam itu adalah Marsiyem, wanita yang dipaksa menjanda atas dibunuhnya Udin, Bapak dari anak-anaknya. Dalam ketegaran yang coba ia bawakan, tampak jelas bahwa tuntutan akan keadilan itu belum lenyap dari dirinya.

Siasat © Warningmagz
Siasat © Warningmagz

 

Ilalang Zaman didaulat untuk memulai orasi  melalui musiknya. Nomor “Jangan Diam Papua” menjadi orasi pertama untuk menolak diam. Dilanjutkan dengan nomor “Merajut Badai” yang dibarengi dengan penayangan video blokade warga yang diterjang aparat. Orasi Ilalang Zaman lantas diakhiri dengan nomor “Kalimantan” yang dibarengi dengan pemutaran video konflik di Rembang. Mengingatkan secara langsung, bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Bahwa ditengah euforia pemilihan presiden, represi negara sedang terjadi di banyak tempat. Sabina Tipani, sang vokalis terasa sangat emosional malam itu. Meski dalam liriknya dia mengatakan “air mata tak lagi menggugah nurani”, tapi olah vokal dan pembawaanya malam itu terasa mampu menikam nurani.

Turun dengan tepukan riuh penonton, Ilalang Zaman kini digantikan Siasat. Mengenakan kaos oblong yang kumal, bersendal jepit dan topi rimba lusuh, duo Siasat telah siap berorasi. Nomor musikalisasi puisi berjudul “Surat Cinta Buat Presiden” jadi sindiran yang cukup pedas. Sindiran yang ia alamatkan untuk para politisi yang umbar janji dengan lidah mati. Orasinya malam itu dilanjutkan dengan nomor “Menolak Lupa” dan “Daftar Nama”. Permainan gitar yang renyah nan rapat dipadu dengan vokal dan lirik yang menggelitik membuat aksi Siasat dihujani tepukan penonton.

Malam penuh tuntutan masih berlanjut. Kini giliran Merah Bercerita mengokupasi panggung. “Apa Guna” menjadi nomor pertama mereka malam itu. Dilanjutkan dengan “Bom Waktu” dan diakhiri dengan nomor “Kebenaran Itu Pasti Menang”. Di sela-sela aksi mereka, Fajar Merah (Vokal) seolah tak henti menyampaikan kabar buruk bagi penguasa.

Malam lantas ditutup dengan orasi Kepal SPI yang membawakan tiga nomor. Dibuka dengan “Lagu Untuk Udin” yang diiringi visualisasi videoklip yang terpancar di screen. “Siapapun pemenangnya, penggusuran akan tetap terjadi” ungkap sang vokalis sebelum memainkan nomor kedua,“Pengangguran”. Mereka menutup aksi lewat “Bunga Tembok” yang berkolaborasi dengan Fajar Merah.

merah bercerita © Warningmagz
merah bercerita © Warningmagz

Venue yang hanya dihiasi satu banner bermuatan tuntutan tak lantas membuat konser ini kehilangan semangatnya. Pun begitu dengan kuantitas penonton yang tidak terlalu ramai—karena venue yang kecil—keintiman tetap terasa. Satu hal yang cukup disayangkan adalah tidak munculnya Banda Naira yang sedianya turut  bergabung dalam aksi. Namun begitu, Konser Menolak Lupa sukses menjadi sebuah pentas musik sarat pesan. Kecil namun, tetap sangat berarti.  (Umar Wicaksono)

anti tank
Kepal SPI © Warningmagz
Kepal SPI © Warningmagz

Event by: AJI Yogyakarta

Date      : 26 Juni 2014

Venue  : Amphiteater TBY

Man Of The Match          : Penghayatan mendalam para penampil, di sebuah konser kecil sarat pesan

Rating   : !!!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.