close

Menyeberangi Sungai Air Mata

url
url

Judul Buku      : Menyeberangi Sungai Air Mata

Penulis             : Antonius Sumarwan, SJ

Penerbit           : Kanisius, Yogyakarta

Tahun              : 2007

Tebal               : 404 halaman

Dengan diputarnya film Senyap karya Joshua Oppenheimmer di berbagai tempat di Indonesia, para penonton diingatkan kembali akan sejarah kelam bangsa Indonesia di tahun 1965. Senyap yang merupakan kelanjutan film The Act Of Killing juga memunculkan berbagai pro dan kontra. Tidak sedikit organisasi massa yang membubarkan acara pemutaran film itu. Saya sendiri merasa beruntung karena memiliki kesempatan untuk menontonnya tanpa ada gangguan dari pihak luar. Jujur saja, pembubaran yang dilakukan oleh organisasi massa tertentu ini menjadi simbol bahwa masyarakat Indonesia belum siap untuk sebuah proses rekonsiliasi nasional menyangkut konflik kemanusiaan yang terjadi di tahun 1965.

Berbicara mengenai rekonsiliasi nasional, saya teringat akan sebuah buku. Buku ini mencoba mengangkat cerita-cerita para eks tahanan politik 1965. Buku tersebut berjudul Menyeberangi Sungai Air Mata. Buku karya Anonius Sumarwan, SJ ini adalah sebuah hasil pertemuan dari sebuah mata kuliah teologi rekonsiliasi dan perjumpaan dengan para mantan tapol ’65 yang keduanya dialami oleh sang penulis. Bersama keenam rekannya, dia menelusuri jejak-jejak yang masih membekas di hati para korban. Penderitaan para korban yang terlalu miris untuk dilupakan, perjuangan mereka untuk bertahan hidup yang terlalu berharga untuk tidak dikisahkan, dan harapan mereka akan rekonsiliasi bangsa yang terlalu mulia untuk tidak didukung dan diwartakan telah mendorong Romo Marwan –begitu ia dipanggil—, untuk menuliskannya dalam buku ini. Bersama para korban mereka kembali menyusuri sejarah kelam prahara politik tahun 1965.

Dalam bukunya ini, Romo Marwan menceritakan bagaimana perjuangannya dan keenam rekannya dalam mencari informasi tentang peristiwa prahara politik 1965 itu dari para mantan tapol. Pada bagian pertama dalam bukunya, Romo Marwan menuliskan tentang bagaimana latar belakang dia bersama rekan-rekannya melakukan wawancara yang sering mereka sebut sebagai kuliah proyek. Didorong oleh rasa keingintahuan dan aneka tuntutan sebuah mata kuliah, maka mereka melakukan kuliah proyek ini.

Bagian kedua dalam buku ini berisikan tentang kisah-kisah tragis dari para korban sendiri. Kisah mengenai mereka dapat menerbangkan imajinasi kita tentang gambaran sebuah kekejaman, kekerasan, dan kebiadaban pemerintah yang telah semena-mena memberi luka, baik fisik maupun batin kepada mereka. Pengalaman dan kisah dari para korban bisa membongkar mitos pengucilan para mantan tapol ’65 yang ada dalam kesadaran kita, yang menindih, merepresi, dan menghalangi cita-cita persatuan dan kesatuan. Romo Marwan menunjukkan kejeliaannya dalam merangkai kisah-kisah dari para mantan tapol ’65 yang sangat butuh untuk didengarkan. Terlebih, Romo warman juga menyisipkan refleksi pribadinya atas apa yang dialami oleh para korban di sela-sela cerita dari para korban. Begitu banyak emosi, rasa miris, kasihan, dan trenyuh mewarnai refleksi Romo Marwan. Salah satu kisah menarik di dalam buku ini adalah kisah hidup Ibu Mamik yang mengalami penyiksaan secara fisik dan psikologis hanya karena dianggap terlibat dalam salah satu organisasi yang berhubungan dengan PKI. Kisah mulai dari penangkapannya sampai pada interogasi dan kehidupannya di penjara. Kisah Ibu Mamik ini hanyalah satu dari sekian ribu kisah korban yang tidak pernah muncul ke permukaan. Banyak rakyat kecil seperti petani pedesaan yang setiap hari bergelut dengan lumpur di sawah, dicap komunis dan terpaksa menjadi korban yang tidak lagi diperlakukan seperti manusia. Padahal, mereka sendiri sebenarnya tidak menahu tentang PKI. Mereka seakan menjadi tumbal dari kepentingan politik tertentu. Bahkan, sekalipun mereka anggota PKI, tidak semestinya hak dan martabat mereka direnggut secara paksa demi kepentingan politik semata karena pada dasarnya hak asasi manusia adalah anugerah Tuhan. Hak itu selalu ada selama manusia hidup dan tidak dapat dipengaruhi oleh ideologyi atau hal lain.

