close

Meredam Bising Kereta: Pesta Ambient Di Bengkel Bubut

Artmosf
today  © Warningmagz
Today © Warningmagz

Mungkin tidak ada yang spesial dari sebuah bengkel las bubut yang telah lama bangkrut dan meninggalkan ruangan kosong beserta isinya. Sampai sekelompok anak muda dari kota Depok yang tergabung dalam D’Jahat Crew mengubahnya menjadi sebuah venue gig.

Sabtu (4/4) malam itu bertempat di Bengkel Las Bubut Dipo Kereta Citayam berlangsung sebuah pesta kecil bertajuk Meredam Bising Kereta Vol.01. Pemilihan tema merujuk pula dari lokasi bengkel yang berada persis disamping rel kereta Jakarta-Depok-Bogor.

Bisingnya suara kereta yang hilir mudik hampir setiap beberapa menit berpadu dengan beberapa penampil yang malam itu didominasi oleh musik-musik ambient. Walaupun sempat diguyur hujan pada sore hari, justru hal tersebut menambah keintiman antara para penampil, penyelenggara, dan juga penonton.

Penampilan pembuka adalah solois Rifqi Bapuy yang membawakan cover lagu dari beberapa penyanyi juga band seperti Michael Jackson dan ditutup oleh tembang hits milik Oasis “Don’t Look Back in Anger”. Membuat suasana hangat meruak di tengah-tengah penonton yang masih canggung. Tampil tanpa persiapan tidak membuat Bapuy terkesan kaku, ia terlihat mampu menguasai penonton.

Ruang0Kosong © Warningmagz
Ruang0Kosong © Warningmagz
Kisah Kancil dan Rusa © Warningmagz
Kisah Kancil dan Rusa © Warningmagz
Rifqi Bapuy  © Warningmagz
Rifqi Bapuy © Warningmagz

Setelahnya ada Ruang0Kosong, sebuah proyek solo dari Sigit Nugroho, yang mengambil alih set. Penonton dibuai oleh musik ambient/post-rock yang megah. Seketika suasana menjadi seperti berada di antariksa. Sigit yang juga seorang guru geografi di salah satu SMA di Jakarta Pusat, ternyata menjadikan musiknya ini sebagai bagian dari metode belajarnya di kelas. Ajaib! “Biasanya gue kalau di kelas mainin musiknya dengan proyektor yang menampilkan tata surya nih. Tapi berhubung nggak bawa proyektor, jadi silahkan pejamkan mata dan nikmati,” ujarnya. Ruang0Kosong mengingatkan pada Hammock juga Lowercase Noise.

Dilanjutkan oleh Kisah Kancil dan Rusa, sebuah proyek solo dari Dwiky Mardhianto. Dengan konsep musik fable, ia mencoba menggabungkan unsur musik ambient/ethnic/post-rock dengan konsep bercerita. Sayangnya cerita yang ia bawakan terasa kurang gamblang, karna Dwiky yang seharusnya fokus terhadap musik merangkap pula sebagai storyteller. “Sekarang gua sendirian. Dulu ada cewek yang mengisi storytelling tapi karena… yah sudahlah. Hahaha” ujarnya sebelum memulai set. Meskipun di awal ia mengatakan sempat demam panggung lantaran ini penampilan perdananya di tahun ini dan dengan kondisinya yang seadanya juga, namun hal tersebut tidak nampak setelah setnya dimulai. Dwiky sangat ekspresif sekali menghayati ritme musik yang ia mainkan, tak ada kesan canggung.

Ini adalah penampilan yang paling ditunggu-tunggu, Artmosf, duo eksperimental dari Palembang yang sedang melakukan tur ke beberapa kota di Pulau Jawa. Penonton dibuat penasaran bahkan sebelum mereka memulai set. Kuncinya terletak pada peralatan mereka yang tak lazim yakni satu buah hardcase berisi peranti bunyi yang diproduksi sendiri dan juga satu buah alat musik bernama Tanjak -menyerupai bass namun senarnya terbuat dari batang bambu. Ajaibnya adalah sebelum mulai set, mereka berdua sibuk menimbulkan beragam bebunyian dari alat-alat yang ada di hadapan mereka. Pukul sana-pukul sini. Ternyata hal tersebut adalah bagian dari pertunjukan mereka. “Kami mencoba menangkap suara kosmos,” Novan menjelaskan setelah set berakhir. Selama lebih dari 30 menit, penonton dihantam oleh beragam bebunyian yang gelap, kasar, bising, dan bergema.

Artmosf  © Warningmagz
Artmosf © Warningmagz
venue  © Warningmagz
venue © Warningmagz

Acara ditutup oleh unit punk/oi Today yang harus tampil bertiga dengan bantuan Oka dari CBA untuk memainkan galon sebagai peganti cajon. Tembang-tembang andalan mereka seperti “Hari Ini” dan juga cover lagu dari Slank serta Bob Marley dibawakan secara akustik. Hal tersebut cukup mampu menjadi penetralisir keadaan yang sedari tadi manis dengan musik instrumental. [WARN!NG/ Alfian Putra]

Event by : D’Jahat Crew

Venue : Bengkel Las Bubut, Citayam, Depok

Date : Sabtu, 4 April 2015

Man Of The Match : tempat yang ekstrim dengan musik yang instrumental yang gila.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response