close

Meraung Harmonisasi Jagat Kehidupan

raung ajagt
Raung Jagat
Raung Jagat

Walaupun di luar hujan rintik, namun aura hangat menyelimuti keheningan malam itu ketika proyek perdana dari Kebun Binatang Kelas yang bertajuk Raung Jagat dimulai. Setelah sebelumnya puluhan orang menunggu karena ruang yang tersedia terbatas, Raung Jagat siap mengakomodir rasa penasaran pengunjung. Raung Jagat merupakan presentasi hasil lokakarya kelas pertama yang dipimpin oleh Rully Shabara. Acara dibuka dengan kata sambutan oleh Satya Prapanca selaku produser dan perwakilan Kebun Binatang Film.

Apa yang terbesit di benak ketika membayangkan paduan suara ekperimental? Benar saja, siapa pun bakal dibuat tercengang menyaksikan penampilan paduan suara tanpa instrumen musik selama satu jam. Sebelas orang peserta yang terdiri dari; Agra Locita, Hendra Adytiawan, Dwi Setianto, Made Dharma, Stufvani Gendis, Akbar Adi Wibowo, Muthia Bunga, Hilman Fathoni, Rangga Nasrullah, Anie Wijaya, dan Doly Husada, yang merupakan peserta terpilih dan bersedia mengikuti kelas perdana ini. Tim produksi tampak sudah sangat mempersiapkan presentasi lokakarya ini dengan menyiapkan perekam audio dan visual hampir di seluruh sisi ruang segi empat itu.

Terlihat kesungguhan dari raut penampil yang berdiri setengah melingkar dengan gurat cahaya kuning dari atas mereka, ketika Rully Shabara selaku dirigen mulai menaikan tangan tanda mulai. Seketika suara satu mulai dari sopran, alto, tenor dan bass hingga seterusnya menjalankan tugasnya. Para penonton yang berjumlah sekitar 90-an orang hanyut oleh untaian timbre dan teknik suara semacam desis, hentakan, rintihan dan teriakan. Seakan ingin mewakili dari setiap denyut kehidupan yang terjadi saat ini. Dengan artikulasi yang jelas seperti simbol kebisingan suara mesin kendaraan, tentu selama ini masyarakat rasakan, merupakan pesan yang ingin disampaikan bagaimana harmonisasi kehidupan antara ruang alam dan metropolitan yang saling tumpang tindih tak tahu arah.

Makna lain yang tersirat dalam presentasi lokakarya ini, seperti kritik sosial saat salah satu peserta dengan intonasi yang lancang meneriakan nama seorang tokoh pejabat lokal, yang mungkin merupakan buntut dari terindikasinya tokoh tersebut terhadap tindak kejahatan korupsi namun tetap dikemas dengan apik yang disusul dengan lantunan suara piring pecah, telepon, anjing dan monyet menambah genting haru emosi dalam ruangan itu. Menafsirkan bagaimana kita sebagai sebagai masyarakat yang tumbuh dalam kebimbangan dengan permasalahan lingkungan baik aspek sosial ataupun alam.

Meski diucapkan secara spontan, lirik seperti “Helikopter!” dan “Plastik!” bisa dikaitkan dengan kondisi lingkungan sosial. Lihat saja saat ini ketika manusia modern dituntut untuk selalu efektif dan efisien, namun di lain sisi mereka tak menyadari dampak lingkungan yang tercipta. Pengucapan kata atau kalimat seperti ini juga merupakan bagian dari simbol-simbol yang seakan ingin disampaikan oleh para peserta lokakarya.

Pada nomor lain, terdapat sisipan lantunan lirik yang beras mantra dandapat dikorelasikan dengan kondisi masyarakat yang bejat sekaligus kritik terhadap nilai-nilai kearifan budaya masyarakat yang terus terkikis oleh budaya asing. Keadaan sosial itu merupakan satu dari sekian makna yang ingin disampaikan presentasi lokakarya ini. Seakan teguran dengan cara yang tak biasa bagi para penonton yang hadir malam itu dan ditutup oleh Rully Sabhara yang menjelaskan bahwa paduan suara eksperimental ini merupakan bentuk ekspresi bebas terhadap sistem yang terjadi saat ini dan siapa pun bisa membaca simbol-simbol makna dalam teks ini dan memaknainya secara subyektif. Patut ditunggu akan seperti apa paduan suara ekperimental dikesempatan berikutnya yang ingin disampaikan oleh Kebun Binatang Kelas ini. [Dadan Ramadhan]

 

Date        : 29 Desember 2014

Venue    : Kedai Kebun, Yogyakarta

Event by : Kebun Binatang Kelas

Man of The Match : Helikopter! Plastik!

WARN!NG Level : !!!!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response