Pada bagian ketiga, Romo Marwan menyuguhkan kisah para korban dengan kontekstualisasi pada hidup sehari-hari di zaman sekarang. Kita disuguhi semacam renungan tentang nasib para korban pada zaman ini yang masih butuh untuk didengarkan. Meskipun peristiwa itu sudah lewat lebih dari 42 tahun, para eks tapol dan keluarganya masih dianaktirikan oleh pemerintah dan masyarakat sampai sekarang. Berbagai tindakan diskriminasi masih terjadi mulai dari sulitnya mencari pekerjaan sampai pada urusan menguburkan tulang belulang para korban pembantaian karena cap PKI masih menempel pada diri mereka. Ditulis juga tentang sebuah usaha rekonsilisasi nasional yang telah diupayakan namun gagal di tengah jalan. Permintaan maaf telah dilontarkan, namun untuk sebuah rekonsiliasi, permohonan maaf saja belum cukup. Ia harus diselimuti pertobatan yang radikal dari institusi-institusi atau orang-orang yang menyadari diri pernah berlaku sebagai penindas kemanusiaan.

Buku ini dengan sistematis disusun secara mengalir sehingga pembaca dapat menikmati dan mendalami kisah dan refleksi yang ada di dalamnya. Buku ini mampu mengajak pembaca untuk lebih kritis dalam melihat sejarah dengan melihatnya tidak hanya dari satu sudut pandang saja sehingga pemahaman dan pendalaman akan sejarah bisa lebih obyektif dan holistik. Buku ini juga tidak hanya berhenti menawarkan kisah para korban, tetapi juga mencoba mengangkat wacana untuk rekonsiliasi sosial secara nasional untuk mengembalikan hak-hak mereka yang hilang secara paksa. Mereka tidak ingin efek dari peristiwa itu terus berimbas bahkan sampai ke generasi-generasi berikutnya yang tidak tahu menahu tentang peristiwa ini. Romo Marwan seolah sadar betul bahwa sebuah sejarah memiliki peran sentral bagi suatu bangsa. Jas Merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah), begitu kata Soekarno.

Bagi kalian kaum muda, buku ini penting untuk dibaca karena bisa menjadi sebuah sarana pengingat agar tidak terjebak dalam pemahaman sejarah yang salah. Buku ini sangatlah layak dan patut dibaca bagi mereka yang peduli akan nilai kemanusiaan yang sungguh berharga untuk diperjuangkan karena buku ini memberi kesan mendalam dan reflektif mengenai para korban sehingga mendorong minat untuk terus menceritakan kisah mereka. Upaya rekonsiliasi masih terus diupayakan. Dengan menceritakan kisah mereka, kita bisa ikut ambil bagian dalam upaya tersebut. Pertanyaannya: Siapkah kita untuk rekonsiliasi?

ulasan ini dikirim oleh: Yulianus Febriarko

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.