close

Menyingkap Realitas Saudara dari Timur Bersama Papuan Voices

Papuan Voices

Papuan Voices

Engange Media, organisasi nirlaba yang berfokus pada media, teknologi, dan budaya, paham betul bagaimana signifikansi peran medium audio visual yang tersambung jaringan internet untuk menghimpun kepedulian sosial guna menciptakan perubahan. Menjalin kerjasama dengan para sineas independen, jurnalis, aktivis, sampai teknikus, organisasi ini memiliki aspirasi untuk menyediakan mimbar bagi isu lingkungan, sosial, serta komunitas marjinal. Salah satu program yang kini sedang dikerjakan bertajuk Papuan Voices.

Papuan Voices adalah kanal informasi yang dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia—yang sehari-harinya dijejali berita berat sebelah soal pulau paling timurnya. Pembingkaian berita oleh media yang seringnya tidak adil, mendorong Engage Media untuk menyelami lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di Papua. Sudah dikerjakan sejak tahun 2011, program ini adalah gabungan dari upaya pemberdayaan dan produksi audio-visual. Hingga saat ini telah terunggah 25 video dengan berbagai tema, seperti kesehatan, konflik lahan, akses pendidikan, HAM, dan isu-isu lain yang tidak sempat diangkat oleh media arus-utama.

Papuan Voices

Engage Media menggunakan metode partisipatoris, berbeda dengan jenis kegiatan advokasi lainnya. Organisasi ini langsung terjun ke lapangan, mengadakan lokakarya produksi video bagi aktivis Papua guna memberikan kesempatan menceritakan kisah mereka sendiri secara langsung pada dunia. Hasilnya adalah kisah-kisah personal dengan kedekatan emosional nan menyentuh.

Sebut saja sebuah video 7 menit berjudul Love Letter to the Soldier yang disutradarai Wenda Tokomonowir. Seorang perempuan muda menulis surat pada Samsul di Bandung sembari memangku anaknya yang terlahir berkulit lebih cerah di antara yang lainnya. Di balik sekelumit kisah sederhana tersebut ternyata tersimpan fakta menyakitkan. Kelompok Gereja Katolik JPIC MSC mencatat dari tahun 1992 sampai 2009 setidaknya ada 19 kasus kekerasan seksual oleh TNI Penjaga Perbatasan pada perempuan-perempuan Desa Bupul, Merauke. Mereka dirayu, dihamili, diabaikan, bahkan beberapa diperkosa.

Namun kenyataan pahitnya, cerita yang beredar soal Papua hanya dibingkai menggunakan seputar perjuangan politik rakyatnya untuk merdeka. Ketika seorang pemuda Papua menyerang TNI karena sang tentara telah melecehkan adik perempuannya, aksi pemuda itu bakal dicerna sebagai bentuk separatis, baik oleh pers maupun pemerintah Indonesia. Sementara tentara tadi bebas, pemuda Papua ini akan diganjar dakwaan penistaan negara.

Dari gambaran soal video di atas, program Papuan Voices berusaha menjembatani celah yang terhampar di antara realitas Papua dan perhatian masyarakat dunia. Ketidaktahuan yang terganjal hambatan politis, geografis, keuangan, dan minimnya teknologi dari tanah Papua kini tidak bisa lagi jadi alasan. Seluruh kumpulan informasi audio-visual dapat diakses cuma-cuma dengan beberapa klik saja. Video, pemaparan kegiatan, serta profil program dapat diakses melalui laman Engange Media dan Papuan Voices. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response